Standarisasi generasi milenial dengan TI & Bahasa Inggris

Nun jauh di sana di kaki Gunung Hambalang, Bogor Timur, ada sebuah sekolah kejuruan (SMK) yang baru berdiri, bernama SMK Almurqoniyah, satu-satunya SMU yang ada di desa tersebut.

HAMBALANG (cestarweb): Sekolah di sini serasa bernuansa pendidikan ala Amerika di mana proses belajar mengajar para siswanya terbilang longar, bebas bermain dan berkreativitas.

Bedanya, uang sekolah di SMK ini murah meriah. Ini masuk akal mengingat hampir 65 persen penduduknya tercatat hidup di bawah garis kemiskinan, meski tiap rumah punya paling tidak satu sepeda motor.

Jangan samakan kualitas pendidikan di sini dengan sekolah-sekolah lain di Jabodetabek, karena SMK Almurqoniyah sudah pasti jauh ketinggalan. Ijin operasionalnya saja baru keluar menjelang akhir tahun lalu.

Seiring adanya persyaratan akreditasi dan standarisasi UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer), akses internet dan pengadaan komputer baru tercapai awal 2018, itupun dengan perjuangan finansial yang morat-marit.

Karena itu, bisa dimaklumi kalau kemampuan siswanya masih jauh dari standar rata-rata.

Sebagai generasi milenial, siswa-siswi SMK Almurqoniyah terbilang gagap dengan teknologi informasi (TI) dan kemampuan berbahasa Inggris, meski ada satu dua orang yang punya smartphone untuk mengakses internet.

Karena Bahasa Inggris termasuk mata pelajaran yang akan diuji dalam ujian nasional, maka mau tidak mau, suka tidak suka, kemampuan siswa di bidang ini perlu distandarkan sejak dini.

Salah satunya, dengan menambah jam pelajaran untuk kelas pengayaan Bahasa Inggris, mirip les privat, hanya saja dilakukan di ruang kelas sekolah tanpa dipungut biaya.

Bagi sejumlah siswa, sama halnya dengan Matematika, pelajaran Bahasa Inggris terbilang mapel killer, sehingga hanya  mereka yang punya kemauan kuat saja yang displin untuk tetap hadir.

IMG_20171028_142118

Dan, untuk mengejar ketertinggalan di bidang IT, cara paling instan adalah memperkenalkan mereka pada teknologi pembuatan blog (blogging).

Dalam hal ini, dipilih WordPress sebagai pembelajaran, karena platform ini paling banyak digunakan di dunia, dan permintaan untuk keahlian bidang inipun cukup tinggi di bursa tenaga kerja.

“Kalian mesti berani mengkutak-katik WordPress, learning by doing, banyak bereksperimen dan menuangkan segala kreasi dan inovasi ke dalamnya,” pesan Alec kepada para siswa.

Cara ototidak, sesuai pengalaman empiris, kerap menghasilkan skilful professional, yang pada gilirannya berbekal keahlian itu, siswa diharapkan bisa membaur dengan pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif.

Dan, untuk siswa yang sekian lama terasing di pelosok jauh dari modernisasi milenial, contoh-contoh blog yang mereka buat berikut, cukup memberikan secercah harapan;

1. https://ramawijaya.wordpress.com/ (Rama Wijaya)
2. https://rohmatullah58.wordpress.com/ (Rohmatullah)
3. https://ariesahhoy.wordpress.com/ (Abdul Haris)
4. https://muhamaderwin717.wordpress.com/ (Muhammad Erwin)
5. https://ilhamr701.wordpress.com/ (Ilham Ramdani)
6. https://deny717.wordpress.com/

7. https://apriliadamayanti24.wordpress.com/ (Aprilia Damayanti)
8. https://nisameliyani05.wordpress.com/ (Nisa Meliyani)
9. https://sitizenab40.wordpress.com/ (Siti Jenab)
10. https://egarramdani.wordpress.com/ (Egar Ramdani)
11. https://enjaysaputra.wordpress.com/ (Enjay Saputra)

12. https://andrisp1945.wordpress.com/ (Andri Septiansyah)
13. https://ramdonislonongboy.wordpress.com/ (Ramdoni)
14. https://desahambalang.wordpress.com/ (Jefri M)
15. https://badar717.wordpress.com/ (Badar Solihin)

16. https://tanni1.wordpress.com/ (Runtani)
17. https://miahmelani.wordpress.com/ (Miah Melani)
18. https://lesta31.wordpress.com/ (Hilda Lestari)


cropped-fb_img_14953036293861


Ali Cestar

Penulis adalah pengamat pendidikan dan berprofesi sebagai tendik di SMK Almurqoniyah, Hambalang.

Advertisements