Revolusi di depan mata, dimulai dari sekarang!

Pasar-pasar mulai sepi, yang ada hanya penjual buah, sayuran dan daging segar. Supermarket berubah fungsi jadi playground anak-anak balita. Pusat-pusat pertokoan seperti Glodok berubah fungsi menjadi gudang. Keramaian justru terjadi di gardu-gardu ATM dan minimarket yang sudah berubah menjadi loket-loket pembayaran. Begitu juga dengan kios-kios di sepanjang tepi jalan dan warung-warung kelontongan tetangga, ikut-ikutan meramaikan usaha jasa pembayaran dan keagenan.

HAMBALANG (cestarweb): Sistim saluran distribusi konvensional akan rontok. Para pedagang online akan mulai bersaing harga, karena konsumen bisa berhubungan langsung dengan grosir. Tinggal klik  di aplikasi ponsel Android, orang dengan mudah memesan barang apapun lewat online.

Jasa kurir seperti TIKI dan JNE kecipratan durian runtuh. Sesama grosir akan bersaing untuk mendapatkan diskon bagus dari produsen.

Alhasil, ketika produk dan harga mulai bersaing, orang akan berkompetisi di ranah pelayanan, kecepatan waktu pengiriman dan kualitas barang.

Pedagang besar dan kecil akan lenyap ditelan zaman. Peluang pekerjaan dan mata pencarianpun akan semakin langka bagi generasi milenial itu.

Satu-satunya jalan, pencari kerja mesti bisa membuat atau memasarkan produknya sendiri, alias menjadi produsen atau penyedia jasa.

Atau, membuka pujasera-pujasera atau tempat jajanan makanan dan minuman segar. Karena, selagi manusia butuh makan dan minum, warung yang menjual kedua hal itu akan tetap bertahan dalam badai krisis dan perubahan jaman.

Atau, ikut sekalian terlibat dalam mata rantai logistik yang ada dalam system e-commerce tersebut seperti pergudangan & inventory, pengiriman, informasi teknologi (IT), sistem pembayaran dan perdagangan.

Bisnis logistik adalah masa depan, e-commerce adalah revolusi, dan sudah dimulai dari sekarang!

Eksperimen kecil

Untuk memastikan prediksinya itu, Alec, dari gubuk bambu huniannya di pelosok pinggang Gunung Hambalang, Bogor, membuat satu ekseperimen kecil yang melibatkan empat marketplace yang cukup dikenal di Tanah Air yakni Lazada, BukaLapak, Tokopedia dan Shopee.

IMG_20171007_110520

Kali ini produk yang ingin ia cari adalah sejenis braket (mounting) untuk senter agar bisa dipasang di sepeda motor dan senapan angin.

Dalam mencari produk itu, Alec menggunakan sejumlah kata kunci seperti braket senapan, braket sepeda, braket senter dan braket telekop, karena tak semua marketplace menggunakan kata kunci yang sama di database pencarian mereka.

Dari keempat marketplace itu, ia menemukan harga produk tersebut sbb:

Lazada: Rp11.500,-
BukaLapak: Rp5.500,-
Tokopedia: Rp7.250,-
Shopee: Rp7.000

Kenapa yang di BukaLapak bisa paling murah? Karena barang yang dipilih Alec di situ kebetulan memang milik pelapak grosiran.

Kenapa Alec memilih yang di Lazada meski lebih mahal? Karena pertimbangan menu bisa “Bayar di Tempat” yang tertera di katalognya.

Sampai naskah ini ditulis (7/10) barang yang dipesan pada 5/10 itu belum juga sampai (lihat screen shot).

Screenshot_2017-10-07-11-15-20

Dan, Alec tak perlu repot-repot ke loket pembayaran atau ATM, mengingat ‘tempat bertapa’-nya yang di atas gunung! Tinggal klak klik kluk, pesanan diantar, baru dibayar.

Ini membuktikan bahwa, kerap faktor pelayanan (termasuk purna jual) bisa mengungguli faktor harga.

Itu dari segi harga. Kemudian lanjut ke sesi pembayaran.

Hampir semua marketplace di atas menerima pembayaran transfer via bank dan loket pembayaran di minimarket seperti Indomaret dan Alfamaret.

Kecuali Shopee, tidak ada menu bisa dibayar di minimarket di sana. Boleh jadi, karena Shopee terhitung pemain baru dari luar dan belum sempat menjalin kerjasama dengan minimarket dimaksud.

Berbeda dari Lazada yang untuk barang-barang tertentu bisa dibayar di tempat, Shopee unggul dalam gratis ongkos kirim (gratis Ongkir) untuk nilai transaksi minimal tertentu.

Jika mentransfer dari beberapa bank dimana rekening penjual sama dengan rekening pembeli, maka pembayaran tidak dikenakan biaya.

Contoh, semua marketplace menyediakan akun BCA, bahkan ada yang berbentuk akun virtual seperti Shopee. Pembeli tinggal memasukkan kode transaksi sebagai pengenal akun virtual Shopee di BCA.

Berbeda dari loket-loket pembayaran seperti Indomaret yang mengenakan biaya Rp2.500 atau di POS Pay sebesar Rp3.000, misalnya, pada tiap pembayaran.

Pada dasarnya, pembeli melihat harga dulu sebagai faktor pertimbangan awal. Berikutnya baru pelayanan.

Siapa yang bisa memberikan experience value yang positif bagi buyer-nya, itulah yang akan tampil sebagai pemenang.

Karena experience value yang positif akan mendatangkan loyal customer dengan sendirinya.

“Mempertahankan satu konsumen yang ada, lebih penting daripada mencari 10 konsumen baru,” tutur Alec suatu kali kepada siswa-siswanya di depan kelas.

Fenomena milenial

Alec termasuk generasi jadul, penikmat romantika jalan-jalan di pasar walau sekadar window shopping di sidewalk etasase-etalase toko.

Tidak begitu halnya dengan dua anaknya, Akong dan Dayong, dua generasi milenial.

Tahun lalu, ketika hendak naik ke kelas tiga SMU, Akong minta dibelikan sepatu pantovel hitam buat sekolah.

Alec lantas mengajak Akong jalan-jalan sore menikmati hawa petang kaki gunung Tampomas. Jalan kaki saja, dari rumah melewati pasar ke arah batas pusat kota, mencari agen sepatu Cibaduyut.

Mulanya Akong enggan ikut. “Lebih dicari online saja,” katanya.

Meski Akong ogah-ogahan berjalan di sepanjang emperan pertokoan, ia tetap ikut juga, karena paham kemauan papanya sulit dibantah.

Kios yang dimaksud akhirnya ketemu, posisinya pas di ujung gerbang masuk pusat kota. Jarak dari rumah ke kios tersebut tidak kurang tiga kilometer!

Sepatu yang dicari ketemu, sudah dibanderol Rp170.000,- jadi nggak perlu banyak buang waktu dengan tawar-menawar segala.

Akong (paling kanan) bersama papa Alec dan Ayong (pangku depan) saat berkunjung ke Pantai Malin Kundang, Padang, 2002. Kedua bocah kecil itu kini sudah tumbuh menjadi pemuda dan pemudi milenia.

Akong (paling kanan) bersama papa Alec dan Dayong (pangku depan) saat berkunjung ke Pantai Malin Kundang, Padang, 2002. Kedua bocah kecil itu kini sudah tumbuh menjadi pemuda dan pemudi milenial.

Tempo hari saat hendak mengikuti orientasi prakampus, Akong perlu sepatu baru. Kali ini jenis sepatu sport.

Adiknya, Dayong yang baru kelas tiga SMU langsung ambil inisiatif, mencari barang yang dimaksud di empat e-commerce penyedia marketplace tersebut di atas.

Setelah membanding-bandingkan harga, akhirnya ketemu yang paling murah di salah satu marketplace tersebut, Rp70 ribu.

“Dede suka begitu (membandingkan harga terlebih dulu) sebelum memutuskan membeli,” lapor Dayong bangga via whatsapp.

Dalam hati Alec mengakui, harga itu termasuk murah di pasaran untuk sepatu olahraga dewasa mengingat ukuran kaki Akong 43.

Dan, serta-merta sebutir kristal bening mengucur di pipinya, teringat nasib yang bakal menimpa para pedagang sepatu di pasar-pasar tradisional dan agen Cibaduyut langganannya.

Man jadda wa jada,” bunyi satu pepatah Arab.
Wallahu ta’ala ‘alam bi sh showab.

Ali Cestar
Penulis adalah pemerhati TI tinggal di Hambalang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Berjuang sendiri sejak jaman Belanda, sudah menjadi takdir PT Pos kah?

Tubuhnya mulai ringkih karena dimakan usia. Pandangan matanya sudah tak berfungsi lagi karena operasi katarak yang kurang berhasil. Meski begitu, langkah kakinya selalu tegap berjalan ke masjid setiap azan berkumandang. 

SUMEDANG (cestarweb): Haji Emed oleh tetangga satu RT di bilangan Jalan Kebonkol, Sumedang lebih dikenal sebagai imam masjid.

Lelaki tua kelahiran 1939 itu menjalani masa pensiunnya dengan tabah, meski kezaliman demi kezaliman sebagai buah dari kebijakan pemerintah, terus dia alami.

Dengan uang pensiunan yang tak mencapai Rp1 juta per bulan, Haji Emed merasa PT Pos dianaktirikan oleh pemerintah, karena standar ganda kebijakann status pegawai dan pensiunan PT Pos yang tidak setara dengan BUMN lain seperti PT Kereta Api Indonesia (KAI), misalnya.

Meski sama-sama BUMN, berbeda dari PT KAI yang pegawainya sempat menikmati masa pensiun sebagai PNS ketika jawatan itu berubah status menjadi persero, pegawai PT Pos justru diturunkan statusnya menjadi karyawan swasta.

Dalam sejarahnya, PT Pos telah mengalami beberapa kali perubahan nama.

PT Pos berdiri pada 1931 dengan nama Jawatan PTT. Pada 1962 berubah menjadi PN Postel dan berubah lagi pasca G-30S-PKI 1965 – 1978 menjadi PN Pos dan Giro.

Sejak 1978 hingga 1995, Pos menggunakan nama Perum Pos dan Giro sebelum menjadi PT Pos dan Giro sejak 1995 sampai sekarang sesuai PP Nomor 5 Tahun 1995.

“Dulu setiap laba Pos kami setor ke pemerintah.Kini, loyalitas kami kurang dihargai. Pensiun yang kami terima tidak sampai 30% dari pensiun PNS,” keluh Haji Emed, yang diangkat sebagai pegawai Pos pada 1960.

Dari segi peluang bisnis, PT Pos juga terkesan jauh dari perhatian pemerintah.

Berbeda dari BUMN lainnya seperti Garuda Indonesia, misalnya, yang kerap mendapat suntikan modal meski merugi, PT Pos justru harus berjuang menggali peluang bisnisnya sendiri.

Sejak lesunya arus pengiriman surat dan wesel, PT Pos terus  menggali sumber-sumber pendapatan baru seperti membuka gerai Pospay dan Pos Logistik.

Satu-satunya competitive advantage yang masih dimiliki PT Pos hingga kini adalah kekuatan jaringannya yang menjangkau hingga ke kawasan-kawasan pelosok di Tanah Air.

Kekuatan jaringan inilah yang sering dilirik oleh usaha jasa pengiriman seperti TIKI & JNE, misalnya, yang menjadikan PT Pos sebagai mitra perpanjangan tangan delivery mereka untuk menjangkau pelosok.

Selain kecilnya nilai pensiun, Haji Emed juga merasa dizalimi dalam hal pelayanan kesehatan seperti BPJS.

Oleh PT Pos, pensiunan golongan 3A berpangkat PNMPos itu hanya diberi tunjangan untuk BPJS Rp65 ribu per bulan.

“Karena dirujuk oleh dokter umum ke dokter ahli, harus antre di klinik sekian lama dan ujung-ujungnya harus beli obat sendiri di luar yang harganya di atas Rp100 rb karena BPJS hanya memberi obat sesuai standar pelayanan minimal.

Bahkan ada teman pensiunan saya yang mengalami masalah kesehatan serius yang harus antre berjam-jam di rumah sakit, ujung-ujungnya hanya mendapat obat parasetamol,” tutur Haji Emed yang menjalani pensiun sejak 1995.

Masalah melaratnya hidup para pensiunan PT Pos itu sebetulnya bukanlah isu baru.

Pada 2012, masih jaman pemerintahan SBY, 1.000 pegawai PT Pos pernah menggelar unjuk rasa di Jakarta menuntut kesetaraan hak pensiun dengan PNS lainnya.

Pada tahun yang sama, masalah yang menderita 17.000 lebih pensiunan PT Pos pernah dengan lantang disuarakan oleh Rieke Diah Pitaloka di Komisi IX DPR RI.

Waktu itu, pensiunan PT Pos menerima uang pensiunan terendah Rp230 ribu dan tertinggi Rp780 ribu, bandingkan dengan PNS lain pada level (pangkat & jabatan) yang sama yang menerima terendah Rp1.500.000 dan tertinggi Rp2.700.000.

“Yang diterima Pensiunan Pos Indonesia itu sudah sangat tidak layak. Jauh dari cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari dimana harga sembako meningkat setiap saat. Ini membuat para pensiunan itu tak memiliki daya lagi untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya,” kata Rieke seperti dikutip Beritasatu.com.

Dalam dasawarsa terakhir, gaji PNS sipil maupun TNI/Polri, telah terjadi paling tidak telah mengalami lima kali kenaikan gaji hingga 10% tiap kenaikan.

Namun tidak demikian halnya dengan PT Pos.

Pada 2015, Badan Kepegawaian Negara (BKN) sempat juga mengkaji masalah tersebut, namun hingga kini tidak jelas follow-up nya bagaimana.

“Apa memang takdir kami untuk terus berjuang sejak jaman Belanda sampai sekarang ini?” tanya Haji Emed.

Standar ganda kebijakan pemerintah juga dialami cucunya belum lama berselang.

Akong, cucu kesayangan lelaki 78 tahun itu yang baru lulus SBMPTN, diharuskan membayar uang  kuliah hampir Rp4 juta per semester di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, atau kurang lebih sama dengan rata-rata uang kuliah di perguruan tinggi swasta seperti UIN Solo, misalnya.

Usut punya usut, ternyata pihak rektorat tidak menyetujui program Bidik Misi cucunya itu, meski sudah dilengkapi dengan slip gaji Rp2 juta / bulan dari kantor tempat orang tuanya bekerja.

“Kalau toh uang kuliahnya sama dengan swasta, apa poin nya lulus SBMPTN dan kuliah di negeri?” kata Sumijati, putri sulung Haji Emed.

Boleh jadi, keluarga Haji Emed memang sudah ditakdirkan untuk terus berjuang melawan ketidakadilan di dalam negeri Bumi Pertiwi ini.

Dalam bisu, Haji Emed terus melangkah menuju masjid favoritnya, tempat ia bebas melampiaskan semua keluh kesahnya kepada Sang Pemilik jagad semesta…

Ali Cestar
Penulis adalah redaktur media logistik, berdomisili di Hambalang