Cara sehat OTG menangkis serbuan komersialisasi industri (bag. 2)

Tatapan mata Mahyedin kosong, sehampa padang ilalang yang membentang di depan rumahnya. Ia hanya bisa duduk di kursi teras menikmati masa pensiun karena kedua kakinya bengkak akibat serangan asam urat. Taktis, selama tiga tahun terakhir, pria penderita hipertensi itu menghabiskan waktu dengan duduk sepanjang hari.

HAMBALANG (CestarWeb): Mahyedin termasuk tipe orang yang patuh dengan nasihat dokter. Sejak didakwa mengidap hipertensi esensial, dokter menyuruh mantan pesilat itu makan obat hipertensi tiap hari seumur hidup.

Tanpa disadarinya, salah satu obat diuretik yang ia konsumsi itu ternyata berjenis hidroklorotiazid (HCT) yang membawa risiko terjadinya penumpukan asam urat (uric acid).

Seperti obat-obat diuretik jenis beta blocker pada umumnya, HCT bekerja memanipulasi fungsi ginjal dengan memblokir zat cair masuk ke dalam pembuluh darah, sehingga air langsung terbuang ke kantong urine.

Disebut memanipulasi karena ginjal secara alamiah bisa mengontrol kadar air dalam metabolisme tubuh.

Jika tubuh kelebihan cairan, ginjal langsung membuangnya ke kantong urine. Sebaliknya, jika tubuh mengalami dehidrasi (kekurangan cairan) ginjal secara otomatis akan menahan pembuangan air.

Obat diuretik dirilis sejak 1959 ke pasar untuk tekanan darah tinggi. Efek samping yang mungkin terjadi termasuk kerja ginjal buruk, ketidakseimbangan elektrolit terutama kalium darah rendah dan kurang sodium, asam urat, gula darah tinggi dan kliyeng-kliyeng (perasaan pingsan) di awal berdiri.

Obat ini ada dalam kelas obat tiazid dan bekerja dengan menurunkan kemampuan ginjal untuk menahan air.

“Pada awalnya volume darah tereduksi, darah yang tereduksi kembali ke jantung sehingga cardiac output. Dalam jangka panjang, diyakini ia menurunkan resistensi pembuluh darah perifer,” tulis satu jurnal medis.

Dierutika ialah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Sedangkan tiazid sendiri dapat meningkatkan peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida plasma dengan mekanismeyang tidak diketahui, tetapi tidak jelas apakah ini meningkatkan resiko terjadinya aterosklrosis.

Menurut jurnal itu, hipokalemia lazim terjadi bagi pemakai obat tersebut. Hipokalemia adalah efek samping yang sangat sering terjadi pada terapi jangka panjang dengan diuretik, yaitu 25-40% kasus.

Efek samping lainnya adalah hipomagnesemia, alkalosis metabolik, hipokloremis, toleransi glukosa yang berkurang (bahaya manifestasi diabetes melitus pada kondisi metabolik pradiabetes), gangguan metabolisme lemak, kenaikan kadar trigliserid serum dan kadar kolesterol serum; kenaikan LDL, HDL tidak berubah atau turun.

Selain itu juga timbul hiperurisemia, yakni serangan pirai pada pasien yang ada disposisi. Penyebabnya adalah penghambatan kompetitif sekresi asam urat yang berlangsung melaui sistem transpor anion ditubulus proksimal sperti juga eliminasidiuretik tiazid. Setelah kurang lebih 7-10 hari kenaikan asam urat serum akan mencolok.

IMG_20170918_153100

Derivat tiazid memperlihatkan efek penghambatan karbonik anhidrasedengan ptensi yang berbeda-beda. Zat yang aktif sebagai penghambat karbonik anhidrase, dalam dosis yang mencukupi, memperlihatkan efek yang sama seperti asetazolamid dalam eksresi bikarbonat.

Agaknya efek penghambatan karbonik anhidrase ini tidak berarti secara klinis. Efek penghambatan enzim karbonik anhidrase diluar ginjal praktis tidak terlihat karena tiazid tidak ditimbun di sel lain.

IMG_20171018_114004

“Pada pasien hipertensi, tiazid menurunkan tekanan darah bukan saja karena efek diuretiknya tetap juga karena efek langsung terhadap arteriol sehingga terjadi vasodilatasi,” terang jurnal tersebut.

Farmasi = kimiawi = sintetis

Menurut Metbayah, seorang pemilik apotik di Banten, jual-beli obat di apotik semakin menurun dalam dasawarsa terakhir seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk kembali ke pola hidup sehat alami, dan menghindari mengkonsumsi obat-obat kimiawi sedapat mungkin.

IMG_20171018_090533

“Obat farmasi itu sifatnya kimiawi dan sintetis. Ia bisa meredam satu gejala penyakit secara emergensi, tapi untuk jangka waktu tertentu bisa menimbulkan empat penyakit baru,” tutur Metbayah.

Di negara maju seperti AS, misalnya, zat yang sudah ada secara alami tidak bisa dipatenkan. Alhasil, perusahaan-perusahaan obat berlomba-lomba membuat obat sintetis untuk bisa dipatenkan.

Di Indonesia, kandungan obat alami (tradisional) masih diakui. Ia lazim disebut dengan herbal atau jamu. Ketika eforia herbal meledak di awal 2000an banyak farmasi yang latah menggunakan istilah herbal pada produknya.

Home-home industry herbalpun bermunculan di mana-mana bak jamur di musim hujan sehingga industri farmasi sempat dibuat ketar-ketir.

Jadi jangan heran kalau muncul produk-produk herbal yang hanya cari duit dan tidak memikirkan efektivitas dan khasiat produknya secara bersungguh-sungguh.

“Bahkan, ada satu produk herbal yang katanya bisa menyembuhkan asam urat, setelah dikonsumsi teratur, justru asam urat saya kambuh mendadak, sampai kaki saya lumpuh dan terpaksa pakai kursi roda,” kata Alec.

Alec juga pernah berobat pada seorang dokter herbalis di luar kota. Di sana, asam uratnya diukur, tercatat mencapai 18.

Angka ini terbilang sangat tinggi, karena ada tetangganya yang terkena stroke ringan karena mengidap asam urat yang  sudah mencapai 22.

“Ini adalah tingkat asam urat tertinggi dari pasien yang pernah saya tangani selama ini,” kata dokter tersebut merespon tingkat asam urat yang diderita Alec.

Melawan mitos

Berbagai upaya dilakukan Alec untuk menurunkan kadar asam urat dari dalam darahnya, mulai dari meminum ramuan jus nenas, lobak putih dan kemiri hingga ke terapi air heksagonal dan alkalin (7 botol) selama tiga hari berturut-turut, disamping obat herbal yang sudah diresepkan dokter itu untuknya.

Pada hari ketujuh, Alec kembali memeriksakan diri ke dokter yang sama. Dan ternyata, kadar asam uratnya tak berubah sama sekali, tetap di angka 18!

Sadar bahwa dirinya mulai terseret dalam lingkaran setan bernama komersialisasi industri obat-obatan, Alec akhirnya memutuskan bereksperimen mengobati diri sendiri, dengan jurus andalannya, off the grid (OTG), kembali ke alam asri.

Hal yang pertama yang ia lakukan adalah riset literatur eliminatif, yakni membuat perbandingan pendapat para ahli dengan menyingkirkan unsur-unsur  yang bertentangan di dalamnya. Karenanya, semua unsur itu patut dihindari.

Contoh. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ketimun itu bagus untuk obat darah tinggi, namun pendapat lain menyebutkan bahwa ketimun merupakan salah satu pemicu asam urat. Kontroversial. Abaikan!

Begitu juga halnya dengan nenas, ubi jalar dan tomat. Terjadi kontradiksi antara manfaat dan mudhorat yang terkandung di dalamnya, sehinga semua jenis makanan itu layak jadi tersangka dan diabaikan saja, baik sebagai obat maupun sebagai pantangan.

Apalagi, jika ditemukan pesan-pesan mujarobat yang ujung-ujungnya adalah jualan produk, bisa dipastikan hal itu sebagai non-sense, hanya alat untuk komoditas cari duit semata.

Salah satu tersangka utama yang tersisa karena tidak kontroversial di kalangan para ahli adalah unsur kimia seperti pada bumbu penyedap makanan buatan pabrik, termasuk MSG dan bahan pengawet diyakini bisa merusak fungsi ginjal dan mengganggu metabolisme tubuh.

Sembuh karena eksperimen

Setelah berkutat dengan eksperimen terhadap dirinya sendiri selama tiga bulan, Alec akhirnya bisa sembuh total dan tampil bugar kembali di depan kelas, mengajar siswa SMK tempat ia mengabdikan diri selama ini.

Ia tidak dendam dengan dokter yang mengaku herbalis. Ia tak sakit hati dengan herbal abal-abal. Ia hanya bersyukur karena keberaniannya bereksperimen selama ini secara otodidak dan independen telah membuahkan hasil.

Resepnya ternyata sederhana saja. Inti semua persoalan bertitik berat pada pola makan. Yang dibutuhkan hanya keberanian untuk bereksperimen pada diri sendiri.

Setiap zat yang kita makan dan minum adalah obat sekaligus penyakit tergantung unsur kimiawi yang ada di dalamnya.

Jika unsur kimiawinya sesuai, ia otomatis menjadi obat, dan jika unsur kimiawinya tak seimbang, ia menjadi penyakit. Beda obat dan penyakit itu terletak pada takarannya.

Berikut langkah-langkah yang dijalankan Alec sehingga bisa sembuh total dari penyakit asam uratnya.

1. Menakar karbohidrat

Kadar karbohidrat yang tinggi bisa membantu penumpukan uric acid menjadi zat purin dan gula darah. Karena itu, setiap asupan karbohidrat seperti nasi, kentang. mie dan bahan tepung perlu dikurangi.

Untuk itu, Alec mengganti cara makan dari menyuap pakai tangan dengan menyuap pakai sumpit. Biasa nasi satu piring, sekarang diganti menjadi setengah mangkok saja.

Makan setelah lapar, dan berhenti sebelum kenyang. Makan sedikit tapi sering itu lebih baik dari makan jarang tapi sekaligus banyak.

Untuk memastikan kadar karbohidrat tetap terkontrol, Alec mengkonsumsi teh hijau setiap hari. Kandungan teh mencegah pembentukan karbohidrat menjadi gula darah, sementara jenis teh hijau berkhasiat membuang radikal bebas dari tubuh.

2. Melawan asam dengan asam

Untuk membuang kelebihan asam urat dan penumpukan karbohidrat dari sistem pencernaan, Alec mengkonsumsi asam jawa (dicampur gula aren).

Asam jawa terkenal ampuh sebagai pembersih zat-zat yang tak dibutuhkan tubuh dan radikal bebas dari pembuluh darah.

IMG_20171002_101532

Air asam jawa pembasmi asam urat

3. Kembali ke apotik hidup

Sebagai pamungkas, Alec berpaling pada apotik hidup, dalam hal ini daun kumis kucing yang ia tanam di halaman rumah.

Paling tidak, selama tiga hari berturut-turut air seni akan terlihat banyak busa menandakan terbuangnya uric acid.

Pada hari keempat, seiring air seni yang mulai membening, semua gejala nyeri pada persendian tangan dan kaki akan lenyap, menandakan Anda sudah pulih dari penyakit asam urat.

IMG_20171102_083015

Kursi roda aluminium menjadi saksi bisu eksperimen off the grid 2017

Meski begitu, dalam 5-7 hari ke depan, pada persendian masih akan terasa pegal-pegal sebelum akhirnya hilang sama sekali seperti sedia kala.

Dan untuk menjaga sistem pencernaan termasuk pankreas dari efek negatif kimiawi (menetralisir), alangkah baiknya setiap pagi hari Anda minum air rebusan daun badotan, sejenis rumput berkembang putih yang biasa dimakan kambing.

wallahu ‘alam bi’sh showab

Ali Cestar
Pemerhati kesehatan dan praktisi gaya hidup off-the-grid tinggal di Hambalang, Bogor.

Advertisements

Cara sehat OTG menangkis serbuan komersialisasi industri (bag. 1)

Berikut ini adalah cuplikan satu kisah yang terjadi di sebuah negeri atas awan bernama Republic of Irony (ROI) di mana komersialisasi di sejumlah lini industri telah mengancam kesehatan masyarakatnya sendiri hampir setiap hari…

JAKARTA (CestarWeb); Arman (44 th) duduk termangu di kursi rodanya dengan wajah sendu. Dokter yang merawatnya telah memvonis dirinya mengidap asteoporosis akut dan  tulang kakinya mesti dioperasi.

Osteoporosis adalah penyakit kerapuhan pada tulang. Arman sejak tiga bulan terakhir taktis tak bisa berjalan dan hanya mengandalkan kursi roda semata untuk bergerak.

Bingung dan diliputi kegalauan termasuk memikirkan biaya operasi, Arman sempat curhat kepada sohibnya, Alec yang kebetulan banyak melakukan uji coba ala off the grid (OTG).

OTG adalah gaya hidup yang melepaskan diri dari jebakan-jebakan modernisasi, alias kembali ke alam asri.

Contoh gaya hidup OTG a.l. semua jenis asupan baik makanan maupun minuman, diupayakan sealami mungkin dengan menghindari makanan dan minuman (mamin) buatan pabrik atau industri.

“Dulu semasa badan sehat ente (anda) sering makan produk-produk pabrikan, baik kalengan, botolan maupun sachetan?” tanya Alec.

“Iya sih. Emang ada pengaruhnya ya, Mas?” tanya balik Arman.

Alec menjelaskan, makanan dan minuman pabrikan umumnya menggunakan pemanis rafinasi. Awam biasa mengenalnya dengan istilah ‘induk gula.’

Hanya dengan satu gram gula rafinasi, produk mamin satu truk bisa dibuat manis, karena kandungan glikemik (gula murninya) yang sangat tinggi.

Info-info tentang bahaya mengkonsumsi gula rafinasi banyak bertebaran di internet a.l. bisa menyebabkan diabetes, serangan jantung, kolestrol tinggi, hipertensi karena memicu gliteserida tinggi dan osteoporosis!

Karena, untuk mencerna gula rafinasi menjadi karbohidrat, tubuh menyedot zat-zat penting dari metabolisme seperti vitamin B kompleks, insulin dan kalsium.

Akibatnya a.l. tulang kekurangan kalsium sehingga mudah rapuh (osteoporosis).

Ironisnya, di saat gula rafinasi dilarang untuk konsumsi rumah tangga, bahkan ada aturan resminya dari satu kementrian, dunia industri mamin justru mengandalkannya sebagai bahan pemanis utama.

Irosnisnya lagi, produk-produk makanan dan minuman pabrikan itu disuguhkan tiap hari lewat tayangan iklan televisi. Bahkan, mayoritas konten iklan TV nasional berisi produk-produk mamin dari industri.

Kementrian yang menangani kesehatan masyarakat, obat dan makanan tidak menganggapnya sebagai  racun atau ancaman kesehatan karena berpatokan kepada teori “ambang batas maksimum” semata mengacu ke WHO.

Teori ini agak kontradiktif dengan fikih Islam bahwa “Jika banyaknya memabukkan, maka sedikitnya juga haram.”

Solusi dari alam

“Lantas, kalau tidak dioperasi, solusi lainnya apa dong, Mas?” kejar Arman.

Untuk kasus yang seperti itu, Alec menjelaskan, dari beberapa riset literatur yang ia pelajari, ada dua solusi yang layak dicoba yakni pete dan kolang-kaling.

Alam sepertinya sudah menyiapkan obat bagi setiap penyakit  yang diderita manusia.

Seorang anggota grup komunitas kesehatan di medsos pernah menulis bahwa manfaat pete sudah diteliti oleh peneliti Belanda sejak zaman penjajahan dulu.

Mereka tertarik karena di pedesaan Indonesia,  rata-rata orang tua sering mengkonsumsi pete ini dan jarang mempunyai masalah tulang.

Rata-rata masalah pada orang tua adalah, proses penuaan jaringan ikat yang dibangun oleh kolagen yang terdapat pada kulit, otot, tulang, rambut, kuku.

“Pete juga mengandung albumin, yaitu protein plasma tubuh yang mencapai 60%.  Pete mengandung serat untuk membantu pencernaan, bekerjasama dengan gelatin dan mineral kalium, kalsium, fosfor dan besi yang dikandungnya,” bunyi tulisan itu.

Plus, kaum tua di pedesaan terbilang hidup pas-pasan dan tidak konsumtif sehingga banyak mengandalkan buahan dan sayuran yang terdapat di sekitar lingkungannya.

Akses mereka ke produk mamin pabrikan terbilang sangat terbatas dan jarang. Sehingga, tanpa disadari, gaya hidup yang mereka jalani masih alamiah alias OTG!

Selain pete, kolang-kaling ternyata juga bisa jadi solusi menghindari pisau bedah tulang di ruang operasi.

Menurut nutrisionis dari Lagizi, Jansen Ongko, MSc, RD kolang-kaling memiliki nutrisi tertentu yang bermanfaat bagi tubuh.

Selain tinggi kadar air, kolang-kaling juga tinggi akan kandungan karbohidrat, serat, multivitamin, mineral dan fitonutrisi.

Disebutkan, setidaknya, di dalam 100 gram kolang kaling terdapat 243 mg fosfor, 6 gram karbohidrat, 91 mg kalsium, 0,4 gram protein, 0,2 gram lemak, 1,6 gram serat, 0,5 mg zat besi, dan kalori sebanyak 27 kkal.

Dengan kandungan nutrisi tersebut, kolang kaling dipercaya dapat memberikan manfaat untuk kesehatan tubuh, di antaranya memperkuat tulang karena kalsium yang terkandung di dalamnya dapat membantu menjaga kesehatan tulang.

Sebagai informasi, kebutuhan asupan kalsium orang dewasa berusia 20-50 tahun sekitar 1.000 mg per hari.

“Selain itu, kandungan zat galaktomanan pada kolang-kaling mampu meredakan radang sendi” tulis satu artikel di situs kesehatan Mediskus.

Cukup mengonsumsinya secara rutin, minimal 100 gram kolang kaling setiap hari dengan cara merebusnya tanpa menggunakan gula atau pewarna atau dijadikan manisan dengan menggunakan tambahan gula batu dan daun pandan atau jahe.

“Terima kasih, Mas, atas saran-sarannya,” kata Arman mengakhiri percakapan via Whatsapp sore itu…

(bersambung)

 

 

 

 

Belajar dari pelosok, cara berdemokrasi tanpa mahar

Nama yang tercantum di layar ponselnya cukup familiar. Bedul, (bukan nama sebenarnya), tumben menghubungi Alec. Karena jarang menerima panggilan telpon dari konco lamanya itu, sore itu ponsel langsung dia angkat.

DEPOK (cestarweb): “Lec, lu malam ini ada waktu nggak? Bisa mampir ke kios sebentar, ada yang mau saya diskusikan,” kata Bedul di seberang telpon.

Orang-orang di sekitarnya bisa memanggil namanya dengan sebutan Bang Bedul. Pria kelahiran Lamongan itu, dikenal sebagai RW tajir di lingkungan tempat tinggalnya.

Terakhir kali bertemu dengan pria berkepala cepak ala Apache itu sekitar lima tahun lalu ketika Alec dimintai pendapat tentang plus minus perlu tidaknya pemasangan sentra anjungan tunai mandiri (ATM) di ruko miliknya.

Selepas Isya, Alec memacu motor bututnya ke ruko Bang Bedul. Suasana masih tampak sepi, karena biasanya pada malam minggu suasana di ruko mulai ramai pukul 10.00 malam, saat pentas musik rock mulai digelar.

Setelah berbasa-basi dengan menawarkan makanan dan minuman dari gerai-gerai yang ada di komplek ruko tersebut, Bang Bedul memulai percakapan.

“Gua ditawari oleh Partai (anu) untuk jadi caleg di Depok. Tapi gua harus menyiapkan mahar Rp500 juta buat pengurus partai (DPD),” tutur Bang Bedul.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sejak jaman reformasi bergulir, partai-partai kerap menawarkan posisi caleg kepada orang-orang yang dianggap tajir dan berada dengan kompensasi membayar ‘mahar politik.’

FB_IMG_1493026401605

Di luar itu, Sang Caleg mesti harus menyiapkan lagi dana kampanye untuk mempromosikan dirinya ke tengah masyarakat, biasanya dibantu oleh mesin-mesin partai di wilayah dapil caleg tersebut.

Alhasil, tak sedikit caleg gagal yang mengalami stres dan depresi bahkan ada yang sampai gila karena terlibat utang di sana-sini, demi mewujudkan ambisinya itu.

Sementara caleg yang berhasil lolos ke gedung dewan, mulai menghitung-hitung bagaimana agar bisa cepat ‘balik modal’ dan kalau bisa ‘untung besar’ dari kursi dewan yang ia duduki.

Selain caleg, praktik mahar ini juga sering diterapkan terhadap calon bupati, walikota dan gubernur yang hendak bertarung di pilkada-pilkada.

Jadi, begitu mereka berhasil mendapatkan jabatan kepala daerah, maka sering urusan perijinan dan lelang proyek-proyek di daerah dijadikan lahan basah untuk menumpuk pundit-pundi pribadi dan partainya.

FB_IMG_1488866946303

Kalau hari ini kita dapati banyak kepala daerah yang diseret KPK karena terlibat korupsi, pungli atau gratifikasi, itu semua tak lepas dari proses awal demokratisasi yang kita bangun selama ini.

Bang Bedul terlihat termangu-mangu mendengar cerita Alec, sambil menghirup minuman favoritnya, jus lemon, sajian yang sama yang dihidangkan buat Alec.

“Lantas dalam kasus Ane, gimana dong solusinya?” tanya Bang Bedul.

“Jawabnya simpel saja Bang, tidak perlu! Karena tingkat elektabilitas orang tak bisa hanya karena orang itu dikenal sebagai RW tajir di lingkungannya. Untuk  Dapil Depok paling tidak Abang mesti punya basis massa di dua atau tiga kecamatan. Kalau tidak, usaha Abang hanya akan sia-sia belaka menghabiskan duit dan waktu dengan percuma,” tandas Alec.

Bahasa gaulnya, “Mbok ya bercermin dulu deh, Bang” batin Alec.

Belajar dari pelosok

Meski jaman sekarang identik dengan hal yang serba konsumerisme dan materialisme, tapi di beberapa pelosok nagari (daerah) masih ditemukan praktik pengangkatan pemimpin, dalam hal ini disebut panghulu atau Datuk di mana calon datuk tidak mengeluarkan biaya sepeserpun.

Nama-nama nagari tidak perlu disebutkan, guna menghindari kecemburuan lokalitas.

Di Sumatera Barat, ada beberapa hal dalam tradisi adat mereka yang bisa dijadikan acuan solusi dalam menyikap biaya berdemokrasi yang ‘mahal,’ adalah tiga hal berikut.

  1. Mambangkik batang tarandam (membangkit batang terendam).

Batang yang terendam identik dengan material yang sangat kuat, tahan lama dan bernilai tinggi dan sering dijadikan bahan utama untuk mendirikan sebuah bangunan, dalam hal ini adalah Rumah Gadang.

Ini berlaku ketika gelar pusaka (datuk) telah lama dianggurkan. Mungkin, karena terputusnya keturunan laki-laki, atau bisa juga karena terbentur pada biaya malewakan gala (prosesi pengangkatan gelar datuk) yang belum ada. Terjadi kevakuman dalam waktu yang cukup lama.

Setelah sumber-sumber dana berhasil digali (batang tarandam) dan tokoh yang dianggap layak menjadi datukpun sudah siap, maka dimulailah acara malewakan gala tersebut.

  1. Mangambangkan nan talipek (membuka lipatan)

Ini artinya menghidupkan kembali status sosial atau gelar pusaka adat yang sudah lama tidak dipakai.

Biasanya disebabkan karena belum adanya kesepakatan tentang calon yang dianggap tepat untuk diangkat sebagai panghulu / datuk, mungkin karena faktor Si Calon belum cukup umur, dll.

  1. Manurunkan nan tagantuang (menurunkan yang tergantung)

Pada hakikatnya kurang lebih sama dengan poin 1 dan 2 yakni karena alasan-alasan tertentu baik faktor usia maupun biaya, rencana batagak gala (peresmian gelar datuk) sempat menjadi tertunda alias menggantung untuk waktu lama.

Dari ketiga poin diatas dapat dicermati bagaimana masyarakat Minangkabau sangat berhati-hati dalam menentukan pilihan siapa pemimpin yang pantas buat mereka, dan tak memaksakan diri jika belum siap.

Selain itu, segala biaya yang timbul akibat pemilihan pemimpin itu, ditanggung renteng secara gotong-royong oleh anak kamanakan (karib kerabat dalam kaum).

Sehingga, Si Calon tidak terbebani oleh biaya mahar politik apapun dan tak ada konsekuensi mesti ‘balik modal’ apalagi ‘cari untung’ dalam menjalankan jabatannya, sebagai satu amanah publik.

Ali Cestar
Penulis adalah pemerhati sosial politik, berdomisili di Hambalang, Bogor.

Berjuang sendiri sejak jaman Belanda, sudah menjadi takdir PT Pos kah?

Tubuhnya mulai ringkih karena dimakan usia. Pandangan matanya sudah tak berfungsi lagi karena operasi katarak yang kurang berhasil. Meski begitu, langkah kakinya selalu tegap berjalan ke masjid setiap azan berkumandang. 

SUMEDANG (cestarweb): Haji Emed oleh tetangga satu RT di bilangan Jalan Kebonkol, Sumedang lebih dikenal sebagai imam masjid.

Lelaki tua kelahiran 1939 itu menjalani masa pensiunnya dengan tabah, meski kezaliman demi kezaliman sebagai buah dari kebijakan pemerintah, terus dia alami.

Dengan uang pensiunan yang tak mencapai Rp1 juta per bulan, Haji Emed merasa PT Pos dianaktirikan oleh pemerintah, karena standar ganda kebijakann status pegawai dan pensiunan PT Pos yang tidak setara dengan BUMN lain seperti PT Kereta Api Indonesia (KAI), misalnya.

Meski sama-sama BUMN, berbeda dari PT KAI yang pegawainya sempat menikmati masa pensiun sebagai PNS ketika jawatan itu berubah status menjadi persero, pegawai PT Pos justru diturunkan statusnya menjadi karyawan swasta.

Dalam sejarahnya, PT Pos telah mengalami beberapa kali perubahan nama.

PT Pos berdiri pada 1931 dengan nama Jawatan PTT. Pada 1962 berubah menjadi PN Postel dan berubah lagi pasca G-30S-PKI 1965 – 1978 menjadi PN Pos dan Giro.

Sejak 1978 hingga 1995, Pos menggunakan nama Perum Pos dan Giro sebelum menjadi PT Pos dan Giro sejak 1995 sampai sekarang sesuai PP Nomor 5 Tahun 1995.

“Dulu setiap laba Pos kami setor ke pemerintah.Kini, loyalitas kami kurang dihargai. Pensiun yang kami terima tidak sampai 30% dari pensiun PNS,” keluh Haji Emed, yang diangkat sebagai pegawai Pos pada 1960.

Dari segi peluang bisnis, PT Pos juga terkesan jauh dari perhatian pemerintah.

Berbeda dari BUMN lainnya seperti Garuda Indonesia, misalnya, yang kerap mendapat suntikan modal meski merugi, PT Pos justru harus berjuang menggali peluang bisnisnya sendiri.

Sejak lesunya arus pengiriman surat dan wesel, PT Pos terus  menggali sumber-sumber pendapatan baru seperti membuka gerai Pospay dan Pos Logistik.

Satu-satunya competitive advantage yang masih dimiliki PT Pos hingga kini adalah kekuatan jaringannya yang menjangkau hingga ke kawasan-kawasan pelosok di Tanah Air.

Kekuatan jaringan inilah yang sering dilirik oleh usaha jasa pengiriman seperti TIKI & JNE, misalnya, yang menjadikan PT Pos sebagai mitra perpanjangan tangan delivery mereka untuk menjangkau pelosok.

Selain kecilnya nilai pensiun, Haji Emed juga merasa dizalimi dalam hal pelayanan kesehatan seperti BPJS.

Oleh PT Pos, pensiunan golongan 3A berpangkat PNMPos itu hanya diberi tunjangan untuk BPJS Rp65 ribu per bulan.

“Karena dirujuk oleh dokter umum ke dokter ahli, harus antre di klinik sekian lama dan ujung-ujungnya harus beli obat sendiri di luar yang harganya di atas Rp100 rb karena BPJS hanya memberi obat sesuai standar pelayanan minimal.

Bahkan ada teman pensiunan saya yang mengalami masalah kesehatan serius yang harus antre berjam-jam di rumah sakit, ujung-ujungnya hanya mendapat obat parasetamol,” tutur Haji Emed yang menjalani pensiun sejak 1995.

Masalah melaratnya hidup para pensiunan PT Pos itu sebetulnya bukanlah isu baru.

Pada 2012, masih jaman pemerintahan SBY, 1.000 pegawai PT Pos pernah menggelar unjuk rasa di Jakarta menuntut kesetaraan hak pensiun dengan PNS lainnya.

Pada tahun yang sama, masalah yang menderita 17.000 lebih pensiunan PT Pos pernah dengan lantang disuarakan oleh Rieke Diah Pitaloka di Komisi IX DPR RI.

Waktu itu, pensiunan PT Pos menerima uang pensiunan terendah Rp230 ribu dan tertinggi Rp780 ribu, bandingkan dengan PNS lain pada level (pangkat & jabatan) yang sama yang menerima terendah Rp1.500.000 dan tertinggi Rp2.700.000.

“Yang diterima Pensiunan Pos Indonesia itu sudah sangat tidak layak. Jauh dari cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari dimana harga sembako meningkat setiap saat. Ini membuat para pensiunan itu tak memiliki daya lagi untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya,” kata Rieke seperti dikutip Beritasatu.com.

Dalam dasawarsa terakhir, gaji PNS sipil maupun TNI/Polri, telah terjadi paling tidak telah mengalami lima kali kenaikan gaji hingga 10% tiap kenaikan.

Namun tidak demikian halnya dengan PT Pos.

Pada 2015, Badan Kepegawaian Negara (BKN) sempat juga mengkaji masalah tersebut, namun hingga kini tidak jelas follow-up nya bagaimana.

“Apa memang takdir kami untuk terus berjuang sejak jaman Belanda sampai sekarang ini?” tanya Haji Emed.

Standar ganda kebijakan pemerintah juga dialami cucunya belum lama berselang.

Akong, cucu kesayangan lelaki 78 tahun itu yang baru lulus SBMPTN, diharuskan membayar uang  kuliah hampir Rp4 juta per semester di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, atau kurang lebih sama dengan rata-rata uang kuliah di perguruan tinggi swasta seperti UIN Solo, misalnya.

Usut punya usut, ternyata pihak rektorat tidak menyetujui program Bidik Misi cucunya itu, meski sudah dilengkapi dengan slip gaji Rp2 juta / bulan dari kantor tempat orang tuanya bekerja.

“Kalau toh uang kuliahnya sama dengan swasta, apa poin nya lulus SBMPTN dan kuliah di negeri?” kata Sumijati, putri sulung Haji Emed.

Boleh jadi, keluarga Haji Emed memang sudah ditakdirkan untuk terus berjuang melawan ketidakadilan di dalam negeri Bumi Pertiwi ini.

Dalam bisu, Haji Emed terus melangkah menuju masjid favoritnya, tempat ia bebas melampiaskan semua keluh kesahnya kepada Sang Pemilik jagad semesta…

Ali Cestar
Penulis adalah redaktur media logistik, berdomisili di Hambalang

 

 

Tips pengurusan paspor di kantor imigrasi Depok

Jika Anda warga Depok hendak mengurus paspor di Kantor Imigrasi Depok dan berharap diprioritaskan, Anda akan kecele. Kenapa? Karena pelayanan di Kantor Imigrasi tidak mengenal prioritas wilayah. WNI berdomisili di daerah manapun bisa mengurus paspor di kantor imigrasi mana saja.

DEPOK (cestarweb): Bagi Alec, seorang warga Depok, yang berangkat dari rumah sejak habis subuh dan ikut antrian sejak pukul 05.30 WIB di Kantor Imigrasi Depok, perlakuan ini terkesan kurang adil.

Karena, meski datang pagipun, ternyata antrian sudah panjang dan ia berada di barisan paling belakang.

Pada hari Kamis 6 Juli 2017 itu, sesuai pengakuan pegawai kantor tersebut, memang warga Depok yang datang mengurus paspor hanya segelintir.

Ramenya antrian justru umumnya berasal dari penduduk Jakarta Selatan dan Kota Bogor yang sengaja datang ke Imigrasi Depok karena kantor imigrasi di wilayah mereka selalu membludak.

Menurut pengamatan Alec, standar pelayanan tiap pegawai bagian pengambilan data sekitar 30 dokumen per hari.

Jika satu kantor memiliki 7 (tujuh) fasilitas sidik jari dan pengambilan foto, maka jumlah pemohon yang bisa dilayani maksimal per hari adalah 7×30=210 pemohon.

Inti pelayanan terletak pada pengambilan data pemohon. Ini termasuk wawancara, pengambilan sidik jari dan foto di ruangan yang sama.

Berada di urutan 10 terakhir, membuat Alec berpikir panjang apa yang harus dilakukan sembari menunggu nomor antriannya dipanggil, yang diperkirakan bisa menunggu berjam-jam sebelum gilirannya tiba.

Waktu tunggu ia menfaatkan untuk sholat zuhur di masjid terdekat. Usai sholat, Alec menyempatkan makan siang di kantin belakang.

Di Kantor Imigrasi Depok, tersedia speaker di sekeliling gedung sehingga pemohon bisa mendengar tiap nomor antrian yang dipanggil.

Celakanya, di kantin belakang, speaker alias pengeras suara tidak ada, sehingga Alec tidak tahu kalau nomor antriannya sudah dipanggil.

Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 sore ketika Alec melangkah masuk ke dalam ruang tunggu dan kaget karena nomor antriannya sudah terlewati.

“Maaf, Bos, saya sedang makan siang di kantin belakang dan nggak dengar nomor dipanggil karena di situ tak ada speakernya,” kata Alec menyampaikan protes lewat satpam ruang foto.

Si Satpam lantas masuk dan terlihat berkoordinasi dengan seorang petugas di dalam. Tak lama kemudian, Si Satpam mempersilakan Alec masuk.

Oh ya, soal antrian, alangkah baiknya sebelum Anda ke kantor imigrasi segala persyaratan dipersiapkan terlebih dulu selengkapnya.

Syarat utama adalah KTP, Kartu Keluarga, Akte Kelahiran atau ijazah SD/SMP/SMA, bukan ijazah sarjana karena tidak ada keterangan ortunya, semua asli dan fotokopi dibawa dan jangan lupa meterai.

Karena, di belakang gedung juga  terjadi antrian foto kopi dan pembelian meterai.

Walau cuma hendak membeli meterai, Anda tetap harus antri di barisan karena fotokopi dan meterai dilayani oleh satu loket yang sama.

Usai pengambilan data pemohon, sidik jari dan foto, Anda akan diberi bukti nomor registrasi untuk diserahkan ke Bank Mandiri.

Pembayaran mesti dilakukan paling lambat 3 (tiga) hari sejak nomor registrasi diterima.

Jika sudah dibayar, paspor siap diambil setelah 3 (tiga) hari kerja sejak pembayaran dilakukan.

Poinnya adalah, untuk mengurus paspor, Anda harus siap meluangkan waktu seharian di Kantor Imigrasi, jika perlu dari pagi sampai sore hari.

IMG_20170713_115533.jpg

Kantor Imigrasi Kelas II Depok berada di komplek Pemda/DPR Kota Depok

IMG_20170719_081103.jpg

Contoh antrian yang tak perlu karena hanya hendak beli meterai

IMG_20170719_091642.jpg

Suasana antrian untuk pengecekan kelengkapan dokumen

IMG_20170719_134643.jpg

Menunggu pengambilan paspor, tiga hari selesai sejak pembayaran ke bank dilakukan

 

 

 

Minta-minta, antara dilema & kausalitas (bagian 2)

  • Umurnya sekitar baru sekitar delapan tahun. Kepalanya dibalut kerudung atau tepatnya jilbab. Suaranya nyaring dan lantang, menunjukkan ia suka ngoceh. Raut mukanya khas Indonesia, berkulit sawo matang dan mata yang agak sipit. Gelas plastik bekas air mineral ia tenteng kemana-mana.

“Pak beri sedekah dong Pak. Beri sedekah, Pak,” katanya dengan mengiba-iba, sesaat setelah Alec keluar dari toko swalayan Indomaret yang letaknya di Jalan Pahlawan, tak jauh dari Polsek Citeureup.

Inilah ujian terberat dalam perjalanan hidup seorang Alec. Bertemu dengan anak kecil yang mengemis meminta-minta belas kasihan. Diberi salah, nggak diberipun salah.

Untuk beberapa saat Alec terdiam bisu dalam keheningan. Berbagai perasaan berkecamuk dalam pikirannya.

Alec tak serta-merta panik. Beruntung, Indomaret menyediakan kursi dan meja untuk pengunjung yang ingin bersantai di halaman luar.

Tak urung, Si Anak pun ikut duduk berhadapan langsung Alec, sembari mulutnya tak henti-henti berkata, “Pak berilah saya sedekah, Pak.”

“Kamu tahu apa yang mungkin menimpa kamu, anak perempuan berkeliaran di jalan-jalan dan di pasar? Kalau ada apa-apa sama kamu, kamu dijahili atau dijahati orang, siapa yang akan bertanggung jawab?,” tutur Alec memulai percakapan.

“Orangtua saya lah, Pak,” katanya polos.

Dengan sudut matanya, Alec melihat ada seorang pria setengah baya duduk di atas motor sambil memperhatikan ke arah toko swalayan tersebut.

Alec berharap, pria tersebut adalah orangtua Si Anak. Ternyata bukan. Ia langsung tancap gas begitu seorang Ibu menghampirinya usai berbelanja dari toko tersebut.

“Emang kamu disuruh orangtua mengemis?” lanjut Alec.

Sadar pertanyaannya agak menjebak, Si Anak buru-buru mengoreksi.

“Bukan Pak. Saya mengemis atas kemauan saya sendiri,” tutur gadis kecil yang mengaku bernama Ida itu.

“Memangnya ayah dan ibu kamu pekerjaannya apa?” lanjut Alec.

“Ayah saya pemulung, Pak. Ibu saya di rumah saja ngurusin si dede (adik bayi),” jawabnya sambil memperagakan orang yang memungut sesuatu dan menyortirnya.

Saat berikutnya ia juga memperagakan aksi seorang  ibu yang sedang memomong bayi di pangkuannya.

“Seusia kamu ini harusnya berada di sekolah, bukan di pasar,” lanjut Alec.

Ia menjawab tidak pernah duduk di bangku sekolah karena terbentur biaya.

“Hari gini masih ada anak Indonesia yang sempat tidak mengecap pendidikan dasar?” batin Alec kurang percaya.

“Coba baca ini, apa katanya di situ,” kata Alec sembari menunjuk ke sebuah stiker yang ditempel di dinding kaca toko swalayan tersebut.

“G, R, A, gra, T, I, S, tis. Gratis!” ucapnya bersemangat.

Semakin Alec yakin bahwa anak itu memang sudah dilatih sedemikian rupa untuk berdusta kepada orang-orang yang dimintai sedekah oleh dia.

Masa anak kecil yang tak pernah duduk dibangku SD bisa membaca sedemikian rupa?

Untuk lebih memastikan dugaannya bahwa Si Anak memang dilatih sebagai pengemis profesional, Alec melanjutkan pertanyaan,

“Kamu sudah berapa jam berada dekat sini. Dan sudah dapat duit berapa?” Tanya Alec.

“Saya sudah sejam-an di sini, Pak, baru dapat duit Rp12 ribu,” paparnya.

Bayangkan, dalam satu jam dia sudah mengantongi Rp12 ribu. Cukup lima jam saja sehari dia mengemis, tiap hari dia sudah membawa Rp60 ribu pulang!

“Minta sedekahnya dong, Pak,” katanya kembali berulang kali.

Sebelum beranjak pergi, Alecpun mengakhiri tanya jawab siang hari itu dengan pernyataan,

“Kalau Bapak beri kamu sedekah, Bapak bukan dapat pahala, tapi justru berdosa,” katanya.

“Lho kok gitu, sih, Pak?” balasnya tidak percaya.

“Kalau Bapak kasih kamu sedekah, kamu pasti akan terus ketagihan mengemis, iya kan? Kalau ada apa-apa sama kamu, Bapak tidak mau ikut menanggung dosanya,” papar Alec.

Sambil beranjak pergi dan iapun menyumpah-nyumpah, “Kalau tahu nggak akan dikasih, saya nggak perlu  duduk lama-lama!”

Yang ia mungkin belum mengerti ialah bahwa sekecil apapun perbuatan, pasti akan diperlihatkan sebab akibatnya di yaum’l hisab nanti.

Sebagian kita mungkin berpikir bahwa memberi sedekah kepada anak jalanan itu adalah perbuatan baik.

Tapi dibalik itu, kita justru membantu memakmurkan kefakiran di negeri ini karena membuat orang nyaman cari jalan pintas dapat duit, yaitu dengan mengemis!

Apalagi, mengeksploitasi anak di bawah umur jelas-jelas melanggar HAM yang berat.

Wallahu’alam

IMG_20170807_164824

 

Minta-minta, antara dilema & kausalitas (bagian 1)

Minta-minta, antara dilema & kausalitas (bagian 1)

Pakaiannya sopan, rapi & tertutup hijab seperti idealnya seorang Muslimah, berdiri tenang seperti patung di depan pintu masuk Kantor Pos Ciriung, Cibinong, Bogor. Kepada setiap pengunjung yang hendak masuk, ia tersenyum, dan disodorinya satu amplop.

Karena buru-buru ada urusan, Alec menerima amplop tersebut sembari berkata, “Nanti saya baca, ya.”

Di dalam kantor pos itu, sembari menunggu namanya dipanggil karena antrian, Alec membuka amplop yang tadi ia terima.

Ternyata di amplop itu tertera permintaan sedekah untuk yayasan panti asuhan. Alec kemudian teringat, tahun lalu di tempat yang sama ia pernah disodori amplop sedekah juga.

Hanya saja bedanya, tahun lalu yang berbeda adalah orangnya, meski sama-sama perempuan, nama dan lokasi yayasan. Tak perlu kritis-kritis amat untuk bisa membaca bahwa kantor pos tersebut telah menjadi lokasi favorit untuk minta sedekah.

Keluar dari kantor pos, sembari menyerahkan amplop yang ia selipi uang seikhlasnya, Alecpun mencoba mengajukan beberapa pertanyaan.

Ternyata benar, ibu tersebut, sebut saja namanya Ita, menunjukkan sejumlah dokumen yang menyatakan ia bekerja sebagai pencari dana untuk sebuah yayasan yatim piatu.

“Ada nih Pak proposal lengkapnya,” kata Ita sambil menyodorkan satu berkas.

Badan hukum jelas, alamat jelas, nama-nama pengurus dan pengelola pun tertera. Itu semua legalitas, yang tentu saja bisa diurus, dan belum menunjukkan fakta kegiatan sesungguhnya.

“Kami tiap malam Jumat ada pengajian. Silakan Bapak datang kalau hendak bersilaturahmi dengan anak-anak yatim piatu yang kami bina,” tuturnya.

Memang, dalam daftar yang  tertera dalam proposal, disebutkan ada sekitar 55 anak yatim dan piatu serta 20 orang dhuafa yang menurut Ita semuanya adalah janda-janda tua.

“Legalitas itu penting kalau yayasan Mbak ingin berurusan dengan bantuan pemerintah. Kalau kita yang partikelir ini, yang penting kegiatannya faktual ada, bukan fiktif,” kata Alec.

Alec menjelaskan bahwa mengasuh yatim piatu termasuk perbuatan besar dan mulia.

“Mbak nggak perlu repot-repot mesti nongkrong di depan kantor pos meminta-minta kepada setiap pengunjung. Kesannya gimana, gitu, jadi kurang sreg aja,” papar Alec.

Selidik punya selidik, ternyata Ita tidak sendirian menjalani usaha penggalangan dana tersebut. Menurut pengakuan dia, ada sekitar 9-10 orang yang disebar di beberapa tempat untuk melakukan hal yang sama.

Sebetulnya, dibekali proposal lengkap itu sudah memadai untuk disebar ke toko-toko yang bertebaran di sepanjang jalan Mayor Oking yang terbentang dari Cibinong hingga Citeureup. Ciriung masuk dalam kawasan ini.

Kenapa hal itu tidak dilakukan dan justru memilih kantor pos sebagai tempat menunggu orang yang keluar masuk sepanjang hari?

Bagi orang awam seperti Alec, harapannya sederhana saja, bagaimana bantuan yang ia berikan, sekecil atau sebesar apapun sampai kepada nawaitu awalnya, anak-anak yatim dan piatu.

“Gini aja Mbak, tolong alamatnya, begitu ada waktu luang saya main ke sana,” tutur Alec.

“Kok kayak mau repot-repot segala. Tinggal kasih aja, yang penting ikhlas, apa susahnya sih?” barangkali begitu pikiran Si Ibu.

Logika tasawufnya nya sederhana saja. Urusan yatim piatu  itu bukan urusan sepele dalam agama. Dan memang, seorang Muslim harus mau repot-repot mengurusinya. Kalau nggak mau repot, mending nggak usah beramal sekalian.

Kausalitasnya, tanpa kita sadari kebaikan dan kemurahan hati kita bisa mendorong orang untuk menjadikan minta-minta sebagai mata pencarian tetap, yang pada gilirannya mendukung mentalitas malas bagi anak bangsa.

Karena itu, jangan heran jaman sekarang minta-minta kerap dijadikan modus dan bahkan isi proposalpun banyak yang fiktif.

Dan, sebagai pewacana kewirausahaan, Alec kerap mewanti-wanti muridnya untuk menghargai setiap sen yang mereka dapatkan dengan susah payah.

“Jangan pelit karena sifat pelit (bakhil) itu merusak, tapi jangan juga boros nanti kalian akan terhina,” kata Alec dalam satu kesempatan tatap muka di kelas.

Islam mengajarkan sikap yang sederhana yakni di tengah-tengah antara keduanya.

Tiap Muslim hendaklah berperilaku fathonah (cerdas) dan amanah dalam mengelola kekayaannya.

Artinya, setiap sen yang yang kita dapatkan atau kita belanjakan hendaklah dilakukan dengan cara yang bertanggungjawab, dari mana dan untuk apa, karena suatu ketika pasti akan ditanya, paling tidak di alam kubur sana.

Bersambung…