Sinergi Kristiani taat & Muslim sholeh siratkan NKRI ideal

Lututnya langsung bertekuk, dia duduk bersimpuh sembari jari tangannya membuat simbol salib di dadanya. Atlit berpenampilan tomboy yang akrab dipanggil Butet itu, Liliyana Natsir terkesan sebagai seorang Kristiani taat.

JAKARTA (CestarWeb): Pasangannya, Tontowi Ahmad tak kalah harunya. Lelaki jangkung yang akrab dipanggil Owi ini langsung bersujud di lapangan tanda syukur telah memenangi pertandingan liga super bulutangkis yang disponsori Blibli di Jakarta belum lama ini.

Owi-Butet malam itu berhasil mempertahankan gelar juara pada turnamen Indonesia Open 2018 mengalahkankan pasangan ganda campuran Chan Peng Soon dan Goh Liu Ying dari Malaysia set langsung 21-17 dan 21-8.

Ada hal unik di momen kemenangan mereka itu. Owi sempat berlari menyongsong anaknya yang masih balita, mengendongnya hingga ke panggung untuk serah terima hadiah.

“Selain kampiun bulutangkis, Owi ternyata juga seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya ya,” kata Nina, seorang pemirsa TV yang waktu itu disiarkan langsung oleh stasiun Trans7.

Selain itu, Owi juga dikenal sebagai seorang Muslim yang taat. Ia tak pernah meninggalkan waktu sholat, kapan dan di manapun ia bertanding. Justru sholat sebelum bertanding, menurutnya, bisa memberi kekuatan energi ekstra.

Sementara Butetpun tak kalah dramatisnya. Ia berlari ke pinggir lapangan dan langsung memeluk ibunya yang kebetulan memang ikut hadir menonton di Gelora Bung Karno malam itu.

Momen istimewa itu ternyata juga tak luput dari perhatian seorang pemirsa yang kebetulan juga pencinta olahraga bulutangkis, Ali Cestar. Bagi pria yang akrab dipanggil Alec ini, kejadian itu menyiratkan gambaran yang lebih besar tentang NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

“Owi-Butet telah mengukir satu sejarah baru dalam pluralitas atau kemajemukan bangsa Indonesia. Seorang atlit Kristiani yang taat dan seorang Muslim yang sholeh bersinergi mengharumkan nama Indonesia. Kita perlu melihat dari sudut pandang itu” tutur Alec.

Menurut calon legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk daerah pemilihan Sumbar 1 ini, kemenangan Owi-Butet berkali-kali pada liga super bulutangkis dunia membawa pesan kebangsaan yang sangat penting dan patut ditiru, “Berbeda tapi tetap bersatu. Itulah Indonesia!”

Advertisements

Makan bubo, tradisi sebelum jumatan di masjid

Perihnya persendian lutut kiri karena asam urat kembali kambuh tak menyurutkan langkah kaki lelaki itu untuk terus menyusuri lorong shopping mall Vivo yang letaknya di samping kompleks pertokoan Harbour.

SINGAPURA (cestarweb): Jumat 18 Agustus, Alec dan tiga orang kawan pria sesama alumni kelas 1 SMA Negeri 2 Padang, mesti menemukan masjid terdekat untuk menunaikan sholat Jumat.

Terlihat banyak hal yang sudah berubah total, dibandingkan era 1993 ketika pertama kali Alec menginjakkan kaki di negara pulau itu. Masa itu, dekat pelabuhan feri Singapura yang ada hanya World Trade Center (WTC).

Itu jaman jadul, ketika fiskal luar negeri masih berlaku di RI. Banyak WNI masuk Singapura masa itu lewat laut menggunakan feri menimbang fiskal lebih murah, cuma Rp500 ribu, bandingkan dengan fiskal udara Rp1 juta.

IMG_20170818_114501

Suasana santap bubur kacang hijau yang disediakan dekat tempat wudhu di Masjid Temenggong Daeng  Ibrahim, aset milik Sultan Johor, Malaysia yang berada di Jalan Telok Blangah, Singapura. Terlihat teman alumni, Efrizel (kanan, berkaca mata, bercelana jeans, berkaos alumni) sedang menyingsingkan kaki celana bersiap mengambil wudhu.

Kini di jaman milenial, apalagi sejak berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), arus pergerakan manusia di antara sesama warga negara-negara Asia Tenggara semakin bebas. No fiscal, no visa!

Cukai pun hanya berlaku untuk komoditas tertentu saja. Alhasil, banyak penduduk Batam memanfaatkan waktu pulang-pergi ke dan dari Singapura setiap hari untuk berbagai alasan, mulai dari bekerja, ambil upah harian, berdagang, piknik dan segala macamnya.

Lelah mutar-mutar tanpa hasil, jangankan masjid jami’, mushola pun tak ketemu. Itulah risiko berada di negara sekuler. Jangan bandingkan dengan mall-mall di Indonesia, mushola selalu tersedia, meski letaknya di pojok-pojok pertokoan atau di ruang basement.

Akhirnya ada teman ambil inisiatif, bertanya ke seorang pedagang yang perawakannya mirip Melayu India, dan kemungkinan besar pasti Muslim. Bingo! ternyata benar, dia Muslim dan memang tengah bersiap-siap hendak jumatan juga.

“Mau Jumatan? Ikuti saya saya. Saya juga mau sholat Jumat. Tak jauh dari sini, tinggal keluar kompleks, menyeberang jalan sikit,” katanya dengan logat campuran Melayu Indonesia.

Agaknya, dia sudah terbiasa melayani konsumen dari Indonesia yang memang di akhir pekan sering membanjiri tempat itu, terutama penduduk Batam yang posisinya hanya satu jam perjalanan feri saja ke Singapura.

“Aha, dekat saja, tinggal menyeberang jalan,” batin Alec mencoba menguatkan diri, mengingat rasa ngilu persendian lutut yang semakin parah, apalagi sejak dari pelabuhan ‘dipaksa’ berjalan kaki ke Pulau Sentosa untuk selfie-selfie alumni. Senang tapi tersiksa, begitulah rasanya.

Rasa pegal, ngilu, sakit, nyeri semua itu terobati ketika sampai di Masjid Temenggong Daeng Ibrahim. Untuk mudahnya, sebut saja dengan masjid Sultan Johor. Riwayat masjid ini cukup kompleks, sejak masa Sir Stanford Raffles, pendiri Singapura, masih hidup dan berkuasa. Masa di mana Singapura adalah bagian dari wilayah kekuasaan kesultanan Riau yang masa itu diwakili oleh Temenggung (wakil Sultan) Johor.

Intervensi Inggris menyebabkan Singapura menjadi tanah sewaan koloni dengan masa kontrak 999 tahun dengan Kesultanan Riau yang diwakili Sultan Johor, sekarang negara bagian Malaysia.

Sebelum dibangun masjid oleh Temenggong  Daeng Ibrahim, kawasan masjid itu adalah kompleks istana kesultanan Melayu Johor. Sampai kinipun, Sultan Johor kerap berkunjung ke masjid tersebut untuk menunaikan sholat Jumat.

Karena menjadi aset Malaysia, masjid itu dikelola langsung oleh Johor Religious Department, bukan oleh Majelis Ugama Islam Singapura. Di sektretariat masjid, berkibar sejumlah bendera Malaysia.

IMG_20170818_114947

Bubur kacang hijau atau ‘bubo’ yang rasanya sangat manis satu paket dengan sirup yang rasanya pas, tidak terlalu manis, mungkin karena kalah oleh manisnya rasa bubo tersebut.

Sambil membuka sepatu, Alec memperhatikan seorang bapak yang makan dari sajian dengan lahapnya, bahkan itu kali kedua di menambah. Bebas saja. Sekenyang Anda mau, karena sajiannya cukup banyak, dua tong besar.

Karena pemandangan itu terbilang hal baru bagi Alec, apalagi di pelataran masjid menjelang Jumatan, iapun bertanya ke bapak tua itu, “Makan ape tu Pak Cik?”

Jawabnya singkat saja, “bubo.”

Alec langsung paham. Bubo adalah logat Melayu untuk bubur. Alecpun bangkit dari duduk dan mengambil gelas plastik yang tersedia. Bubur kacang hijaunya masih terasa panas. Ia diamkan sesaat sebelum mencobanya.

Hm maknyus juga. Di samping bubur, juga ada dua tong besar berisi minuman. Setelah dituangkan ke gelas plastik, ternyata isinya sirup berwarna merah (lihat gambar).

Menurut seorang jemaah yang rutin jumatan di situ, masjid tersebut memang sering menyajikan hidangan setiap Jumat. Bahkan di bulan Ramadhan, katanya, hidangan yang disajikan lebih banyak dan beragam lagi, karena kontribusi para jemaah yang hendak bersedekah selama bulan puasa.

Coba bayangkan, orang Indonesia menunaikan sholat Jumat di masjid Sultan Johor dengan tradisi makan ‘bubo’-nya di tanah sekuler Singapura. Terasa sekali nuansa ikhwanul muslim-nya. Itulah pelipur lara yang unik yang paling dirasa.

IMG-20170818-WA0074

Empat alumni kelas 1-4 SMAN 2 Padang (Bachiempex Smanduo89) dari kiri berkaos alumni, Alec (Depok), Harry (Batam), Artison (Bekasi) & Efrizel (Surabaya) menyempatkan diri berkumpul-kumpul di Singapura memanfaatkan liburan akhir pekan sejak 17 Agustus 2017.