3 Kunci sukses dalam berwirausaha

IMG_20170514_103653

Ada dua hal utama yang luput dalam proses belajar dan mengajar di sekolah selama ini terutama untuk mata pelajaran kewirausahaan.

Pertama, siswa terlalu banyak dijejali dengan teori-teori kewirausahaan yang kerap membuat siswa jenuh dan bingung, terutama karena minimnya aksi nyata berupa praktek langsung di lapangan seperti yang disarankan oleh sesepuh wirausaha Tanah Air, Bob Sadino (alm) yang lebih menekankan pentingnya ‘action’ ketimbang ocehan belaka.

Kedua, kurikulum dan buku-buku panduan kewirausahaan lebih banyak membahas faktor-faktor eksternal dan terkesan mengabaikan hal yang paling prinsip dalam membentuk karakter wirausaha yakni perbaikan dari dalam diri sendiri terutama attitude (sikap) wirausahawan dan mentalitas siswa.

Untuk mengakali kealpaan ini, Alec, seorang guru kewirausahaan (KWU) di sebuah SMK di Citeureup, mencoba menerapkan attitude adjustment (penyesuaian sikap) terhadap siswa yang dibarengi dengan praktek lapangan, dalam hal ini pemasaran, karena hampir semua bidang usaha menjadikan pemasaran sebagai ujung tombak bisnisnya.

Artinya, kalau siswa sudah terlatih sejak dini dalam hal pemasaran, begitu tamat sekolah mereka sudah siap terjun ke dalam realita, bisa memasarkan produk barang dan jasa apa saja.

Untuk penyesuaian sikap wirausaha, Alec menyuntikkan 3 sifat unggulan yang diterapkan proklamator RI, Bapak Koperasi sekaligus ekonom, Muhammad Hatta (Bung Hatta) sejak dari masa mudanya yakni, jujur, hemat & santun.

1.Jujur

Jujur dalam berwirausaha itu penting. Pedagang yang tidak jujur dalam menjalankan usahanya, perlahan tapi pasti, akan ditinggalkan pelanggan (buyer atau konsumen).

Dalam dunia bisnis, jujur ini menghasilkan satu mentalitas yang kerap disebut sebagai trust (kepercayaan). Tanpa ini, usaha apapun hanya akan menggali kuburan sendiri.

Dua sifat rasulullah yang bisa menggambarkan mentalitas seperti ini, yakni shiddiq (jujur) dan amanah (bisa dipercaya).

2. Hemat

Sikap hemat bisa mencerminkan bakal berhasil tidaknya seseorang dalam menjalankan usahanya. Alec menggambarkan ‘hemat’ ini  sebagai grafik yang naik.

Meskipun omset hanya Rp100 ribu per hari, tapi pengeluaran bisa diteken menjadi Rp99 ribu per hari, si wirausahaan masih punya ‘napas’ untuk membesarkan usahanya, meski dengan Rp1.000 per hari.

Hanya tinggal tunggu waktu saja omsetnya melejit dan orang tersebut bisa dianggap sukses secara finansial.

Sebaliknya, meski beromset Rp1 miliar per hari, tapi pengeluaran mencapai satu miliar seratus ribu rupiah per hari, secara indikator, grafiknya jelas menurun, dan hanya masalah waktu saja sebelum usaha itu bangkrut.

Sifat rasulullah yang kompatibel dengan mentalitas seperti ini adalah fathonah (cerdas).

Pintar dalam mengelola (a) uang, (b) barang dan (c) orang, tiga unsur utama yang harus diperhatikan dalam manajemen bisnis apapun.

3. Santun

Santun identik dengan respek (rasa hormat). Seseorang yang menghargai orang lain, akan disegani oleh orang sekitarnya. Banyak masalah rumit yang bisa jadi sederhana hanya karena hadirnya ‘respek’ ini.

Sebaliknya, banyak masalah sepele yang menjadi rumit hanya karena kurangnya rasa hormat, respek, segan-menyegani antarsesama.

Riuh-rendah menjelang dan sesudah pilkada DKI pada April 2017 lalu yang diwarnai  berbagai fitnah, pro dan kontra, hasutan serta demo yang berjilid-jilid, membuktikan bahwa hilangnya rasa santun hanya menimbulkan masalah ke masyarakat.

Padahal rasulullah sudah memberikan contoh. Sifat beliau yang terkait dengan mentalitas santun ini adalah tabligh (delivery). Rasul dalam menyampaikan dakwahnya selalu dengan rasa santun dan lemah-lembut, bukan garang dan bengis, apalagi bicara kasar.

Karena sikap santun beliau kepada sesama makhluk, hingga beliaupun mendapat rasa hormat dari Tuhan dan Malaikat-Nya.

“Sungguh Allah dan para Malaikat-Nya hormat kepada Nabi. Wahai orang beriman, hormatilah dia dengan dibarengi salam sebagaimana orang yang memberi ucapan salam yang pantas.”

Meski huruf  yang dipakai sama dengan kata yang berarti shalat yakni shod (SH) dan lam (L), jumhur ulama mengartikan shallu ‘alaihi sebagai ber-shalawat atasnya (nabi) untuk membedakannya dari shallu-nya sholat.

Prinsip dasarnya sama, baik sholat maupun shalawat adalah sama-sama menunjukkan rasa hormat, meski dengan cara yang agak berbeda.

Artinya, setiap makhluk, perlu menebarkan sikap santun, saling hormat (respek) dan memberi salam kepada sesamanya. Dengan begitu, apa yang sebetulnya sulit akan menjadi mudah, masalah yang tak perlu jadi tidak perlu ada.

Jika tiga masalah internal tersebut sudah beres, insya Allah, gerbang kesuksesan bakal menanti di depan mata. Ini berlaku bagi siapa saja.

Bahkan, Alec berani sesumbar bahwa jika ketiga sifat itu hadir dalam diri siswa, maka 99,99% siswa tersebut berpeluang sukses di masa depan. Nothing else matters!

wallahu’alam bi sh showab

Hambalang, 14 Mei 2017

Ali Cestar

Keterangan gambar: Para peserta pelatihan kewirausahaan untuk praktek pemasaran di Kios Pelatihan Kewirausahaan “Business Warriors” di Jalan Raya Tajur-Leuwibilik, Citeureup, Bogor pada Minggu, 14 Mei 2017.

  1. Annisa Rahmawati
  2. Aprilia Damayanti
  3. Cici Nurhayati
  4. Hilda Lestari
  5. Ikbaludin
  6. M. Nazar Ali Solihin
  7. Miah Melani
  8. Neng Indah Muharom
  9. Padli
  10. Rohmatullah
  11. Runtani
  12. Shifa Musdalifah
  13. Siti Jenab
  14. Siti Lomrah
  15. Siti Nurazizah
  16. Susi Sulastri
  17. Yuli Yanti
  18. Abdul Rohman
  19. Abi Ainul Hisbi
  20. Ahlan Saputra
  21. Khaerul Anwar
  22. Nurbagia
  23. Wahyudin
  24. Rismayani
  25. Egar Ramdani
  26. Enjay Saputra
  27. Yatna
  28. Didin

IMG_20170514_091716.jpg

IMG_20170514_102847

IMG_20170514_110006

IMG_20170514_121906

IMG_20170514_090445

Advertisements