Cara sehat OTG menangkis serbuan komersialisasi industri (bag. 2)

Tatapan mata Mahyedin kosong, sehampa padang ilalang yang membentang di depan rumahnya. Ia hanya bisa duduk di kursi teras menikmati masa pensiun karena kedua kakinya bengkak akibat serangan asam urat. Taktis, selama tiga tahun terakhir, pria penderita hipertensi itu menghabiskan waktu dengan duduk sepanjang hari.

HAMBALANG (CestarWeb): Mahyedin termasuk tipe orang yang patuh dengan nasihat dokter. Sejak didakwa mengidap hipertensi esensial, dokter menyuruh mantan pesilat itu makan obat hipertensi tiap hari seumur hidup.

Tanpa disadarinya, salah satu obat diuretik yang ia konsumsi itu ternyata berjenis hidroklorotiazid (HCT) yang membawa risiko terjadinya penumpukan asam urat (uric acid).

Seperti obat-obat diuretik jenis beta blocker pada umumnya, HCT bekerja memanipulasi fungsi ginjal dengan memblokir zat cair masuk ke dalam pembuluh darah, sehingga air langsung terbuang ke kantong urine.

Disebut memanipulasi karena ginjal secara alamiah bisa mengontrol kadar air dalam metabolisme tubuh.

Jika tubuh kelebihan cairan, ginjal langsung membuangnya ke kantong urine. Sebaliknya, jika tubuh mengalami dehidrasi (kekurangan cairan) ginjal secara otomatis akan menahan pembuangan air.

Obat diuretik dirilis sejak 1959 ke pasar untuk tekanan darah tinggi. Efek samping yang mungkin terjadi termasuk kerja ginjal buruk, ketidakseimbangan elektrolit terutama kalium darah rendah dan kurang sodium, asam urat, gula darah tinggi dan kliyeng-kliyeng (perasaan pingsan) di awal berdiri.

Obat ini ada dalam kelas obat tiazid dan bekerja dengan menurunkan kemampuan ginjal untuk menahan air.

“Pada awalnya volume darah tereduksi, darah yang tereduksi kembali ke jantung sehingga cardiac output. Dalam jangka panjang, diyakini ia menurunkan resistensi pembuluh darah perifer,” tulis satu jurnal medis.

Dierutika ialah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Sedangkan tiazid sendiri dapat meningkatkan peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida plasma dengan mekanismeyang tidak diketahui, tetapi tidak jelas apakah ini meningkatkan resiko terjadinya aterosklrosis.

Menurut jurnal itu, hipokalemia lazim terjadi bagi pemakai obat tersebut. Hipokalemia adalah efek samping yang sangat sering terjadi pada terapi jangka panjang dengan diuretik, yaitu 25-40% kasus.

Efek samping lainnya adalah hipomagnesemia, alkalosis metabolik, hipokloremis, toleransi glukosa yang berkurang (bahaya manifestasi diabetes melitus pada kondisi metabolik pradiabetes), gangguan metabolisme lemak, kenaikan kadar trigliserid serum dan kadar kolesterol serum; kenaikan LDL, HDL tidak berubah atau turun.

Selain itu juga timbul hiperurisemia, yakni serangan pirai pada pasien yang ada disposisi. Penyebabnya adalah penghambatan kompetitif sekresi asam urat yang berlangsung melaui sistem transpor anion ditubulus proksimal sperti juga eliminasidiuretik tiazid. Setelah kurang lebih 7-10 hari kenaikan asam urat serum akan mencolok.

IMG_20170918_153100

Derivat tiazid memperlihatkan efek penghambatan karbonik anhidrasedengan ptensi yang berbeda-beda. Zat yang aktif sebagai penghambat karbonik anhidrase, dalam dosis yang mencukupi, memperlihatkan efek yang sama seperti asetazolamid dalam eksresi bikarbonat.

Agaknya efek penghambatan karbonik anhidrase ini tidak berarti secara klinis. Efek penghambatan enzim karbonik anhidrase diluar ginjal praktis tidak terlihat karena tiazid tidak ditimbun di sel lain.

IMG_20171018_114004

“Pada pasien hipertensi, tiazid menurunkan tekanan darah bukan saja karena efek diuretiknya tetap juga karena efek langsung terhadap arteriol sehingga terjadi vasodilatasi,” terang jurnal tersebut.

Farmasi = kimiawi = sintetis

Menurut Metbayah, seorang pemilik apotik di Banten, jual-beli obat di apotik semakin menurun dalam dasawarsa terakhir seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk kembali ke pola hidup sehat alami, dan menghindari mengkonsumsi obat-obat kimiawi sedapat mungkin.

IMG_20171018_090533

“Obat farmasi itu sifatnya kimiawi dan sintetis. Ia bisa meredam satu gejala penyakit secara emergensi, tapi untuk jangka waktu tertentu bisa menimbulkan empat penyakit baru,” tutur Metbayah.

Di negara maju seperti AS, misalnya, zat yang sudah ada secara alami tidak bisa dipatenkan. Alhasil, perusahaan-perusahaan obat berlomba-lomba membuat obat sintetis untuk bisa dipatenkan.

Di Indonesia, kandungan obat alami (tradisional) masih diakui. Ia lazim disebut dengan herbal atau jamu. Ketika eforia herbal meledak di awal 2000an banyak farmasi yang latah menggunakan istilah herbal pada produknya.

Home-home industry herbalpun bermunculan di mana-mana bak jamur di musim hujan sehingga industri farmasi sempat dibuat ketar-ketir.

Jadi jangan heran kalau muncul produk-produk herbal yang hanya cari duit dan tidak memikirkan efektivitas dan khasiat produknya secara bersungguh-sungguh.

“Bahkan, ada satu produk herbal yang katanya bisa menyembuhkan asam urat, setelah dikonsumsi teratur, justru asam urat saya kambuh mendadak, sampai kaki saya lumpuh dan terpaksa pakai kursi roda,” kata Alec.

Alec juga pernah berobat pada seorang dokter herbalis di luar kota. Di sana, asam uratnya diukur, tercatat mencapai 18.

Angka ini terbilang sangat tinggi, karena ada tetangganya yang terkena stroke ringan karena mengidap asam urat yang  sudah mencapai 22.

“Ini adalah tingkat asam urat tertinggi dari pasien yang pernah saya tangani selama ini,” kata dokter tersebut merespon tingkat asam urat yang diderita Alec.

Melawan mitos

Berbagai upaya dilakukan Alec untuk menurunkan kadar asam urat dari dalam darahnya, mulai dari meminum ramuan jus nenas, lobak putih dan kemiri hingga ke terapi air heksagonal dan alkalin (7 botol) selama tiga hari berturut-turut, disamping obat herbal yang sudah diresepkan dokter itu untuknya.

Pada hari ketujuh, Alec kembali memeriksakan diri ke dokter yang sama. Dan ternyata, kadar asam uratnya tak berubah sama sekali, tetap di angka 18!

Sadar bahwa dirinya mulai terseret dalam lingkaran setan bernama komersialisasi industri obat-obatan, Alec akhirnya memutuskan bereksperimen mengobati diri sendiri, dengan jurus andalannya, off the grid (OTG), kembali ke alam asri.

Hal yang pertama yang ia lakukan adalah riset literatur eliminatif, yakni membuat perbandingan pendapat para ahli dengan menyingkirkan unsur-unsur  yang bertentangan di dalamnya. Karenanya, semua unsur itu patut dihindari.

Contoh. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ketimun itu bagus untuk obat darah tinggi, namun pendapat lain menyebutkan bahwa ketimun merupakan salah satu pemicu asam urat. Kontroversial. Abaikan!

Begitu juga halnya dengan nenas, ubi jalar dan tomat. Terjadi kontradiksi antara manfaat dan mudhorat yang terkandung di dalamnya, sehinga semua jenis makanan itu layak jadi tersangka dan diabaikan saja, baik sebagai obat maupun sebagai pantangan.

Apalagi, jika ditemukan pesan-pesan mujarobat yang ujung-ujungnya adalah jualan produk, bisa dipastikan hal itu sebagai non-sense, hanya alat untuk komoditas cari duit semata.

Salah satu tersangka utama yang tersisa karena tidak kontroversial di kalangan para ahli adalah unsur kimia seperti pada bumbu penyedap makanan buatan pabrik, termasuk MSG dan bahan pengawet diyakini bisa merusak fungsi ginjal dan mengganggu metabolisme tubuh.

Sembuh karena eksperimen

Setelah berkutat dengan eksperimen terhadap dirinya sendiri selama tiga bulan, Alec akhirnya bisa sembuh total dan tampil bugar kembali di depan kelas, mengajar siswa SMK tempat ia mengabdikan diri selama ini.

Ia tidak dendam dengan dokter yang mengaku herbalis. Ia tak sakit hati dengan herbal abal-abal. Ia hanya bersyukur karena keberaniannya bereksperimen selama ini secara otodidak dan independen telah membuahkan hasil.

Resepnya ternyata sederhana saja. Inti semua persoalan bertitik berat pada pola makan. Yang dibutuhkan hanya keberanian untuk bereksperimen pada diri sendiri.

Setiap zat yang kita makan dan minum adalah obat sekaligus penyakit tergantung unsur kimiawi yang ada di dalamnya.

Jika unsur kimiawinya sesuai, ia otomatis menjadi obat, dan jika unsur kimiawinya tak seimbang, ia menjadi penyakit. Beda obat dan penyakit itu terletak pada takarannya.

Berikut langkah-langkah yang dijalankan Alec sehingga bisa sembuh total dari penyakit asam uratnya.

1. Menakar karbohidrat

Kadar karbohidrat yang tinggi bisa membantu penumpukan uric acid menjadi zat purin dan gula darah. Karena itu, setiap asupan karbohidrat seperti nasi, kentang. mie dan bahan tepung perlu dikurangi.

Untuk itu, Alec mengganti cara makan dari menyuap pakai tangan dengan menyuap pakai sumpit. Biasa nasi satu piring, sekarang diganti menjadi setengah mangkok saja.

Makan setelah lapar, dan berhenti sebelum kenyang. Makan sedikit tapi sering itu lebih baik dari makan jarang tapi sekaligus banyak.

Untuk memastikan kadar karbohidrat tetap terkontrol, Alec mengkonsumsi teh hijau setiap hari. Kandungan teh mencegah pembentukan karbohidrat menjadi gula darah, sementara jenis teh hijau berkhasiat membuang radikal bebas dari tubuh.

2. Melawan asam dengan asam

Untuk membuang kelebihan asam urat dan penumpukan karbohidrat dari sistem pencernaan, Alec mengkonsumsi asam jawa (dicampur gula aren).

Asam jawa terkenal ampuh sebagai pembersih zat-zat yang tak dibutuhkan tubuh dan radikal bebas dari pembuluh darah.

IMG_20171002_101532

Air asam jawa pembasmi asam urat

3. Kembali ke apotik hidup

Sebagai pamungkas, Alec berpaling pada apotik hidup, dalam hal ini daun kumis kucing yang ia tanam di halaman rumah.

Paling tidak, selama tiga hari berturut-turut air seni akan terlihat banyak busa menandakan terbuangnya uric acid.

Pada hari keempat, seiring air seni yang mulai membening, semua gejala nyeri pada persendian tangan dan kaki akan lenyap, menandakan Anda sudah pulih dari penyakit asam urat.

IMG_20171102_083015

Kursi roda aluminium menjadi saksi bisu eksperimen off the grid 2017

Meski begitu, dalam 5-7 hari ke depan, pada persendian masih akan terasa pegal-pegal sebelum akhirnya hilang sama sekali seperti sedia kala.

Dan untuk menjaga sistem pencernaan termasuk pankreas dari efek negatif kimiawi (menetralisir), alangkah baiknya setiap pagi hari Anda minum air rebusan daun badotan, sejenis rumput berkembang putih yang biasa dimakan kambing.

wallahu ‘alam bi’sh showab

Ali Cestar
Pemerhati kesehatan dan praktisi gaya hidup off-the-grid tinggal di Hambalang, Bogor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s