Jeffrie Geovanie, PSI & Jokowi

Lama tak muncul ke permukaan, tahu-tahu nama Jeffrie Geovanie, pengusaha muda berdarah Minang, muncul di sebuah partai baru, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang bernomor urut 11, atau lebih dikenal sebagai partainya generasi milenial alias kawula muda. Di situ ia duduk sebagai Ketua Dewan Pembina.

Mungkin banyak yang belum tahu siapa pria yang kini duduk sebagai Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia periode 2014–2019 setelah terpilih menjadi Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari daerah pemilihan Provinsi Sumatera Barat pada Pemilu Legislatif 2014 ini.

Jeffrie tercatat sebagai alumnus lulusan dua perguruan tinggi di Jakarta yaitu jurusan Sastra Indonesia, Universitas Nasional serta Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta.

Kedua orang tuanya berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat. Ayahnya merupakan seorang profesional dengan tugas terakhir di Yayasan milik PBB yang mengurus soal pengungsi Vietnam di Pulau Galang yang wafat ketika Jeffrie masih kecil sementara ibunya bekerja sebagai seorang PNS.

Tentang ibunya ini, Jeffrie pernah bercerita ketika diwawancarai oleh M Guntur Romli dari Islamlib.com sebagai tipikal perempuan Minang yang fanatik soal agama Islam dalam mendidik anak-anaknya.

“…Saya dari kecil memang diasuh oleh ibu karena ayah sudah almarhum. Jadi bagi kami apapun kata ibu harus dilaksanakan.”

Sebelum menekuni usahanya sendiri di bidang properti dan perhotelan, Jeffrie pernah bekerja di American Express Bank Ltd Jakarta, Direktur Trego Holdings Ltd Singapore, serta Direktur Bank Artha Prima Jakarta.

Pada tahun 2002, Jeffrie mendirikan Syafii Maarif Foundation atau lebih dikenal sebagai Maarif Institute, sebuah LSM yang aktif mengkaji masalah kebudayaan dan kemanusiaan di mana ia duduk sebagai Ketua Yayasan.

jeffrie jakartasatucom

foto: jakartasatu.com

Jeffrie juga aktif sebagai salah seorang Dewan Penasehat Center for Strategic and International Studies (CSIS). JG, begitu dia dikenal, pernah menjadi Ketua Umum PB. Percasi, dan menjadi salah seorang anggota Dewan Redaktur Penerbitan Balai Pustaka.

Dikutip dari situs pribadinya Jeffriegeovanie.id, disebutkan bahwa karier politik Jeffrie dimulai ketika ia menjadi anggota Muhammadiyah dan kemudian bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN).

Pada tahun 2005, karier politiknya menanjak saat dicalonkan sebagai kandidat Gubernur Sumatera Barat oleh Koalisi Sakato yang berisikan 16 partai politik, berpasangan dengan Dasman Lanin sebagai wakilnya.

Dalam Pilkada tersebut, meski belum berhasil menjadi yang pertama, namun Jeffrie berhasil menduduki peringkat ketiga di bawah pasangan Gamawan Fauzi-Marlis Rahman serta Irwan Prayitno-Ikasuma Hamid.

Pada musim pemilihan 2009, Jeffrie berkampanye di bawah naungan Partai Golkar. Kali ini kiprahnya bersama Golkar menuai sukses dengan terpilihnya Jeffrie sebagai anggota DPR periode 2009 – 2014.

Namun pada Maret 2012, Jeffrie mengejutkan publik melalui pernyataan pengunduran dirinya dari Golkar. Beberapa sinyalemen media mengungkap kaitan pengunduran diri ini dengan rencananya berkonsentrasi di organisasi masyarakat, yakni Nasional Demokrat (Nasdem).

Karier politik  Jeffrie berlanjut pada Pemilu 2014. Dia berhasil terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia dari daerah pemilihan Provinsi Sumatera Barat dengan raihan 195.930 suara, terbanyak ketiga setelah Irman Gusman dan Emma Yohana.

harianpijakdotcom

foto: harianpijar.com

Meski dididik secara fanatik keagamaan oleh ibunya, Jeffrie termasuk tipe yang memiliki toleransi tinggi dalam beragama, terbukti ketika ia tidak memaksakan pelaksanaan ritual keagamaannya kepada keluarganya termasuk terhadap istrinya yang mualaf dan anak-anak.

Dalam naskah yang ia tulis berjudul “Melawan Politik Kebencian”  di situsnya itu Jeffrie dengan sangat gamblang menentang politisasi agama yang terlalu berlebihan, termasuk cara-cara kotor seperti memproduksi fitnah dan kabar-kabar bohong (hoax).

Di PSI, partai berlambang bunga mawar, Jeffrie seperti berada di habitat alaminya di mana banyak bergabung orang-orang yang masuk dalam kategori kelompok yang “sudah selesai dengan dirinya sendiri.”

jeffrie_pinterest_couk

foto: pinterest.co.uk

Kelompok orang-orang seperti itu diyakini tidak akan mudah tergiur dengan godaan korupsi dan akan lebih banyak meluangkan sisa umurnya untuk aktualisasi diri dan pengabdian kepada kepentingan orang banyak.

Selain itu, dalam laporan wawancara berjudul: Jeffrie Geovanie: “Tuhan Dapat Diajak Dialog” itu dapat disimpulkan bagaimana kedalaman pengalaman spiritual Jeffrie dalam mencari ‘wujud’ Tuhannya.

Dia menjadikan keseharian hidupnya sebagai wacana dialog dengan Sang Pencipta, semacam pengalaman spiritual ini oleh Buya Hamka disebut sebagai “tasawuf” yang mana tiap orang boleh jadi menjalani perjalanan spiritual yang berbeda-beda pula.

Bagaimanapun, kehadiran Jeffrie di PSI lebih pas diletakkan sebagai formalitas struktural semata, tanda apresiasi kepada dia karena telah memberi dukungan penuh bagi PSI, sebagai salah seorang donatur utamanya.

Hal itu penting, mengingat di tubuh PSI berlaku aturan main yang ketat bahwa pengurus harian partai atau orang-orang yang mengelola segala kepentingan partai dalam day-to-day basis (skala harian) mesti bebas dari partai lama manapun.

Karena itu, bisa dimaklumi jika nama Jeffrie Geovanie tidak dimunculkan dalam struktur pengurusan harian partai di situs resminya http://www.psi.id, kecuali dalam dokumen arsip di KPU dan Kemenkumdang.

kaskus

foto: kaskus.co.id

Karena memang Jeffrie tidak memiliki kendali langsung apapun terhadap partai, selain sebagai pembina atau lebih tepatnya penasehat semata.

Sebetulnya, ketokohan Jeffrie yang sudah malang melintang di sejumlah partai memiliki nilai tambah tersendiri.

Ini penting mengingat kondisi perpolitikan di Tanah Air yang kini tengah dilanda kevakuman tokoh berintegritas, selain Jokowi, untuk berlaga di Pemilu 2019.

Bukan tak mungkin, kehadiran Ketua Umum PSI, Grace Natali, beserta Sekjen Raja Juli Antoni dan  Ketua Tsamara Amany di Istana Negara belum lama ini sempat menyinggung masalah siapa cawapres ideal pendamping Jokowi.

Kenapa Jeffrie adalah figur yang pas untuk pasangan Jokowi maju di Pemilu 2019?

Beberapa poin berikut menjadi bahan pertimbangan strategis:

Satu. Jeffrie terhitung sebagai tokoh muda yang berintegritas tinggi, bisa diterima oleh beragam kalangan termasuk elite-elite politik dan ormas-ormas.

ali cestar psi

foto: cestarweb.wordpress.com

Dua. PDIP tidak mungkin mencalonkan cawapres dari partainya sendiri setelah Jokowi, kalau tidak ingin dinilai ‘rakus’ dan ditentang oleh partai-partai lain dalam koalisi.

Tiga. Sejak pasangan Bung Karno dan Bung Hatta, orang Minang punya pengalaman traumatis pasca PRRI dan menghindari jadi orang nomor satu karena dianggap sebagai ‘umpan peluru’ dan cenderung menjadikan nomor dua sebagai karir tertinggi di negeri ini.

Artinya, Jeffrie tidak punya ambisi untuk menjadi RI 1 pada pemilu 2024 seperti yang dikhawatirkan jika jabatan cawapres dipegang oleh tokoh-tokoh muda lain yang lebih ambisius.

Empat. Jeffrie dikenal memiliki kedekatan hubungan dengan sejumlah pengusaha keturunan, sehingga kehadirannya diharapkan bisa mengikis habis potensi menguatnya dikotomi dan sentimen SARA di tengah masyarakat.

Lima. Jeffrie menjadi simbol perlawanan terhadap kelompok oposisi yang notabene dikomandoi oleh orang sekampungnya sama-sama dari Sumbar, Fadli Zon bersama Partai Gerinda-nya.

Kehadiran Jeffrie di kubu Jokowi diperkirakan akan bisa menarik kelompok milenial dari Gerindra untuk berpaling mendukung Jokowi.

Hal itu bukanlah sesuatu mustahil terjadi. Contoh terbaru akhir-akhir ini adalah dirilisnya tulisan gubernur Sumbar Irwan Prayitno, seorang kader PKS, yang mengelu-elukan Jokowi sebagai tokoh ideal, hanya karena takjub dengan ketulusan Jokowi berbuat untuk rakyatnya, setelah seharian menemani Presiden blusukan ke beberapa tempat.

Dalam artikel berjudul “Blusukan Presiden Jokowi” yang dimuat di Harian Singgalang, 15/2, Irwan dengan tegas mengatakan apa yang dilakukan Jokowi sama sekali bukan pencitraan, tapi layaknya kerja seorang pemimpin yang mengayomi rakyat.

Karena itu, bisa disimpulkan bahwa Jeffrie sebagai pasangan untuk cawapres Jokowi pada pemilu 2019 adalah pilihan yang sangat logis.

Ali Cestar
(
Penulis adalah pemerhati masalah sosial politik untuk sementara berdomisili di Hambalang, Bogor)

 

Advertisements

Standarisasi generasi milenial dengan TI & Bahasa Inggris

Nun jauh di sana di kaki Gunung Hambalang, Bogor Timur, ada sebuah sekolah kejuruan (SMK) yang baru berdiri, bernama SMK Almurqoniyah, satu-satunya SMU yang ada di desa tersebut.

HAMBALANG (cestarweb): Sekolah di sini serasa bernuansa pendidikan ala Amerika di mana proses belajar mengajar para siswanya terbilang longar, bebas bermain dan berkreativitas.

Bedanya, uang sekolah di SMK ini murah meriah. Ini masuk akal mengingat hampir 65 persen penduduknya tercatat hidup di bawah garis kemiskinan, meski tiap rumah punya paling tidak satu sepeda motor.

Jangan samakan kualitas pendidikan di sini dengan sekolah-sekolah lain di Jabodetabek, karena SMK Almurqoniyah sudah pasti jauh ketinggalan. Ijin operasionalnya saja baru keluar menjelang akhir tahun lalu.

Seiring adanya persyaratan akreditasi dan standarisasi UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer), akses internet dan pengadaan komputer baru tercapai awal 2018, itupun dengan perjuangan finansial yang morat-marit.

Karena itu, bisa dimaklumi kalau kemampuan siswanya masih jauh dari standar rata-rata.

Sebagai generasi milenial, siswa-siswi SMK Almurqoniyah terbilang gagap dengan teknologi informasi (TI) dan kemampuan berbahasa Inggris, meski ada satu dua orang yang punya smartphone untuk mengakses internet.

Karena Bahasa Inggris termasuk mata pelajaran yang akan diuji dalam ujian nasional, maka mau tidak mau, suka tidak suka, kemampuan siswa di bidang ini perlu distandarkan sejak dini.

Salah satunya, dengan menambah jam pelajaran untuk kelas pengayaan Bahasa Inggris, mirip les privat, hanya saja dilakukan di ruang kelas sekolah tanpa dipungut biaya.

Bagi sejumlah siswa, sama halnya dengan Matematika, pelajaran Bahasa Inggris terbilang mapel killer, sehingga hanya  mereka yang punya kemauan kuat saja yang displin untuk tetap hadir.

IMG_20171028_142118

Dan, untuk mengejar ketertinggalan di bidang IT, cara paling instan adalah memperkenalkan mereka pada teknologi pembuatan blog (blogging).

Dalam hal ini, dipilih WordPress sebagai pembelajaran, karena platform ini paling banyak digunakan di dunia, dan permintaan untuk keahlian bidang inipun cukup tinggi di bursa tenaga kerja.

“Kalian mesti berani mengkutak-katik WordPress, learning by doing, banyak bereksperimen dan menuangkan segala kreasi dan inovasi ke dalamnya,” pesan Alec kepada para siswa.

Cara ototidak, sesuai pengalaman empiris, kerap menghasilkan skilful professional, yang pada gilirannya berbekal keahlian itu, siswa diharapkan bisa membaur dengan pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif.

Dan, untuk siswa yang sekian lama terasing di pelosok jauh dari modernisasi milenial, contoh-contoh blog yang mereka buat berikut, cukup memberikan secercah harapan;

1. https://ramawijaya.wordpress.com/ (Rama Wijaya)
2. https://rohmatullah58.wordpress.com/ (Rohmatullah)
3. https://ariesahhoy.wordpress.com/ (Abdul Haris)
4. https://muhamaderwin717.wordpress.com/ (Muhammad Erwin)
5. https://ilhamr701.wordpress.com/ (Ilham Ramdani)
6. https://deny717.wordpress.com/

7. https://apriliadamayanti24.wordpress.com/ (Aprilia Damayanti)
8. https://nisameliyani05.wordpress.com/ (Nisa Meliyani)
9. https://sitizenab40.wordpress.com/ (Siti Jenab)
10. https://egarramdani.wordpress.com/ (Egar Ramdani)
11. https://enjaysaputra.wordpress.com/ (Enjay Saputra)

12. https://andrisp1945.wordpress.com/ (Andri Septiansyah)
13. https://ramdonislonongboy.wordpress.com/ (Ramdoni)
14. https://desahambalang.wordpress.com/ (Jefri M)
15. https://badar717.wordpress.com/ (Badar Solihin)

16. https://tanni1.wordpress.com/ (Runtani)
17. https://miahmelani.wordpress.com/ (Miah Melani)
18. https://lesta31.wordpress.com/ (Hilda Lestari)


cropped-fb_img_14953036293861


Ali Cestar

Penulis adalah pengamat pendidikan dan berprofesi sebagai tendik di SMK Almurqoniyah, Hambalang.

Cara sehat OTG menangkis serbuan komersialisasi industri (bag. 2)

Tatapan mata Mahyedin kosong, sehampa padang ilalang yang membentang di depan rumahnya. Ia hanya bisa duduk di kursi teras menikmati masa pensiun karena kedua kakinya bengkak akibat serangan asam urat. Taktis, selama tiga tahun terakhir, pria penderita hipertensi itu menghabiskan waktu dengan duduk sepanjang hari.

HAMBALANG (CestarWeb): Mahyedin termasuk tipe orang yang patuh dengan nasihat dokter. Sejak didakwa mengidap hipertensi esensial, dokter menyuruh mantan pesilat itu makan obat hipertensi tiap hari seumur hidup.

Tanpa disadarinya, salah satu obat diuretik yang ia konsumsi itu ternyata berjenis hidroklorotiazid (HCT) yang membawa risiko terjadinya penumpukan asam urat (uric acid).

Seperti obat-obat diuretik jenis beta blocker pada umumnya, HCT bekerja memanipulasi fungsi ginjal dengan memblokir zat cair masuk ke dalam pembuluh darah, sehingga air langsung terbuang ke kantong urine.

Disebut memanipulasi karena ginjal secara alamiah bisa mengontrol kadar air dalam metabolisme tubuh.

Jika tubuh kelebihan cairan, ginjal langsung membuangnya ke kantong urine. Sebaliknya, jika tubuh mengalami dehidrasi (kekurangan cairan) ginjal secara otomatis akan menahan pembuangan air.

Obat diuretik dirilis sejak 1959 ke pasar untuk tekanan darah tinggi. Efek samping yang mungkin terjadi termasuk kerja ginjal buruk, ketidakseimbangan elektrolit terutama kalium darah rendah dan kurang sodium, asam urat, gula darah tinggi dan kliyeng-kliyeng (perasaan pingsan) di awal berdiri.

Obat ini ada dalam kelas obat tiazid dan bekerja dengan menurunkan kemampuan ginjal untuk menahan air.

“Pada awalnya volume darah tereduksi, darah yang tereduksi kembali ke jantung sehingga cardiac output. Dalam jangka panjang, diyakini ia menurunkan resistensi pembuluh darah perifer,” tulis satu jurnal medis.

Dierutika ialah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Sedangkan tiazid sendiri dapat meningkatkan peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida plasma dengan mekanismeyang tidak diketahui, tetapi tidak jelas apakah ini meningkatkan resiko terjadinya aterosklrosis.

Menurut jurnal itu, hipokalemia lazim terjadi bagi pemakai obat tersebut. Hipokalemia adalah efek samping yang sangat sering terjadi pada terapi jangka panjang dengan diuretik, yaitu 25-40% kasus.

Efek samping lainnya adalah hipomagnesemia, alkalosis metabolik, hipokloremis, toleransi glukosa yang berkurang (bahaya manifestasi diabetes melitus pada kondisi metabolik pradiabetes), gangguan metabolisme lemak, kenaikan kadar trigliserid serum dan kadar kolesterol serum; kenaikan LDL, HDL tidak berubah atau turun.

Selain itu juga timbul hiperurisemia, yakni serangan pirai pada pasien yang ada disposisi. Penyebabnya adalah penghambatan kompetitif sekresi asam urat yang berlangsung melaui sistem transpor anion ditubulus proksimal sperti juga eliminasidiuretik tiazid. Setelah kurang lebih 7-10 hari kenaikan asam urat serum akan mencolok.

IMG_20170918_153100

Derivat tiazid memperlihatkan efek penghambatan karbonik anhidrasedengan ptensi yang berbeda-beda. Zat yang aktif sebagai penghambat karbonik anhidrase, dalam dosis yang mencukupi, memperlihatkan efek yang sama seperti asetazolamid dalam eksresi bikarbonat.

Agaknya efek penghambatan karbonik anhidrase ini tidak berarti secara klinis. Efek penghambatan enzim karbonik anhidrase diluar ginjal praktis tidak terlihat karena tiazid tidak ditimbun di sel lain.

IMG_20171018_114004

“Pada pasien hipertensi, tiazid menurunkan tekanan darah bukan saja karena efek diuretiknya tetap juga karena efek langsung terhadap arteriol sehingga terjadi vasodilatasi,” terang jurnal tersebut.

Farmasi = kimiawi = sintetis

Menurut Metbayah, seorang pemilik apotik di Banten, jual-beli obat di apotik semakin menurun dalam dasawarsa terakhir seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk kembali ke pola hidup sehat alami, dan menghindari mengkonsumsi obat-obat kimiawi sedapat mungkin.

IMG_20171018_090533

“Obat farmasi itu sifatnya kimiawi dan sintetis. Ia bisa meredam satu gejala penyakit secara emergensi, tapi untuk jangka waktu tertentu bisa menimbulkan empat penyakit baru,” tutur Metbayah.

Di negara maju seperti AS, misalnya, zat yang sudah ada secara alami tidak bisa dipatenkan. Alhasil, perusahaan-perusahaan obat berlomba-lomba membuat obat sintetis untuk bisa dipatenkan.

Di Indonesia, kandungan obat alami (tradisional) masih diakui. Ia lazim disebut dengan herbal atau jamu. Ketika eforia herbal meledak di awal 2000an banyak farmasi yang latah menggunakan istilah herbal pada produknya.

Home-home industry herbalpun bermunculan di mana-mana bak jamur di musim hujan sehingga industri farmasi sempat dibuat ketar-ketir.

Jadi jangan heran kalau muncul produk-produk herbal yang hanya cari duit dan tidak memikirkan efektivitas dan khasiat produknya secara bersungguh-sungguh.

“Bahkan, ada satu produk herbal yang katanya bisa menyembuhkan asam urat, setelah dikonsumsi teratur, justru asam urat saya kambuh mendadak, sampai kaki saya lumpuh dan terpaksa pakai kursi roda,” kata Alec.

Alec juga pernah berobat pada seorang dokter herbalis di luar kota. Di sana, asam uratnya diukur, tercatat mencapai 18.

Angka ini terbilang sangat tinggi, karena ada tetangganya yang terkena stroke ringan karena mengidap asam urat yang  sudah mencapai 22.

“Ini adalah tingkat asam urat tertinggi dari pasien yang pernah saya tangani selama ini,” kata dokter tersebut merespon tingkat asam urat yang diderita Alec.

Melawan mitos

Berbagai upaya dilakukan Alec untuk menurunkan kadar asam urat dari dalam darahnya, mulai dari meminum ramuan jus nenas, lobak putih dan kemiri hingga ke terapi air heksagonal dan alkalin (7 botol) selama tiga hari berturut-turut, disamping obat herbal yang sudah diresepkan dokter itu untuknya.

Pada hari ketujuh, Alec kembali memeriksakan diri ke dokter yang sama. Dan ternyata, kadar asam uratnya tak berubah sama sekali, tetap di angka 18!

Sadar bahwa dirinya mulai terseret dalam lingkaran setan bernama komersialisasi industri obat-obatan, Alec akhirnya memutuskan bereksperimen mengobati diri sendiri, dengan jurus andalannya, off the grid (OTG), kembali ke alam asri.

Hal yang pertama yang ia lakukan adalah riset literatur eliminatif, yakni membuat perbandingan pendapat para ahli dengan menyingkirkan unsur-unsur  yang bertentangan di dalamnya. Karenanya, semua unsur itu patut dihindari.

Contoh. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ketimun itu bagus untuk obat darah tinggi, namun pendapat lain menyebutkan bahwa ketimun merupakan salah satu pemicu asam urat. Kontroversial. Abaikan!

Begitu juga halnya dengan nenas, ubi jalar dan tomat. Terjadi kontradiksi antara manfaat dan mudhorat yang terkandung di dalamnya, sehinga semua jenis makanan itu layak jadi tersangka dan diabaikan saja, baik sebagai obat maupun sebagai pantangan.

Apalagi, jika ditemukan pesan-pesan mujarobat yang ujung-ujungnya adalah jualan produk, bisa dipastikan hal itu sebagai non-sense, hanya alat untuk komoditas cari duit semata.

Salah satu tersangka utama yang tersisa karena tidak kontroversial di kalangan para ahli adalah unsur kimia seperti pada bumbu penyedap makanan buatan pabrik, termasuk MSG dan bahan pengawet diyakini bisa merusak fungsi ginjal dan mengganggu metabolisme tubuh.

Sembuh karena eksperimen

Setelah berkutat dengan eksperimen terhadap dirinya sendiri selama tiga bulan, Alec akhirnya bisa sembuh total dan tampil bugar kembali di depan kelas, mengajar siswa SMK tempat ia mengabdikan diri selama ini.

Ia tidak dendam dengan dokter yang mengaku herbalis. Ia tak sakit hati dengan herbal abal-abal. Ia hanya bersyukur karena keberaniannya bereksperimen selama ini secara otodidak dan independen telah membuahkan hasil.

Resepnya ternyata sederhana saja. Inti semua persoalan bertitik berat pada pola makan. Yang dibutuhkan hanya keberanian untuk bereksperimen pada diri sendiri.

Setiap zat yang kita makan dan minum adalah obat sekaligus penyakit tergantung unsur kimiawi yang ada di dalamnya.

Jika unsur kimiawinya sesuai, ia otomatis menjadi obat, dan jika unsur kimiawinya tak seimbang, ia menjadi penyakit. Beda obat dan penyakit itu terletak pada takarannya.

Berikut langkah-langkah yang dijalankan Alec sehingga bisa sembuh total dari penyakit asam uratnya.

1. Menakar karbohidrat

Kadar karbohidrat yang tinggi bisa membantu penumpukan uric acid menjadi zat purin dan gula darah. Karena itu, setiap asupan karbohidrat seperti nasi, kentang. mie dan bahan tepung perlu dikurangi.

Untuk itu, Alec mengganti cara makan dari menyuap pakai tangan dengan menyuap pakai sumpit. Biasa nasi satu piring, sekarang diganti menjadi setengah mangkok saja.

Makan setelah lapar, dan berhenti sebelum kenyang. Makan sedikit tapi sering itu lebih baik dari makan jarang tapi sekaligus banyak.

Untuk memastikan kadar karbohidrat tetap terkontrol, Alec mengkonsumsi teh hijau setiap hari. Kandungan teh mencegah pembentukan karbohidrat menjadi gula darah, sementara jenis teh hijau berkhasiat membuang radikal bebas dari tubuh.

2. Melawan asam dengan asam

Untuk membuang kelebihan asam urat dan penumpukan karbohidrat dari sistem pencernaan, Alec mengkonsumsi asam jawa (dicampur gula aren).

Asam jawa terkenal ampuh sebagai pembersih zat-zat yang tak dibutuhkan tubuh dan radikal bebas dari pembuluh darah.

IMG_20171002_101532

Air asam jawa pembasmi asam urat

3. Kembali ke apotik hidup

Sebagai pamungkas, Alec berpaling pada apotik hidup, dalam hal ini daun kumis kucing yang ia tanam di halaman rumah.

Paling tidak, selama tiga hari berturut-turut air seni akan terlihat banyak busa menandakan terbuangnya uric acid.

Pada hari keempat, seiring air seni yang mulai membening, semua gejala nyeri pada persendian tangan dan kaki akan lenyap, menandakan Anda sudah pulih dari penyakit asam urat.

IMG_20171102_083015

Kursi roda aluminium menjadi saksi bisu eksperimen off the grid 2017

Meski begitu, dalam 5-7 hari ke depan, pada persendian masih akan terasa pegal-pegal sebelum akhirnya hilang sama sekali seperti sedia kala.

Dan untuk menjaga sistem pencernaan termasuk pankreas dari efek negatif kimiawi (menetralisir), alangkah baiknya setiap pagi hari Anda minum air rebusan daun badotan, sejenis rumput berkembang putih yang biasa dimakan kambing.

wallahu ‘alam bi’sh showab

Ali Cestar
Pemerhati kesehatan dan praktisi gaya hidup off-the-grid tinggal di Hambalang, Bogor.

Cara sehat OTG menangkis serbuan komersialisasi industri (bag. 1)

Berikut ini adalah cuplikan satu kisah yang terjadi di sebuah negeri atas awan bernama Republic of Irony (ROI) di mana komersialisasi di sejumlah lini industri telah mengancam kesehatan masyarakatnya sendiri hampir setiap hari…

JAKARTA (CestarWeb); Arman (44 th) duduk termangu di kursi rodanya dengan wajah sendu. Dokter yang merawatnya telah memvonis dirinya mengidap asteoporosis akut dan  tulang kakinya mesti dioperasi.

Osteoporosis adalah penyakit kerapuhan pada tulang. Arman sejak tiga bulan terakhir taktis tak bisa berjalan dan hanya mengandalkan kursi roda semata untuk bergerak.

Bingung dan diliputi kegalauan termasuk memikirkan biaya operasi, Arman sempat curhat kepada sohibnya, Alec yang kebetulan banyak melakukan uji coba ala off the grid (OTG).

OTG adalah gaya hidup yang melepaskan diri dari jebakan-jebakan modernisasi, alias kembali ke alam asri.

Contoh gaya hidup OTG a.l. semua jenis asupan baik makanan maupun minuman, diupayakan sealami mungkin dengan menghindari makanan dan minuman (mamin) buatan pabrik atau industri.

“Dulu semasa badan sehat ente (anda) sering makan produk-produk pabrikan, baik kalengan, botolan maupun sachetan?” tanya Alec.

“Iya sih. Emang ada pengaruhnya ya, Mas?” tanya balik Arman.

Alec menjelaskan, makanan dan minuman pabrikan umumnya menggunakan pemanis rafinasi. Awam biasa mengenalnya dengan istilah ‘induk gula.’

Hanya dengan satu gram gula rafinasi, produk mamin satu truk bisa dibuat manis, karena kandungan glikemik (gula murninya) yang sangat tinggi.

Info-info tentang bahaya mengkonsumsi gula rafinasi banyak bertebaran di internet a.l. bisa menyebabkan diabetes, serangan jantung, kolestrol tinggi, hipertensi karena memicu gliteserida tinggi dan osteoporosis!

Karena, untuk mencerna gula rafinasi menjadi karbohidrat, tubuh menyedot zat-zat penting dari metabolisme seperti vitamin B kompleks, insulin dan kalsium.

Akibatnya a.l. tulang kekurangan kalsium sehingga mudah rapuh (osteoporosis).

Ironisnya, di saat gula rafinasi dilarang untuk konsumsi rumah tangga, bahkan ada aturan resminya dari satu kementrian, dunia industri mamin justru mengandalkannya sebagai bahan pemanis utama.

Irosnisnya lagi, produk-produk makanan dan minuman pabrikan itu disuguhkan tiap hari lewat tayangan iklan televisi. Bahkan, mayoritas konten iklan TV nasional berisi produk-produk mamin dari industri.

Kementrian yang menangani kesehatan masyarakat, obat dan makanan tidak menganggapnya sebagai  racun atau ancaman kesehatan karena berpatokan kepada teori “ambang batas maksimum” semata mengacu ke WHO.

Teori ini agak kontradiktif dengan fikih Islam bahwa “Jika banyaknya memabukkan, maka sedikitnya juga haram.”

Solusi dari alam

“Lantas, kalau tidak dioperasi, solusi lainnya apa dong, Mas?” kejar Arman.

Untuk kasus yang seperti itu, Alec menjelaskan, dari beberapa riset literatur yang ia pelajari, ada dua solusi yang layak dicoba yakni pete dan kolang-kaling.

Alam sepertinya sudah menyiapkan obat bagi setiap penyakit  yang diderita manusia.

Seorang anggota grup komunitas kesehatan di medsos pernah menulis bahwa manfaat pete sudah diteliti oleh peneliti Belanda sejak zaman penjajahan dulu.

Mereka tertarik karena di pedesaan Indonesia,  rata-rata orang tua sering mengkonsumsi pete ini dan jarang mempunyai masalah tulang.

Rata-rata masalah pada orang tua adalah, proses penuaan jaringan ikat yang dibangun oleh kolagen yang terdapat pada kulit, otot, tulang, rambut, kuku.

“Pete juga mengandung albumin, yaitu protein plasma tubuh yang mencapai 60%.  Pete mengandung serat untuk membantu pencernaan, bekerjasama dengan gelatin dan mineral kalium, kalsium, fosfor dan besi yang dikandungnya,” bunyi tulisan itu.

Plus, kaum tua di pedesaan terbilang hidup pas-pasan dan tidak konsumtif sehingga banyak mengandalkan buahan dan sayuran yang terdapat di sekitar lingkungannya.

Akses mereka ke produk mamin pabrikan terbilang sangat terbatas dan jarang. Sehingga, tanpa disadari, gaya hidup yang mereka jalani masih alamiah alias OTG!

Selain pete, kolang-kaling ternyata juga bisa jadi solusi menghindari pisau bedah tulang di ruang operasi.

Menurut nutrisionis dari Lagizi, Jansen Ongko, MSc, RD kolang-kaling memiliki nutrisi tertentu yang bermanfaat bagi tubuh.

Selain tinggi kadar air, kolang-kaling juga tinggi akan kandungan karbohidrat, serat, multivitamin, mineral dan fitonutrisi.

Disebutkan, setidaknya, di dalam 100 gram kolang kaling terdapat 243 mg fosfor, 6 gram karbohidrat, 91 mg kalsium, 0,4 gram protein, 0,2 gram lemak, 1,6 gram serat, 0,5 mg zat besi, dan kalori sebanyak 27 kkal.

Dengan kandungan nutrisi tersebut, kolang kaling dipercaya dapat memberikan manfaat untuk kesehatan tubuh, di antaranya memperkuat tulang karena kalsium yang terkandung di dalamnya dapat membantu menjaga kesehatan tulang.

Sebagai informasi, kebutuhan asupan kalsium orang dewasa berusia 20-50 tahun sekitar 1.000 mg per hari.

“Selain itu, kandungan zat galaktomanan pada kolang-kaling mampu meredakan radang sendi” tulis satu artikel di situs kesehatan Mediskus.

Cukup mengonsumsinya secara rutin, minimal 100 gram kolang kaling setiap hari dengan cara merebusnya tanpa menggunakan gula atau pewarna atau dijadikan manisan dengan menggunakan tambahan gula batu dan daun pandan atau jahe.

“Terima kasih, Mas, atas saran-sarannya,” kata Arman mengakhiri percakapan via Whatsapp sore itu…

(bersambung)

 

 

 

 

Revolusi di depan mata, dimulai dari sekarang!

Pasar-pasar mulai sepi, yang ada hanya penjual buah, sayuran dan daging segar. Supermarket berubah fungsi jadi playground anak-anak balita. Pusat-pusat pertokoan seperti Glodok berubah fungsi menjadi gudang. Keramaian justru terjadi di gardu-gardu ATM dan minimarket yang sudah berubah menjadi loket-loket pembayaran. Begitu juga dengan kios-kios di sepanjang tepi jalan dan warung-warung kelontongan tetangga, ikut-ikutan meramaikan usaha jasa pembayaran dan keagenan.

HAMBALANG (cestarweb): Sistim saluran distribusi konvensional akan rontok. Para pedagang online akan mulai bersaing harga, karena konsumen bisa berhubungan langsung dengan grosir. Tinggal klik  di aplikasi ponsel Android, orang dengan mudah memesan barang apapun lewat online.

Jasa kurir seperti TIKI dan JNE kecipratan durian runtuh. Sesama grosir akan bersaing untuk mendapatkan diskon bagus dari produsen.

Alhasil, ketika produk dan harga mulai bersaing, orang akan berkompetisi di ranah pelayanan, kecepatan waktu pengiriman dan kualitas barang.

Pedagang besar dan kecil akan lenyap ditelan zaman. Peluang pekerjaan dan mata pencarianpun akan semakin langka bagi generasi milenial itu.

Satu-satunya jalan, pencari kerja mesti bisa membuat atau memasarkan produknya sendiri, alias menjadi produsen atau penyedia jasa.

Atau, membuka pujasera-pujasera atau tempat jajanan makanan dan minuman segar. Karena, selagi manusia butuh makan dan minum, warung yang menjual kedua hal itu akan tetap bertahan dalam badai krisis dan perubahan jaman.

Atau, ikut sekalian terlibat dalam mata rantai logistik yang ada dalam system e-commerce tersebut seperti pergudangan & inventory, pengiriman, informasi teknologi (IT), sistem pembayaran dan perdagangan.

Bisnis logistik adalah masa depan, e-commerce adalah revolusi, dan sudah dimulai dari sekarang!

Eksperimen kecil

Untuk memastikan prediksinya itu, Alec, dari gubuk bambu huniannya di pelosok pinggang Gunung Hambalang, Bogor, membuat satu ekseperimen kecil yang melibatkan empat marketplace yang cukup dikenal di Tanah Air yakni Lazada, BukaLapak, Tokopedia dan Shopee.

IMG_20171007_110520

Kali ini produk yang ingin ia cari adalah sejenis braket (mounting) untuk senter agar bisa dipasang di sepeda motor dan senapan angin.

Dalam mencari produk itu, Alec menggunakan sejumlah kata kunci seperti braket senapan, braket sepeda, braket senter dan braket telekop, karena tak semua marketplace menggunakan kata kunci yang sama di database pencarian mereka.

Dari keempat marketplace itu, ia menemukan harga produk tersebut sbb:

Lazada: Rp11.500,-
BukaLapak: Rp5.500,-
Tokopedia: Rp7.250,-
Shopee: Rp7.000

Kenapa yang di BukaLapak bisa paling murah? Karena barang yang dipilih Alec di situ kebetulan memang milik pelapak grosiran.

Kenapa Alec memilih yang di Lazada meski lebih mahal? Karena pertimbangan menu bisa “Bayar di Tempat” yang tertera di katalognya.

Sampai naskah ini ditulis (7/10) barang yang dipesan pada 5/10 itu belum juga sampai (lihat screen shot).

Screenshot_2017-10-07-11-15-20

Dan, Alec tak perlu repot-repot ke loket pembayaran atau ATM, mengingat ‘tempat bertapa’-nya yang di atas gunung! Tinggal klak klik kluk, pesanan diantar, baru dibayar.

Ini membuktikan bahwa, kerap faktor pelayanan (termasuk purna jual) bisa mengungguli faktor harga.

Itu dari segi harga. Kemudian lanjut ke sesi pembayaran.

Hampir semua marketplace di atas menerima pembayaran transfer via bank dan loket pembayaran di minimarket seperti Indomaret dan Alfamaret.

Kecuali Shopee, tidak ada menu bisa dibayar di minimarket di sana. Boleh jadi, karena Shopee terhitung pemain baru dari luar dan belum sempat menjalin kerjasama dengan minimarket dimaksud.

Berbeda dari Lazada yang untuk barang-barang tertentu bisa dibayar di tempat, Shopee unggul dalam gratis ongkos kirim (gratis Ongkir) untuk nilai transaksi minimal tertentu.

Jika mentransfer dari beberapa bank dimana rekening penjual sama dengan rekening pembeli, maka pembayaran tidak dikenakan biaya.

Contoh, semua marketplace menyediakan akun BCA, bahkan ada yang berbentuk akun virtual seperti Shopee. Pembeli tinggal memasukkan kode transaksi sebagai pengenal akun virtual Shopee di BCA.

Berbeda dari loket-loket pembayaran seperti Indomaret yang mengenakan biaya Rp2.500 atau di POS Pay sebesar Rp3.000, misalnya, pada tiap pembayaran.

Pada dasarnya, pembeli melihat harga dulu sebagai faktor pertimbangan awal. Berikutnya baru pelayanan.

Siapa yang bisa memberikan experience value yang positif bagi buyer-nya, itulah yang akan tampil sebagai pemenang.

Karena experience value yang positif akan mendatangkan loyal customer dengan sendirinya.

“Mempertahankan satu konsumen yang ada, lebih penting daripada mencari 10 konsumen baru,” tutur Alec suatu kali kepada siswa-siswanya di depan kelas.

Fenomena milenial

Alec termasuk generasi jadul, penikmat romantika jalan-jalan di pasar walau sekadar window shopping di sidewalk etasase-etalase toko.

Tidak begitu halnya dengan dua anaknya, Akong dan Dayong, dua generasi milenial.

Tahun lalu, ketika hendak naik ke kelas tiga SMU, Akong minta dibelikan sepatu pantovel hitam buat sekolah.

Alec lantas mengajak Akong jalan-jalan sore menikmati hawa petang kaki gunung Tampomas. Jalan kaki saja, dari rumah melewati pasar ke arah batas pusat kota, mencari agen sepatu Cibaduyut.

Mulanya Akong enggan ikut. “Lebih dicari online saja,” katanya.

Meski Akong ogah-ogahan berjalan di sepanjang emperan pertokoan, ia tetap ikut juga, karena paham kemauan papanya sulit dibantah.

Kios yang dimaksud akhirnya ketemu, posisinya pas di ujung gerbang masuk pusat kota. Jarak dari rumah ke kios tersebut tidak kurang tiga kilometer!

Sepatu yang dicari ketemu, sudah dibanderol Rp170.000,- jadi nggak perlu banyak buang waktu dengan tawar-menawar segala.

Akong (paling kanan) bersama papa Alec dan Ayong (pangku depan) saat berkunjung ke Pantai Malin Kundang, Padang, 2002. Kedua bocah kecil itu kini sudah tumbuh menjadi pemuda dan pemudi milenia.

Akong (paling kanan) bersama papa Alec dan Dayong (pangku depan) saat berkunjung ke Pantai Malin Kundang, Padang, 2002. Kedua bocah kecil itu kini sudah tumbuh menjadi pemuda dan pemudi milenial.

Tempo hari saat hendak mengikuti orientasi prakampus, Akong perlu sepatu baru. Kali ini jenis sepatu sport.

Adiknya, Dayong yang baru kelas tiga SMU langsung ambil inisiatif, mencari barang yang dimaksud di empat e-commerce penyedia marketplace tersebut di atas.

Setelah membanding-bandingkan harga, akhirnya ketemu yang paling murah di salah satu marketplace tersebut, Rp70 ribu.

“Dede suka begitu (membandingkan harga terlebih dulu) sebelum memutuskan membeli,” lapor Dayong bangga via whatsapp.

Dalam hati Alec mengakui, harga itu termasuk murah di pasaran untuk sepatu olahraga dewasa mengingat ukuran kaki Akong 43.

Dan, serta-merta sebutir kristal bening mengucur di pipinya, teringat nasib yang bakal menimpa para pedagang sepatu di pasar-pasar tradisional dan agen Cibaduyut langganannya.

Man jadda wa jada,” bunyi satu pepatah Arab.
Wallahu ta’ala ‘alam bi sh showab.

Ali Cestar
Penulis adalah pemerhati TI tinggal di Hambalang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Belajar dari pelosok, cara berdemokrasi tanpa mahar

Nama yang tercantum di layar ponselnya cukup familiar. Bedul, (bukan nama sebenarnya), tumben menghubungi Alec. Karena jarang menerima panggilan telpon dari konco lamanya itu, sore itu ponsel langsung dia angkat.

DEPOK (cestarweb): “Lec, lu malam ini ada waktu nggak? Bisa mampir ke kios sebentar, ada yang mau saya diskusikan,” kata Bedul di seberang telpon.

Orang-orang di sekitarnya bisa memanggil namanya dengan sebutan Bang Bedul. Pria kelahiran Lamongan itu, dikenal sebagai RW tajir di lingkungan tempat tinggalnya.

Terakhir kali bertemu dengan pria berkepala cepak ala Apache itu sekitar lima tahun lalu ketika Alec dimintai pendapat tentang plus minus perlu tidaknya pemasangan sentra anjungan tunai mandiri (ATM) di ruko miliknya.

Selepas Isya, Alec memacu motor bututnya ke ruko Bang Bedul. Suasana masih tampak sepi, karena biasanya pada malam minggu suasana di ruko mulai ramai pukul 10.00 malam, saat pentas musik rock mulai digelar.

Setelah berbasa-basi dengan menawarkan makanan dan minuman dari gerai-gerai yang ada di komplek ruko tersebut, Bang Bedul memulai percakapan.

“Gua ditawari oleh Partai (anu) untuk jadi caleg di Depok. Tapi gua harus menyiapkan mahar Rp500 juta buat pengurus partai (DPD),” tutur Bang Bedul.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sejak jaman reformasi bergulir, partai-partai kerap menawarkan posisi caleg kepada orang-orang yang dianggap tajir dan berada dengan kompensasi membayar ‘mahar politik.’

FB_IMG_1493026401605

Di luar itu, Sang Caleg mesti harus menyiapkan lagi dana kampanye untuk mempromosikan dirinya ke tengah masyarakat, biasanya dibantu oleh mesin-mesin partai di wilayah dapil caleg tersebut.

Alhasil, tak sedikit caleg gagal yang mengalami stres dan depresi bahkan ada yang sampai gila karena terlibat utang di sana-sini, demi mewujudkan ambisinya itu.

Sementara caleg yang berhasil lolos ke gedung dewan, mulai menghitung-hitung bagaimana agar bisa cepat ‘balik modal’ dan kalau bisa ‘untung besar’ dari kursi dewan yang ia duduki.

Selain caleg, praktik mahar ini juga sering diterapkan terhadap calon bupati, walikota dan gubernur yang hendak bertarung di pilkada-pilkada.

Jadi, begitu mereka berhasil mendapatkan jabatan kepala daerah, maka sering urusan perijinan dan lelang proyek-proyek di daerah dijadikan lahan basah untuk menumpuk pundit-pundi pribadi dan partainya.

FB_IMG_1488866946303

Kalau hari ini kita dapati banyak kepala daerah yang diseret KPK karena terlibat korupsi, pungli atau gratifikasi, itu semua tak lepas dari proses awal demokratisasi yang kita bangun selama ini.

Bang Bedul terlihat termangu-mangu mendengar cerita Alec, sambil menghirup minuman favoritnya, jus lemon, sajian yang sama yang dihidangkan buat Alec.

“Lantas dalam kasus Ane, gimana dong solusinya?” tanya Bang Bedul.

“Jawabnya simpel saja Bang, tidak perlu! Karena tingkat elektabilitas orang tak bisa hanya karena orang itu dikenal sebagai RW tajir di lingkungannya. Untuk  Dapil Depok paling tidak Abang mesti punya basis massa di dua atau tiga kecamatan. Kalau tidak, usaha Abang hanya akan sia-sia belaka menghabiskan duit dan waktu dengan percuma,” tandas Alec.

Bahasa gaulnya, “Mbok ya bercermin dulu deh, Bang” batin Alec.

Belajar dari pelosok

Meski jaman sekarang identik dengan hal yang serba konsumerisme dan materialisme, tapi di beberapa pelosok nagari (daerah) masih ditemukan praktik pengangkatan pemimpin, dalam hal ini disebut panghulu atau Datuk di mana calon datuk tidak mengeluarkan biaya sepeserpun.

Nama-nama nagari tidak perlu disebutkan, guna menghindari kecemburuan lokalitas.

Di Sumatera Barat, ada beberapa hal dalam tradisi adat mereka yang bisa dijadikan acuan solusi dalam menyikap biaya berdemokrasi yang ‘mahal,’ adalah tiga hal berikut.

  1. Mambangkik batang tarandam (membangkit batang terendam).

Batang yang terendam identik dengan material yang sangat kuat, tahan lama dan bernilai tinggi dan sering dijadikan bahan utama untuk mendirikan sebuah bangunan, dalam hal ini adalah Rumah Gadang.

Ini berlaku ketika gelar pusaka (datuk) telah lama dianggurkan. Mungkin, karena terputusnya keturunan laki-laki, atau bisa juga karena terbentur pada biaya malewakan gala (prosesi pengangkatan gelar datuk) yang belum ada. Terjadi kevakuman dalam waktu yang cukup lama.

Setelah sumber-sumber dana berhasil digali (batang tarandam) dan tokoh yang dianggap layak menjadi datukpun sudah siap, maka dimulailah acara malewakan gala tersebut.

  1. Mangambangkan nan talipek (membuka lipatan)

Ini artinya menghidupkan kembali status sosial atau gelar pusaka adat yang sudah lama tidak dipakai.

Biasanya disebabkan karena belum adanya kesepakatan tentang calon yang dianggap tepat untuk diangkat sebagai panghulu / datuk, mungkin karena faktor Si Calon belum cukup umur, dll.

  1. Manurunkan nan tagantuang (menurunkan yang tergantung)

Pada hakikatnya kurang lebih sama dengan poin 1 dan 2 yakni karena alasan-alasan tertentu baik faktor usia maupun biaya, rencana batagak gala (peresmian gelar datuk) sempat menjadi tertunda alias menggantung untuk waktu lama.

Dari ketiga poin diatas dapat dicermati bagaimana masyarakat Minangkabau sangat berhati-hati dalam menentukan pilihan siapa pemimpin yang pantas buat mereka, dan tak memaksakan diri jika belum siap.

Selain itu, segala biaya yang timbul akibat pemilihan pemimpin itu, ditanggung renteng secara gotong-royong oleh anak kamanakan (karib kerabat dalam kaum).

Sehingga, Si Calon tidak terbebani oleh biaya mahar politik apapun dan tak ada konsekuensi mesti ‘balik modal’ apalagi ‘cari untung’ dalam menjalankan jabatannya, sebagai satu amanah publik.

Ali Cestar
Penulis adalah pemerhati sosial politik, berdomisili di Hambalang, Bogor.

Berjuang sendiri sejak jaman Belanda, sudah menjadi takdir PT Pos kah?

Tubuhnya mulai ringkih karena dimakan usia. Pandangan matanya sudah tak berfungsi lagi karena operasi katarak yang kurang berhasil. Meski begitu, langkah kakinya selalu tegap berjalan ke masjid setiap azan berkumandang. 

SUMEDANG (cestarweb): Haji Emed oleh tetangga satu RT di bilangan Jalan Kebonkol, Sumedang lebih dikenal sebagai imam masjid.

Lelaki tua kelahiran 1939 itu menjalani masa pensiunnya dengan tabah, meski kezaliman demi kezaliman sebagai buah dari kebijakan pemerintah, terus dia alami.

Dengan uang pensiunan yang tak mencapai Rp1 juta per bulan, Haji Emed merasa PT Pos dianaktirikan oleh pemerintah, karena standar ganda kebijakann status pegawai dan pensiunan PT Pos yang tidak setara dengan BUMN lain seperti PT Kereta Api Indonesia (KAI), misalnya.

Meski sama-sama BUMN, berbeda dari PT KAI yang pegawainya sempat menikmati masa pensiun sebagai PNS ketika jawatan itu berubah status menjadi persero, pegawai PT Pos justru diturunkan statusnya menjadi karyawan swasta.

Dalam sejarahnya, PT Pos telah mengalami beberapa kali perubahan nama.

PT Pos berdiri pada 1931 dengan nama Jawatan PTT. Pada 1962 berubah menjadi PN Postel dan berubah lagi pasca G-30S-PKI 1965 – 1978 menjadi PN Pos dan Giro.

Sejak 1978 hingga 1995, Pos menggunakan nama Perum Pos dan Giro sebelum menjadi PT Pos dan Giro sejak 1995 sampai sekarang sesuai PP Nomor 5 Tahun 1995.

“Dulu setiap laba Pos kami setor ke pemerintah.Kini, loyalitas kami kurang dihargai. Pensiun yang kami terima tidak sampai 30% dari pensiun PNS,” keluh Haji Emed, yang diangkat sebagai pegawai Pos pada 1960.

Dari segi peluang bisnis, PT Pos juga terkesan jauh dari perhatian pemerintah.

Berbeda dari BUMN lainnya seperti Garuda Indonesia, misalnya, yang kerap mendapat suntikan modal meski merugi, PT Pos justru harus berjuang menggali peluang bisnisnya sendiri.

Sejak lesunya arus pengiriman surat dan wesel, PT Pos terus  menggali sumber-sumber pendapatan baru seperti membuka gerai Pospay dan Pos Logistik.

Satu-satunya competitive advantage yang masih dimiliki PT Pos hingga kini adalah kekuatan jaringannya yang menjangkau hingga ke kawasan-kawasan pelosok di Tanah Air.

Kekuatan jaringan inilah yang sering dilirik oleh usaha jasa pengiriman seperti TIKI & JNE, misalnya, yang menjadikan PT Pos sebagai mitra perpanjangan tangan delivery mereka untuk menjangkau pelosok.

Selain kecilnya nilai pensiun, Haji Emed juga merasa dizalimi dalam hal pelayanan kesehatan seperti BPJS.

Oleh PT Pos, pensiunan golongan 3A berpangkat PNMPos itu hanya diberi tunjangan untuk BPJS Rp65 ribu per bulan.

“Karena dirujuk oleh dokter umum ke dokter ahli, harus antre di klinik sekian lama dan ujung-ujungnya harus beli obat sendiri di luar yang harganya di atas Rp100 rb karena BPJS hanya memberi obat sesuai standar pelayanan minimal.

Bahkan ada teman pensiunan saya yang mengalami masalah kesehatan serius yang harus antre berjam-jam di rumah sakit, ujung-ujungnya hanya mendapat obat parasetamol,” tutur Haji Emed yang menjalani pensiun sejak 1995.

Masalah melaratnya hidup para pensiunan PT Pos itu sebetulnya bukanlah isu baru.

Pada 2012, masih jaman pemerintahan SBY, 1.000 pegawai PT Pos pernah menggelar unjuk rasa di Jakarta menuntut kesetaraan hak pensiun dengan PNS lainnya.

Pada tahun yang sama, masalah yang menderita 17.000 lebih pensiunan PT Pos pernah dengan lantang disuarakan oleh Rieke Diah Pitaloka di Komisi IX DPR RI.

Waktu itu, pensiunan PT Pos menerima uang pensiunan terendah Rp230 ribu dan tertinggi Rp780 ribu, bandingkan dengan PNS lain pada level (pangkat & jabatan) yang sama yang menerima terendah Rp1.500.000 dan tertinggi Rp2.700.000.

“Yang diterima Pensiunan Pos Indonesia itu sudah sangat tidak layak. Jauh dari cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari dimana harga sembako meningkat setiap saat. Ini membuat para pensiunan itu tak memiliki daya lagi untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya,” kata Rieke seperti dikutip Beritasatu.com.

Dalam dasawarsa terakhir, gaji PNS sipil maupun TNI/Polri, telah terjadi paling tidak telah mengalami lima kali kenaikan gaji hingga 10% tiap kenaikan.

Namun tidak demikian halnya dengan PT Pos.

Pada 2015, Badan Kepegawaian Negara (BKN) sempat juga mengkaji masalah tersebut, namun hingga kini tidak jelas follow-up nya bagaimana.

“Apa memang takdir kami untuk terus berjuang sejak jaman Belanda sampai sekarang ini?” tanya Haji Emed.

Standar ganda kebijakan pemerintah juga dialami cucunya belum lama berselang.

Akong, cucu kesayangan lelaki 78 tahun itu yang baru lulus SBMPTN, diharuskan membayar uang  kuliah hampir Rp4 juta per semester di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, atau kurang lebih sama dengan rata-rata uang kuliah di perguruan tinggi swasta seperti UIN Solo, misalnya.

Usut punya usut, ternyata pihak rektorat tidak menyetujui program Bidik Misi cucunya itu, meski sudah dilengkapi dengan slip gaji Rp2 juta / bulan dari kantor tempat orang tuanya bekerja.

“Kalau toh uang kuliahnya sama dengan swasta, apa poin nya lulus SBMPTN dan kuliah di negeri?” kata Sumijati, putri sulung Haji Emed.

Boleh jadi, keluarga Haji Emed memang sudah ditakdirkan untuk terus berjuang melawan ketidakadilan di dalam negeri Bumi Pertiwi ini.

Dalam bisu, Haji Emed terus melangkah menuju masjid favoritnya, tempat ia bebas melampiaskan semua keluh kesahnya kepada Sang Pemilik jagad semesta…

Ali Cestar
Penulis adalah redaktur media logistik, berdomisili di Hambalang