Berjuang sendiri sejak jaman Belanda, sudah menjadi takdir PT Pos kah?

Tubuhnya mulai ringkih karena dimakan usia. Pandangan matanya sudah tak berfungsi lagi karena operasi katarak yang kurang berhasil. Meski begitu, langkah kakinya selalu tegap berjalan ke masjid setiap azan berkumandang. 

SUMEDANG (cestarweb): Haji Emed oleh tetangga satu RT di bilangan Jalan Kebonkol, Sumedang lebih dikenal sebagai imam masjid.

Lelaki tua kelahiran 1939 itu menjalani masa pensiunnya dengan tabah, meski kezaliman demi kezaliman sebagai buah dari kebijakan pemerintah, terus dia alami.

Dengan uang pensiunan yang tak mencapai Rp1 juta per bulan, Haji Emed merasa PT Pos dianaktirikan oleh pemerintah, karena standar ganda kebijakann status pegawai dan pensiunan PT Pos yang tidak setara dengan BUMN lain seperti PT Kereta Api Indonesia (KAI), misalnya.

Meski sama-sama BUMN, berbeda dari PT KAI yang pegawainya sempat menikmati masa pensiun sebagai PNS ketika jawatan itu berubah status menjadi persero, pegawai PT Pos justru diturunkan statusnya menjadi karyawan swasta.

Dalam sejarahnya, PT Pos telah mengalami beberapa kali perubahan nama.

PT Pos berdiri pada 1931 dengan nama Jawatan PTT. Pada 1962 berubah menjadi PN Postel dan berubah lagi pasca G-30S-PKI 1965 – 1978 menjadi PN Pos dan Giro.

Sejak 1978 hingga 1995, Pos menggunakan nama Perum Pos dan Giro sebelum menjadi PT Pos dan Giro sejak 1995 sampai sekarang sesuai PP Nomor 5 Tahun 1995.

“Dulu setiap laba Pos kami setor ke pemerintah.Kini, loyalitas kami kurang dihargai. Pensiun yang kami terima tidak sampai 30% dari pensiun PNS,” keluh Haji Emed, yang diangkat sebagai pegawai Pos pada 1960.

Dari segi peluang bisnis, PT Pos juga terkesan jauh dari perhatian pemerintah.

Berbeda dari BUMN lainnya seperti Garuda Indonesia, misalnya, yang kerap mendapat suntikan modal meski merugi, PT Pos justru harus berjuang menggali peluang bisnisnya sendiri.

Sejak lesunya arus pengiriman surat dan wesel, PT Pos terus  menggali sumber-sumber pendapatan baru seperti membuka gerai Pospay dan Pos Logistik.

Satu-satunya competitive advantage yang masih dimiliki PT Pos hingga kini adalah kekuatan jaringannya yang menjangkau hingga ke kawasan-kawasan pelosok di Tanah Air.

Kekuatan jaringan inilah yang sering dilirik oleh usaha jasa pengiriman seperti TIKI & JNE, misalnya, yang menjadikan PT Pos sebagai mitra perpanjangan tangan delivery mereka untuk menjangkau pelosok.

Selain kecilnya nilai pensiun, Haji Emed juga merasa dizalimi dalam hal pelayanan kesehatan seperti BPJS.

Oleh PT Pos, pensiunan golongan 3A berpangkat PNMPos itu hanya diberi tunjangan untuk BPJS Rp65 ribu per bulan.

“Karena dirujuk oleh dokter umum ke dokter ahli, harus antre di klinik sekian lama dan ujung-ujungnya harus beli obat sendiri di luar yang harganya di atas Rp100 rb karena BPJS hanya memberi obat sesuai standar pelayanan minimal.

Bahkan ada teman pensiunan saya yang mengalami masalah kesehatan serius yang harus antre berjam-jam di rumah sakit, ujung-ujungnya hanya mendapat obat parasetamol,” tutur Haji Emed yang menjalani pensiun sejak 1995.

Masalah melaratnya hidup para pensiunan PT Pos itu sebetulnya bukanlah isu baru.

Pada 2012, masih jaman pemerintahan SBY, 1.000 pegawai PT Pos pernah menggelar unjuk rasa di Jakarta menuntut kesetaraan hak pensiun dengan PNS lainnya.

Pada tahun yang sama, masalah yang menderita 17.000 lebih pensiunan PT Pos pernah dengan lantang disuarakan oleh Rieke Diah Pitaloka di Komisi IX DPR RI.

Waktu itu, pensiunan PT Pos menerima uang pensiunan terendah Rp230 ribu dan tertinggi Rp780 ribu, bandingkan dengan PNS lain pada level (pangkat & jabatan) yang sama yang menerima terendah Rp1.500.000 dan tertinggi Rp2.700.000.

“Yang diterima Pensiunan Pos Indonesia itu sudah sangat tidak layak. Jauh dari cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari dimana harga sembako meningkat setiap saat. Ini membuat para pensiunan itu tak memiliki daya lagi untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya,” kata Rieke seperti dikutip Beritasatu.com.

Dalam dasawarsa terakhir, gaji PNS sipil maupun TNI/Polri, telah terjadi paling tidak telah mengalami lima kali kenaikan gaji hingga 10% tiap kenaikan.

Namun tidak demikian halnya dengan PT Pos.

Pada 2015, Badan Kepegawaian Negara (BKN) sempat juga mengkaji masalah tersebut, namun hingga kini tidak jelas follow-up nya bagaimana.

“Apa memang takdir kami untuk terus berjuang sejak jaman Belanda sampai sekarang ini?” tanya Haji Emed.

Standar ganda kebijakan pemerintah juga dialami cucunya belum lama berselang.

Akong, cucu kesayangan lelaki 78 tahun itu yang baru lulus SBMPTN, diharuskan membayar uang  kuliah hampir Rp4 juta per semester di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, atau kurang lebih sama dengan rata-rata uang kuliah di perguruan tinggi swasta seperti UIN Solo, misalnya.

Usut punya usut, ternyata pihak rektorat tidak menyetujui program Bidik Misi cucunya itu, meski sudah dilengkapi dengan slip gaji Rp2 juta / bulan dari kantor tempat orang tuanya bekerja.

“Kalau toh uang kuliahnya sama dengan swasta, apa poin nya lulus SBMPTN dan kuliah di negeri?” kata Sumijati, putri sulung Haji Emed.

Boleh jadi, keluarga Haji Emed memang sudah ditakdirkan untuk terus berjuang melawan ketidakadilan di dalam negeri Bumi Pertiwi ini.

Dalam bisu, Haji Emed terus melangkah menuju masjid favoritnya, tempat ia bebas melampiaskan semua keluh kesahnya kepada Sang Pemilik jagad semesta…

Ali Cestar
Penulis adalah redaktur media logistik, berdomisili di Hambalang

 

 

Advertisements

Cara menghadapi situasi darurat dengan Si Pete

IMG_20161114_114828.jpg

 

Cara menghadapi situasi darurat dengan Si Pete

Hari itu, Sabtu, 12 Nopember 2014, sekitar pukul 10.00 WIB. Kepala Alec terasa sangat pusing dan berat. Ini pertanda tekanan darah sedang tinggi. Karena, kalau kepala terasa pusing tapi ringan melayang, itu pertanda tensi sedang rendah. Untuk memastikannya, Alec minta tolong ke tetangga mengukur tensinya. Alhasil, tekanan darah Alec mencapai 200/130. Tinggi sekali!

(cestarweb): Sebelumnya tensi Alec untuk waktu cukup lama sempat normal-normal saja, sekitar 160/90 sejak menjalani terapi air putih yang ia praktekkan sejak tahun lalu, demi menghentikan obat farmasi yang diresepkan dokter.

Sebetulnya, untuk pria awam berusia hampir 47 tahun, tekanan 160/90 terhitung agak tinggi. Tapi bagi penderita hipertensi esensial seperti Alec, tensi segitu sudah dianggap normal.

Kelemahan terapi ini, pantang terkena asupan garam. Walaupun hanya sedikit, katakanlah untuk kumur-kumur karena sakit gigi, sepersekian persen kandungan air garam yang tertelan ke dalam kerongkongan bisa memicu tekanan darah naik secara drastis.

Karena, terapi air menyebabkan volume air dalam darah menjadi tinggi sehingga mudah sewaktu-waktu menimbulkan tekanan atau dorongan yang kuat dalam pembuluh darah.

Sebaliknya, obat darah tinggi yang banyak diresepkan dokter, terutama dari jenis meta atau v-blocker, justru memblokir masuknya air ke pembuluh darah, sehingga dalam waktu pendek, darah kekurangan air dan daya tekananpun menjadi berkurang.

Artinya, tekanan darah turun secara semu, karena darah kekuarangan air, bukan turun dalam arti yang sesungguhnya!

Untuk jangka waktu lama, pemblokiran air seperti ini bisa memicu kerusakan berbagai sel pada organ-organ penting tubuh manusia, termasuk ginjal, level, pankreas, jantung, dan lain-lain.

Alhasil, karena ingin mengobati darah tinggi, berbagai komplikasi lain bisa muncul akibat pemakaian obat farmasi yang mengadung bahan sintetis alias kimia.

Satu-satunya jalan adalah, cari alternatif yang aman. Artinya, mencari sesuatu yang bisa menurunkan tensi, tapi aman dikonsumsi. Jawabannya hanya satu, herbal!

Berbagai rebusan air herbal sudah ia coba, mulai dari daun salam dan jeruk, seperti yang pernah disarankan seorang kawan hingga ke daun pandan sukun seperti saran tetangga, telah ia coba. Namun belum ada hasil yang memuaskan.

Hingga Sabtu itu, Alec ingat ia punya jadwal mengajar di sekolah hari itu selepas waktu zuhur.  Rasa bersalah karena sudah hampir sebulan tidak mengajar, memaksa Alec memutar otak, bagaimana tetap bugar tampil di depan kelas selepas zuhur.

Hampir sebulan sebelumnya, Alec terpaksa tidak masuk kelas karena diserang asam urat. Selidik punya selidik, tingginya kadar asam urat, rupanya disebabkan oleh pete dan kulit pete rebus yang kerap ia makan sebagai teman lauk-pauk.

Ironis! Di saat buah dan kulitnya bisa memicu zat purin penyebab asam urat, air rebusan pete justru kaya akan kalium, zat yang bisa menurunkan tensi darah dalam seketika.

Di saat ia sulit berjalan karena persendian kaki pada perih dan bengkak akibat asam urat, tensi Alec justru di luar dugaan, sangat normal, 130/80 bahkan untuk orang awam sekalipun!

Di situlah kuncinya! Jika asam urat Anda tinggi, hindari makan pete. Tapi jika normal, pete adalah pagatok (Minang untuk lalapan) yang paling menyegarkan karena kandungan gizinya yang terbilang super lengkap.

Ingat akan hal itu, Alec langsung merebus seikat pete. Tak sampai 10 menit kemudian, jam menunjukkan pukul 10.30 WIB, air rebusan pete siap disajikan. Butuh 2-3 menit untuk mendinginkannya hingga suam-suam kuku dan  air bisa diminum.

Begitu terasa hangat di lidah, air rebusan pete langsung ia teguk hingga dua gelas sekaligus. Mungkin karena airnya hangat, keringat mulai mengucur dengan deras. Entah kenapa, rasa pusing mulai berkurang. Dan, pete serta kulitnya tidak ia makan, diberi ke tetangga.

Waktu mulai menunjukkan pukul 10.20 WIB. Alec melangkah ke luar rumah, mencari posisi yang paling nyaman untuk latihan pernapasan.  Itulah keuntungan tinggal di kampung. Udara sekitar masih sejuk segar.

Setelah mendapatkan spot yang tepat, Alec melakukan pijatan-pijatan halus di sekitar urat mariah (dari kata marih, arab, artinya leher). Urat leher berperan penting dalam memperlancar aliran oksigen ke dalam paru-paru dan pembuluh darah lainnya.

Lima menit kemudian, letihan pernapasan beralih ke gerakan seperti orang habis salam usai tasyahud akhir dalam shalat. Bedanya, gerakan ini dilakukan lebih pelan dan berulang-ulang.

Ketika kepala menghadap ke kanan, ambil napas dalam-dalam, tariklah oksigen sebanyak mungkin sampai rongga dada terasa penuh, dan jika ditiupkan secara tiba-tiba ke lubang sumpit, ia bisa melontarkan anak sumpit hingga puluhan meter, seperti sistem pneumatic pada pompa senapan angin.

Jika udara dalam dada sudah terasa sedemikian padatnya, arahkan muka ke depan, tahan napas untuk sementara waktu, dilanjutkan dengan mengalihkan pandangan ke arah kiri, sembari membuang napas pelan-pelan.

Sedemikan pelannya, sehingga butuh waktu cukup lama untuk mengosongkan kembali paru-paru dan wilayah dada dari udara yang tadi sempat dimampetkan.

Lakukan hal itu berulang kali. Ambil napas dalam ketika menghadap ke kanan, tahan napas ketika menghadap ke depan dan buang napas setelah menghadap ke kirim. Semua dilakukan dengan cara halus dan perlahan.

Waktu menunjukkan pukul 11.10 WIB ketika Alec menghentikan latihan pernapasan dan minta tolong tetangga untuk mengukur ulang tensinya.

Dan, bingo!

Tensi Alec telah melorot drastis ke angka 150/90. Suatu angka yang sangat normal bagi dia. Dan,  saat yang aman untuk mandi.

Perlu diingat bahwa, saat kepala Anda pusing, jangan mandi!

Karena, kepala pusing bisa berarti dua hal. Jika kepala terasa berat, maka kemungkinan darah tinggi (hipertensi), mandi bisa berisiko stroke! Pembuluh darah ke otak ada yang pecah.

Begitu juga, jika kepala terasa ringan, maka kemungkinan darah rendah (hipotensi), mandi juga bisa berisiko stroke! Darah tak sampai ke otak.

Untuk menhindari itu, lakukan ‘terapi bau pesing’ dengan meminum air rebusan pete dan olah pernapasan seperti yang telah dijelaskan di atas, dan jangan lupa mengontrol tekanan darah.

Akhirnya, selepas sholat Zuhur, Alec bisa ke mengajar ke sekolah dan tampil di depan kelas dengan segar bugar, karena tekanan darah normal dan asam urat juga mulai turun sehingga langkah kaki menjadi lebih ringan.

 

Wallahu ta’ala ‘alam.

Hambalang, 14 Nopember 2016

Ali Cestar

https://www.facebook.com/cestar

https://cestarweb.wordpress.com

img_20161114_114828