Isu komunis di antara warisan status quo & bayang-bayang sosialisme

Mungkin hanya segelintir orang yang paham arti kata ‘persbiro.’ Bagi Mas Bud yang ketika itu diserahi tugas mengembangkan desk baru, transportasi, kata itu lazim digunakan ketika mengkompilasi sejumlah naskah dari beberapa sumber sekaligus. Tujuannya semata demi efiensi redaksional sehingga semua sumber berita tak perlu disebutkan satu persatu.

JAKARTA (cestarweb): Namun bagi Alec, salah seorang bawahan Mas Bud di desk yang sama di koran ekonomi tersebut, kata ‘persbiro’ identik dengan romantisme masa-masa perjuangan anak negeri jajahan.

Menurut Wikipedia.org, nama Persbiro identik dengan Indonesische Persbureu (IP) atau Persbiro Indonesia, didirikan oleh RM Soewardi Soerjadiningrat yang kemudian lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara.

Persbiro didirikan di Den Haag pada Nopember 1913 dan pada awalnya dimaksudkan sebagai sumber finansial bagi keluarga Ki Hadjar. Namun kemudian, Persbiro berkembang menjadi alat propaganda dan pejuangan kaum pergerakan Indonesia di Belanda.

Pada 31 Maret 1951, setelah proses nasionalisasi, Belanda menyerahkan kantor berita Algemeen Niews en Telegraaf Agentschaap (Aneta) kepada Yayasan Persbiro Indonesia yang berlangsung secara bertahap hingga 1955.

Pada 6 Nopember 1954, Pers Biro Indonesia (PIA) resmi berdiri dan menunjuk BM Diah sebagai ketua pengurus yayasan sementara Djamaludin Adinegoro sebagai Pemimpin Umum.

IMG_20170818_072019

Pada 13 Desember 1962, PIA dilebur dengan Antara sementara kantor-kantor berita kecil seperti Asian Press Board (APB) dan Indonesian National Press & Publicity Service (INPS) dibubarkan, menyusul keluarnya UU Press No II yang hanya membolehkan satu kantor berita tunggal, bernama Antara.

Pada saat yang sama, komunisme sedang bergelora di Tanah Air. Partai Komunis Indonesia (PKI) sepertinya mendapat tempat khusus dalam pemerintahan Ir Soekarno,  bahkan mencetuskan Nasakom, singkatan dari Nasional, Agama, Komunis, seakan di wilayah NKRI hanya diakui tiga kekuatan politik itu saja.

PKI merupakan pendukung utama gagasan Nasakom. Bahkan partai itu tak segan-segan melibas partai berhaluan yang sama, Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh tokoh kiri, Datuk Tan Malaka.

Bung Karno kemudian membubarkan Partai Murba berdasarkan laporan PKI bahwa Murba telah memfitnah PKI hendak melakukan kudeta menjelang September 1965.

Oleh pemerintahan Soeharto, pada 1971 Partai Murba direhabilitasi dan sempat ikut Pemilu pada 1971. Baru pada Pemilu 1977, partai itu dilebur ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Dan pada Pemilu 1999, Partai Murba muncul lagi dengan nomor urut 31, namun tercampak dari daftar kontestan pemilu berikutnya karena tidak lolos electoral threshold. Sempat ganti jaket menjadi Partai Murba Indonesia pada 2009, namun tak lulus seleksi untuk ikut Pemilu.

Kembali ke masalah Persbiro, ternyata istilah itu tidak hanya dimonopoli oleh awak pers saja. Partai Komunis ternyata juga menggunakan istilah Persbiro sebagai bagian dari struktur partai.

Dalam Partai Komunis, termasuk di Rusia dan Cina, dalam struktur partai terdapat dua corong utama yakni Politbiro yang mengurusi bidang politik dan pemerintahan serta Persbiro yang mengurusi bidang ideologi dan propaganda.

Mengetahui akan hal ini, Alec sebagai penggagas Persbiro.com berada dalam posisi dilema.

IMG_20170818_095751

Akankah tempat tongkrongan teman-teman penulis, eks wartawan, webmaster, copy writer, penerjemah dan redaktur freelance ini akan diteruskan sebagai satu brand usaha?

Khawatir akan jadi korban fitnah menjadi bagian kebangkitan komunisme di Tanah Air, akhirnya Persbiro.com dibiarkan terlantar dan di homepage situs itu kini hanya terpampang spanduk pemasangan parabola gratis berlangganan, sebagai bagian dari semangat kebebasan informasi di abad milenal ini.

Kalau Anda punya gagasan cemerlang tentang bagaimana optimalisasi situs tersebut, silakan hubungi Sang Founder di 0821-5531-5751 via Whatapps.

Dilema yang sama juga dialami oleh paham sosialisme di Indonesia. Sebagian orang beranggapan paham sosialisme dekat kepada komunisme alias lebih ke kiri.

Sementara bagi sebagain lain, sosialisme merupakan inti ajaran Islam dan lebih dekat ke paham kanan.

Cukup membingungkan bukan?

Sementara istilah komunis itu sendiri berasal dari Bahasa Inggris seperti commune (kelompok yang hidup bersama), communal (yang berhubungan dengan kepaguyuban), dan community (himpunan atau masyarakat).

Hal inilah yang pernah dipertegas oleh Bung Karno tentang pengertian ‘komunis’ yang oleh kalangan awam di masa itu kerap diasosikan dengan atheis atau kaum yang tak mengenal Tuhan.

Bagi Bung Karno, komunisme hanyalah satu ideologi yang merekat negara kesatuan bernama Uni Soviet, sementara atheisme itu sendiri hanya dianut oleh masyarakat di negara bagian bernama Rusia saja.

Karena, banyak negara-negara bagian lain di Uni Soviet yang justru mayoritas menganut ajaran Islam, seperti Tajikistan, Uzbekistan, dll.

Meski berbeda istilah, kedua ideologi (komunisme & sosialisme) memiliki satu common ground yaitu mengalami sejarah pahit dengan praktik-praktik kapitalistik.

Jadi tidak heran, seorang Datuk Tan Malaka, putra Minang yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan beraliran kiri, lebih memilih dirinya disebut sosialis ketimbang komunis, karena kesalahpahaman arti ini.

Itu menjelaskan kenapa Tan Malaka keluar dari PKI dan mendirikan partai sendiri, Murba, yang kemudian hari menjadi salah satu musuh politik PKI.

Bagaimanapun, komunisme dan sosialisme masih memiliki musuh bersama, bernama kapitalisme, yang menjadi dasar menjamurnya gerakan-gerakan anti-kapitalistik seperti solidaritas buruh dan ormas-ormas akar rumput lainnya.

Artinya, kalau ada pihak-pihak yang anti kepada kebangkitan komunisme dan sosialisme, bisa dipastikan berasal dari kelompok-kelompok kapitalistik yang cengkeramannya sudah mengakar sejak kelompok modal diberi tempat di Tanah Air.

Bahkan di negara komunis seperti Cina sekalipun, kelompok kapitalistik tetap diberi tempat dalam aktivitas perekonomian, meski eksistensi mereka belum diakui secara terang-terangan alias masih malu-malu.

IMG_20170818_090829

Kontroversi tentang ancaman kebangkitan komunisme di Indonesia bermuara pada satu hal, penegasan akan arah dan tujuan platform politik & perekonomian bangsa ini, mendukung kapitalime global atau mencari konsensus baru yang lebih komunal dan sosialistik, dan mungkin saja lebih islami.

Yang jelas, kelompok status quo yang selama ini telah menikmati gurihnya kue kapitalistik di Republik ini, tak akan rela kenyamanan mereka terganggu oleh bayang-bayang sosialisme yang sengaja dilabeli komunis biar terkesan lebih angker dan seram di tengah masyarakat.

* Penulis adalah pemerhati ideologi, mantan wartawan, berdomisili di Hambalang, Bogor     

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s