Minta-minta, antara dilema & kausalitas (bagian 2)

  • Umurnya sekitar baru sekitar delapan tahun. Kepalanya dibalut kerudung atau tepatnya jilbab. Suaranya nyaring dan lantang, menunjukkan ia suka ngoceh. Raut mukanya khas Indonesia, berkulit sawo matang dan mata yang agak sipit. Gelas plastik bekas air mineral ia tenteng kemana-mana.

“Pak beri sedekah dong Pak. Beri sedekah, Pak,” katanya dengan mengiba-iba, sesaat setelah Alec keluar dari toko swalayan Indomaret yang letaknya di Jalan Pahlawan, tak jauh dari Polsek Citeureup.

Inilah ujian terberat dalam perjalanan hidup seorang Alec. Bertemu dengan anak kecil yang mengemis meminta-minta belas kasihan. Diberi salah, nggak diberipun salah.

Untuk beberapa saat Alec terdiam bisu dalam keheningan. Berbagai perasaan berkecamuk dalam pikirannya.

Alec tak serta-merta panik. Beruntung, Indomaret menyediakan kursi dan meja untuk pengunjung yang ingin bersantai di halaman luar.

Tak urung, Si Anak pun ikut duduk berhadapan langsung Alec, sembari mulutnya tak henti-henti berkata, “Pak berilah saya sedekah, Pak.”

“Kamu tahu apa yang mungkin menimpa kamu, anak perempuan berkeliaran di jalan-jalan dan di pasar? Kalau ada apa-apa sama kamu, kamu dijahili atau dijahati orang, siapa yang akan bertanggung jawab?,” tutur Alec memulai percakapan.

“Orangtua saya lah, Pak,” katanya polos.

Dengan sudut matanya, Alec melihat ada seorang pria setengah baya duduk di atas motor sambil memperhatikan ke arah toko swalayan tersebut.

Alec berharap, pria tersebut adalah orangtua Si Anak. Ternyata bukan. Ia langsung tancap gas begitu seorang Ibu menghampirinya usai berbelanja dari toko tersebut.

“Emang kamu disuruh orangtua mengemis?” lanjut Alec.

Sadar pertanyaannya agak menjebak, Si Anak buru-buru mengoreksi.

“Bukan Pak. Saya mengemis atas kemauan saya sendiri,” tutur gadis kecil yang mengaku bernama Ida itu.

“Memangnya ayah dan ibu kamu pekerjaannya apa?” lanjut Alec.

“Ayah saya pemulung, Pak. Ibu saya di rumah saja ngurusin si dede (adik bayi),” jawabnya sambil memperagakan orang yang memungut sesuatu dan menyortirnya.

Saat berikutnya ia juga memperagakan aksi seorang  ibu yang sedang memomong bayi di pangkuannya.

“Seusia kamu ini harusnya berada di sekolah, bukan di pasar,” lanjut Alec.

Ia menjawab tidak pernah duduk di bangku sekolah karena terbentur biaya.

“Hari gini masih ada anak Indonesia yang sempat tidak mengecap pendidikan dasar?” batin Alec kurang percaya.

“Coba baca ini, apa katanya di situ,” kata Alec sembari menunjuk ke sebuah stiker yang ditempel di dinding kaca toko swalayan tersebut.

“G, R, A, gra, T, I, S, tis. Gratis!” ucapnya bersemangat.

Semakin Alec yakin bahwa anak itu memang sudah dilatih sedemikian rupa untuk berdusta kepada orang-orang yang dimintai sedekah oleh dia.

Masa anak kecil yang tak pernah duduk dibangku SD bisa membaca sedemikian rupa?

Untuk lebih memastikan dugaannya bahwa Si Anak memang dilatih sebagai pengemis profesional, Alec melanjutkan pertanyaan,

“Kamu sudah berapa jam berada dekat sini. Dan sudah dapat duit berapa?” Tanya Alec.

“Saya sudah sejam-an di sini, Pak, baru dapat duit Rp12 ribu,” paparnya.

Bayangkan, dalam satu jam dia sudah mengantongi Rp12 ribu. Cukup lima jam saja sehari dia mengemis, tiap hari dia sudah membawa Rp60 ribu pulang!

“Minta sedekahnya dong, Pak,” katanya kembali berulang kali.

Sebelum beranjak pergi, Alecpun mengakhiri tanya jawab siang hari itu dengan pernyataan,

“Kalau Bapak beri kamu sedekah, Bapak bukan dapat pahala, tapi justru berdosa,” katanya.

“Lho kok gitu, sih, Pak?” balasnya tidak percaya.

“Kalau Bapak kasih kamu sedekah, kamu pasti akan terus ketagihan mengemis, iya kan? Kalau ada apa-apa sama kamu, Bapak tidak mau ikut menanggung dosanya,” papar Alec.

Sambil beranjak pergi dan iapun menyumpah-nyumpah, “Kalau tahu nggak akan dikasih, saya nggak perlu  duduk lama-lama!”

Yang ia mungkin belum mengerti ialah bahwa sekecil apapun perbuatan, pasti akan diperlihatkan sebab akibatnya di yaum’l hisab nanti.

Sebagian kita mungkin berpikir bahwa memberi sedekah kepada anak jalanan itu adalah perbuatan baik.

Tapi dibalik itu, kita justru membantu memakmurkan kefakiran di negeri ini karena membuat orang nyaman cari jalan pintas dapat duit, yaitu dengan mengemis!

Apalagi, mengeksploitasi anak di bawah umur jelas-jelas melanggar HAM yang berat.

Wallahu’alam

IMG_20170807_164824

 

Minta-minta, antara dilema & kausalitas (bagian 1)

Minta-minta, antara dilema & kausalitas (bagian 1)

Pakaiannya sopan, rapi & tertutup hijab seperti idealnya seorang Muslimah, berdiri tenang seperti patung di depan pintu masuk Kantor Pos Ciriung, Cibinong, Bogor. Kepada setiap pengunjung yang hendak masuk, ia tersenyum, dan disodorinya satu amplop.

Karena buru-buru ada urusan, Alec menerima amplop tersebut sembari berkata, “Nanti saya baca, ya.”

Di dalam kantor pos itu, sembari menunggu namanya dipanggil karena antrian, Alec membuka amplop yang tadi ia terima.

Ternyata di amplop itu tertera permintaan sedekah untuk yayasan panti asuhan. Alec kemudian teringat, tahun lalu di tempat yang sama ia pernah disodori amplop sedekah juga.

Hanya saja bedanya, tahun lalu yang berbeda adalah orangnya, meski sama-sama perempuan, nama dan lokasi yayasan. Tak perlu kritis-kritis amat untuk bisa membaca bahwa kantor pos tersebut telah menjadi lokasi favorit untuk minta sedekah.

Keluar dari kantor pos, sembari menyerahkan amplop yang ia selipi uang seikhlasnya, Alecpun mencoba mengajukan beberapa pertanyaan.

Ternyata benar, ibu tersebut, sebut saja namanya Ita, menunjukkan sejumlah dokumen yang menyatakan ia bekerja sebagai pencari dana untuk sebuah yayasan yatim piatu.

“Ada nih Pak proposal lengkapnya,” kata Ita sambil menyodorkan satu berkas.

Badan hukum jelas, alamat jelas, nama-nama pengurus dan pengelola pun tertera. Itu semua legalitas, yang tentu saja bisa diurus, dan belum menunjukkan fakta kegiatan sesungguhnya.

“Kami tiap malam Jumat ada pengajian. Silakan Bapak datang kalau hendak bersilaturahmi dengan anak-anak yatim piatu yang kami bina,” tuturnya.

Memang, dalam daftar yang  tertera dalam proposal, disebutkan ada sekitar 55 anak yatim dan piatu serta 20 orang dhuafa yang menurut Ita semuanya adalah janda-janda tua.

“Legalitas itu penting kalau yayasan Mbak ingin berurusan dengan bantuan pemerintah. Kalau kita yang partikelir ini, yang penting kegiatannya faktual ada, bukan fiktif,” kata Alec.

Alec menjelaskan bahwa mengasuh yatim piatu termasuk perbuatan besar dan mulia.

“Mbak nggak perlu repot-repot mesti nongkrong di depan kantor pos meminta-minta kepada setiap pengunjung. Kesannya gimana, gitu, jadi kurang sreg aja,” papar Alec.

Selidik punya selidik, ternyata Ita tidak sendirian menjalani usaha penggalangan dana tersebut. Menurut pengakuan dia, ada sekitar 9-10 orang yang disebar di beberapa tempat untuk melakukan hal yang sama.

Sebetulnya, dibekali proposal lengkap itu sudah memadai untuk disebar ke toko-toko yang bertebaran di sepanjang jalan Mayor Oking yang terbentang dari Cibinong hingga Citeureup. Ciriung masuk dalam kawasan ini.

Kenapa hal itu tidak dilakukan dan justru memilih kantor pos sebagai tempat menunggu orang yang keluar masuk sepanjang hari?

Bagi orang awam seperti Alec, harapannya sederhana saja, bagaimana bantuan yang ia berikan, sekecil atau sebesar apapun sampai kepada nawaitu awalnya, anak-anak yatim dan piatu.

“Gini aja Mbak, tolong alamatnya, begitu ada waktu luang saya main ke sana,” tutur Alec.

“Kok kayak mau repot-repot segala. Tinggal kasih aja, yang penting ikhlas, apa susahnya sih?” barangkali begitu pikiran Si Ibu.

Logika tasawufnya nya sederhana saja. Urusan yatim piatu  itu bukan urusan sepele dalam agama. Dan memang, seorang Muslim harus mau repot-repot mengurusinya. Kalau nggak mau repot, mending nggak usah beramal sekalian.

Kausalitasnya, tanpa kita sadari kebaikan dan kemurahan hati kita bisa mendorong orang untuk menjadikan minta-minta sebagai mata pencarian tetap, yang pada gilirannya mendukung mentalitas malas bagi anak bangsa.

Karena itu, jangan heran jaman sekarang minta-minta kerap dijadikan modus dan bahkan isi proposalpun banyak yang fiktif.

Dan, sebagai pewacana kewirausahaan, Alec kerap mewanti-wanti muridnya untuk menghargai setiap sen yang mereka dapatkan dengan susah payah.

“Jangan pelit karena sifat pelit (bakhil) itu merusak, tapi jangan juga boros nanti kalian akan terhina,” kata Alec dalam satu kesempatan tatap muka di kelas.

Islam mengajarkan sikap yang sederhana yakni di tengah-tengah antara keduanya.

Tiap Muslim hendaklah berperilaku fathonah (cerdas) dan amanah dalam mengelola kekayaannya.

Artinya, setiap sen yang yang kita dapatkan atau kita belanjakan hendaklah dilakukan dengan cara yang bertanggungjawab, dari mana dan untuk apa, karena suatu ketika pasti akan ditanya, paling tidak di alam kubur sana.

Bersambung…

 

 

3 Kunci sukses dalam berwirausaha

IMG_20170514_103653

Ada dua hal utama yang luput dalam proses belajar dan mengajar di sekolah selama ini terutama untuk mata pelajaran kewirausahaan.

Pertama, siswa terlalu banyak dijejali dengan teori-teori kewirausahaan yang kerap membuat siswa jenuh dan bingung, terutama karena minimnya aksi nyata berupa praktek langsung di lapangan seperti yang disarankan oleh sesepuh wirausaha Tanah Air, Bob Sadino (alm) yang lebih menekankan pentingnya ‘action’ ketimbang ocehan belaka.

Kedua, kurikulum dan buku-buku panduan kewirausahaan lebih banyak membahas faktor-faktor eksternal dan terkesan mengabaikan hal yang paling prinsip dalam membentuk karakter wirausaha yakni perbaikan dari dalam diri sendiri terutama attitude (sikap) wirausahawan dan mentalitas siswa.

Untuk mengakali kealpaan ini, Alec, seorang guru kewirausahaan (KWU) di sebuah SMK di Citeureup, mencoba menerapkan attitude adjustment (penyesuaian sikap) terhadap siswa yang dibarengi dengan praktek lapangan, dalam hal ini pemasaran, karena hampir semua bidang usaha menjadikan pemasaran sebagai ujung tombak bisnisnya.

Artinya, kalau siswa sudah terlatih sejak dini dalam hal pemasaran, begitu tamat sekolah mereka sudah siap terjun ke dalam realita, bisa memasarkan produk barang dan jasa apa saja.

Untuk penyesuaian sikap wirausaha, Alec menyuntikkan 3 sifat unggulan yang diterapkan proklamator RI, Bapak Koperasi sekaligus ekonom, Muhammad Hatta (Bung Hatta) sejak dari masa mudanya yakni, jujur, hemat & santun.

1.Jujur

Jujur dalam berwirausaha itu penting. Pedagang yang tidak jujur dalam menjalankan usahanya, perlahan tapi pasti, akan ditinggalkan pelanggan (buyer atau konsumen).

Dalam dunia bisnis, jujur ini menghasilkan satu mentalitas yang kerap disebut sebagai trust (kepercayaan). Tanpa ini, usaha apapun hanya akan menggali kuburan sendiri.

Dua sifat rasulullah yang bisa menggambarkan mentalitas seperti ini, yakni shiddiq (jujur) dan amanah (bisa dipercaya).

2. Hemat

Sikap hemat bisa mencerminkan bakal berhasil tidaknya seseorang dalam menjalankan usahanya. Alec menggambarkan ‘hemat’ ini  sebagai grafik yang naik.

Meskipun omset hanya Rp100 ribu per hari, tapi pengeluaran bisa diteken menjadi Rp99 ribu per hari, si wirausahaan masih punya ‘napas’ untuk membesarkan usahanya, meski dengan Rp1.000 per hari.

Hanya tinggal tunggu waktu saja omsetnya melejit dan orang tersebut bisa dianggap sukses secara finansial.

Sebaliknya, meski beromset Rp1 miliar per hari, tapi pengeluaran mencapai satu miliar seratus ribu rupiah per hari, secara indikator, grafiknya jelas menurun, dan hanya masalah waktu saja sebelum usaha itu bangkrut.

Sifat rasulullah yang kompatibel dengan mentalitas seperti ini adalah fathonah (cerdas).

Pintar dalam mengelola (a) uang, (b) barang dan (c) orang, tiga unsur utama yang harus diperhatikan dalam manajemen bisnis apapun.

3. Santun

Santun identik dengan respek (rasa hormat). Seseorang yang menghargai orang lain, akan disegani oleh orang sekitarnya. Banyak masalah rumit yang bisa jadi sederhana hanya karena hadirnya ‘respek’ ini.

Sebaliknya, banyak masalah sepele yang menjadi rumit hanya karena kurangnya rasa hormat, respek, segan-menyegani antarsesama.

Riuh-rendah menjelang dan sesudah pilkada DKI pada April 2017 lalu yang diwarnai  berbagai fitnah, pro dan kontra, hasutan serta demo yang berjilid-jilid, membuktikan bahwa hilangnya rasa santun hanya menimbulkan masalah ke masyarakat.

Padahal rasulullah sudah memberikan contoh. Sifat beliau yang terkait dengan mentalitas santun ini adalah tabligh (delivery). Rasul dalam menyampaikan dakwahnya selalu dengan rasa santun dan lemah-lembut, bukan garang dan bengis, apalagi bicara kasar.

Karena sikap santun beliau kepada sesama makhluk, hingga beliaupun mendapat rasa hormat dari Tuhan dan Malaikat-Nya.

“Sungguh Allah dan para Malaikat-Nya hormat kepada Nabi. Wahai orang beriman, hormatilah dia dengan dibarengi salam sebagaimana orang yang memberi ucapan salam yang pantas.”

Meski huruf  yang dipakai sama dengan kata yang berarti shalat yakni shod (SH) dan lam (L), jumhur ulama mengartikan shallu ‘alaihi sebagai ber-shalawat atasnya (nabi) untuk membedakannya dari shallu-nya sholat.

Prinsip dasarnya sama, baik sholat maupun shalawat adalah sama-sama menunjukkan rasa hormat, meski dengan cara yang agak berbeda.

Artinya, setiap makhluk, perlu menebarkan sikap santun, saling hormat (respek) dan memberi salam kepada sesamanya. Dengan begitu, apa yang sebetulnya sulit akan menjadi mudah, masalah yang tak perlu jadi tidak perlu ada.

Jika tiga masalah internal tersebut sudah beres, insya Allah, gerbang kesuksesan bakal menanti di depan mata. Ini berlaku bagi siapa saja.

Bahkan, Alec berani sesumbar bahwa jika ketiga sifat itu hadir dalam diri siswa, maka 99,99% siswa tersebut berpeluang sukses di masa depan. Nothing else matters!

wallahu’alam bi sh showab

Hambalang, 14 Mei 2017

Ali Cestar

Keterangan gambar: Para peserta pelatihan kewirausahaan untuk praktek pemasaran di Kios Pelatihan Kewirausahaan “Business Warriors” di Jalan Raya Tajur-Leuwibilik, Citeureup, Bogor pada Minggu, 14 Mei 2017.

  1. Annisa Rahmawati
  2. Aprilia Damayanti
  3. Cici Nurhayati
  4. Hilda Lestari
  5. Ikbaludin
  6. M. Nazar Ali Solihin
  7. Miah Melani
  8. Neng Indah Muharom
  9. Padli
  10. Rohmatullah
  11. Runtani
  12. Shifa Musdalifah
  13. Siti Jenab
  14. Siti Lomrah
  15. Siti Nurazizah
  16. Susi Sulastri
  17. Yuli Yanti
  18. Abdul Rohman
  19. Abi Ainul Hisbi
  20. Ahlan Saputra
  21. Khaerul Anwar
  22. Nurbagia
  23. Wahyudin
  24. Rismayani
  25. Egar Ramdani
  26. Enjay Saputra
  27. Yatna
  28. Didin

IMG_20170514_091716.jpg

IMG_20170514_102847

IMG_20170514_110006

IMG_20170514_121906

IMG_20170514_090445

Cara menghadapi situasi darurat dengan Si Pete

IMG_20161114_114828.jpg

 

Cara menghadapi situasi darurat dengan Si Pete

Hari itu, Sabtu, 12 Nopember 2014, sekitar pukul 10.00 WIB. Kepala Alec terasa sangat pusing dan berat. Ini pertanda tekanan darah sedang tinggi. Karena, kalau kepala terasa pusing tapi ringan melayang, itu pertanda tensi sedang rendah. Untuk memastikannya, Alec minta tolong ke tetangga mengukur tensinya. Alhasil, tekanan darah Alec mencapai 200/130. Tinggi sekali!

(cestarweb): Sebelumnya tensi Alec untuk waktu cukup lama sempat normal-normal saja, sekitar 160/90 sejak menjalani terapi air putih yang ia praktekkan sejak tahun lalu, demi menghentikan obat farmasi yang diresepkan dokter.

Sebetulnya, untuk pria awam berusia hampir 47 tahun, tekanan 160/90 terhitung agak tinggi. Tapi bagi penderita hipertensi esensial seperti Alec, tensi segitu sudah dianggap normal.

Kelemahan terapi ini, pantang terkena asupan garam. Walaupun hanya sedikit, katakanlah untuk kumur-kumur karena sakit gigi, sepersekian persen kandungan air garam yang tertelan ke dalam kerongkongan bisa memicu tekanan darah naik secara drastis.

Karena, terapi air menyebabkan volume air dalam darah menjadi tinggi sehingga mudah sewaktu-waktu menimbulkan tekanan atau dorongan yang kuat dalam pembuluh darah.

Sebaliknya, obat darah tinggi yang banyak diresepkan dokter, terutama dari jenis meta atau v-blocker, justru memblokir masuknya air ke pembuluh darah, sehingga dalam waktu pendek, darah kekurangan air dan daya tekananpun menjadi berkurang.

Artinya, tekanan darah turun secara semu, karena darah kekuarangan air, bukan turun dalam arti yang sesungguhnya!

Untuk jangka waktu lama, pemblokiran air seperti ini bisa memicu kerusakan berbagai sel pada organ-organ penting tubuh manusia, termasuk ginjal, level, pankreas, jantung, dan lain-lain.

Alhasil, karena ingin mengobati darah tinggi, berbagai komplikasi lain bisa muncul akibat pemakaian obat farmasi yang mengadung bahan sintetis alias kimia.

Satu-satunya jalan adalah, cari alternatif yang aman. Artinya, mencari sesuatu yang bisa menurunkan tensi, tapi aman dikonsumsi. Jawabannya hanya satu, herbal!

Berbagai rebusan air herbal sudah ia coba, mulai dari daun salam dan jeruk, seperti yang pernah disarankan seorang kawan hingga ke daun pandan sukun seperti saran tetangga, telah ia coba. Namun belum ada hasil yang memuaskan.

Hingga Sabtu itu, Alec ingat ia punya jadwal mengajar di sekolah hari itu selepas waktu zuhur.  Rasa bersalah karena sudah hampir sebulan tidak mengajar, memaksa Alec memutar otak, bagaimana tetap bugar tampil di depan kelas selepas zuhur.

Hampir sebulan sebelumnya, Alec terpaksa tidak masuk kelas karena diserang asam urat. Selidik punya selidik, tingginya kadar asam urat, rupanya disebabkan oleh pete dan kulit pete rebus yang kerap ia makan sebagai teman lauk-pauk.

Ironis! Di saat buah dan kulitnya bisa memicu zat purin penyebab asam urat, air rebusan pete justru kaya akan kalium, zat yang bisa menurunkan tensi darah dalam seketika.

Di saat ia sulit berjalan karena persendian kaki pada perih dan bengkak akibat asam urat, tensi Alec justru di luar dugaan, sangat normal, 130/80 bahkan untuk orang awam sekalipun!

Di situlah kuncinya! Jika asam urat Anda tinggi, hindari makan pete. Tapi jika normal, pete adalah pagatok (Minang untuk lalapan) yang paling menyegarkan karena kandungan gizinya yang terbilang super lengkap.

Ingat akan hal itu, Alec langsung merebus seikat pete. Tak sampai 10 menit kemudian, jam menunjukkan pukul 10.30 WIB, air rebusan pete siap disajikan. Butuh 2-3 menit untuk mendinginkannya hingga suam-suam kuku dan  air bisa diminum.

Begitu terasa hangat di lidah, air rebusan pete langsung ia teguk hingga dua gelas sekaligus. Mungkin karena airnya hangat, keringat mulai mengucur dengan deras. Entah kenapa, rasa pusing mulai berkurang. Dan, pete serta kulitnya tidak ia makan, diberi ke tetangga.

Waktu mulai menunjukkan pukul 10.20 WIB. Alec melangkah ke luar rumah, mencari posisi yang paling nyaman untuk latihan pernapasan.  Itulah keuntungan tinggal di kampung. Udara sekitar masih sejuk segar.

Setelah mendapatkan spot yang tepat, Alec melakukan pijatan-pijatan halus di sekitar urat mariah (dari kata marih, arab, artinya leher). Urat leher berperan penting dalam memperlancar aliran oksigen ke dalam paru-paru dan pembuluh darah lainnya.

Lima menit kemudian, letihan pernapasan beralih ke gerakan seperti orang habis salam usai tasyahud akhir dalam shalat. Bedanya, gerakan ini dilakukan lebih pelan dan berulang-ulang.

Ketika kepala menghadap ke kanan, ambil napas dalam-dalam, tariklah oksigen sebanyak mungkin sampai rongga dada terasa penuh, dan jika ditiupkan secara tiba-tiba ke lubang sumpit, ia bisa melontarkan anak sumpit hingga puluhan meter, seperti sistem pneumatic pada pompa senapan angin.

Jika udara dalam dada sudah terasa sedemikian padatnya, arahkan muka ke depan, tahan napas untuk sementara waktu, dilanjutkan dengan mengalihkan pandangan ke arah kiri, sembari membuang napas pelan-pelan.

Sedemikan pelannya, sehingga butuh waktu cukup lama untuk mengosongkan kembali paru-paru dan wilayah dada dari udara yang tadi sempat dimampetkan.

Lakukan hal itu berulang kali. Ambil napas dalam ketika menghadap ke kanan, tahan napas ketika menghadap ke depan dan buang napas setelah menghadap ke kirim. Semua dilakukan dengan cara halus dan perlahan.

Waktu menunjukkan pukul 11.10 WIB ketika Alec menghentikan latihan pernapasan dan minta tolong tetangga untuk mengukur ulang tensinya.

Dan, bingo!

Tensi Alec telah melorot drastis ke angka 150/90. Suatu angka yang sangat normal bagi dia. Dan,  saat yang aman untuk mandi.

Perlu diingat bahwa, saat kepala Anda pusing, jangan mandi!

Karena, kepala pusing bisa berarti dua hal. Jika kepala terasa berat, maka kemungkinan darah tinggi (hipertensi), mandi bisa berisiko stroke! Pembuluh darah ke otak ada yang pecah.

Begitu juga, jika kepala terasa ringan, maka kemungkinan darah rendah (hipotensi), mandi juga bisa berisiko stroke! Darah tak sampai ke otak.

Untuk menhindari itu, lakukan ‘terapi bau pesing’ dengan meminum air rebusan pete dan olah pernapasan seperti yang telah dijelaskan di atas, dan jangan lupa mengontrol tekanan darah.

Akhirnya, selepas sholat Zuhur, Alec bisa ke mengajar ke sekolah dan tampil di depan kelas dengan segar bugar, karena tekanan darah normal dan asam urat juga mulai turun sehingga langkah kaki menjadi lebih ringan.

 

Wallahu ta’ala ‘alam.

Hambalang, 14 Nopember 2016

Ali Cestar

https://www.facebook.com/cestar

https://cestarweb.wordpress.com

img_20161114_114828