Minta-minta, antara dilema & kausalitas (bagian 1)

Minta-minta, antara dilema & kausalitas (bagian 1)

Pakaiannya sopan, rapi & tertutup hijab seperti idealnya seorang Muslimah, berdiri tenang seperti patung di depan pintu masuk Kantor Pos Ciriung, Cibinong, Bogor. Kepada setiap pengunjung yang hendak masuk, ia tersenyum, dan disodorinya satu amplop.

Karena buru-buru ada urusan, Alec menerima amplop tersebut sembari berkata, “Nanti saya baca, ya.”

Di dalam kantor pos itu, sembari menunggu namanya dipanggil karena antrian, Alec membuka amplop yang tadi ia terima.

Ternyata di amplop itu tertera permintaan sedekah untuk yayasan panti asuhan. Alec kemudian teringat, tahun lalu di tempat yang sama ia pernah disodori amplop sedekah juga.

Hanya saja bedanya, tahun lalu yang berbeda adalah orangnya, meski sama-sama perempuan, nama dan lokasi yayasan. Tak perlu kritis-kritis amat untuk bisa membaca bahwa kantor pos tersebut telah menjadi lokasi favorit untuk minta sedekah.

Keluar dari kantor pos, sembari menyerahkan amplop yang ia selipi uang seikhlasnya, Alecpun mencoba mengajukan beberapa pertanyaan.

Ternyata benar, ibu tersebut, sebut saja namanya Ita, menunjukkan sejumlah dokumen yang menyatakan ia bekerja sebagai pencari dana untuk sebuah yayasan yatim piatu.

“Ada nih Pak proposal lengkapnya,” kata Ita sambil menyodorkan satu berkas.

Badan hukum jelas, alamat jelas, nama-nama pengurus dan pengelola pun tertera. Itu semua legalitas, yang tentu saja bisa diurus, dan belum menunjukkan fakta kegiatan sesungguhnya.

“Kami tiap malam Jumat ada pengajian. Silakan Bapak datang kalau hendak bersilaturahmi dengan anak-anak yatim piatu yang kami bina,” tuturnya.

Memang, dalam daftar yang  tertera dalam proposal, disebutkan ada sekitar 55 anak yatim dan piatu serta 20 orang dhuafa yang menurut Ita semuanya adalah janda-janda tua.

“Legalitas itu penting kalau yayasan Mbak ingin berurusan dengan bantuan pemerintah. Kalau kita yang partikelir ini, yang penting kegiatannya faktual ada, bukan fiktif,” kata Alec.

Alec menjelaskan bahwa mengasuh yatim piatu termasuk perbuatan besar dan mulia.

“Mbak nggak perlu repot-repot mesti nongkrong di depan kantor pos meminta-minta kepada setiap pengunjung. Kesannya gimana, gitu, jadi kurang sreg aja,” papar Alec.

Selidik punya selidik, ternyata Ita tidak sendirian menjalani usaha penggalangan dana tersebut. Menurut pengakuan dia, ada sekitar 9-10 orang yang disebar di beberapa tempat untuk melakukan hal yang sama.

Sebetulnya, dibekali proposal lengkap itu sudah memadai untuk disebar ke toko-toko yang bertebaran di sepanjang jalan Mayor Oking yang terbentang dari Cibinong hingga Citeureup. Ciriung masuk dalam kawasan ini.

Kenapa hal itu tidak dilakukan dan justru memilih kantor pos sebagai tempat menunggu orang yang keluar masuk sepanjang hari?

Bagi orang awam seperti Alec, harapannya sederhana saja, bagaimana bantuan yang ia berikan, sekecil atau sebesar apapun sampai kepada nawaitu awalnya, anak-anak yatim dan piatu.

“Gini aja Mbak, tolong alamatnya, begitu ada waktu luang saya main ke sana,” tutur Alec.

“Kok kayak mau repot-repot segala. Tinggal kasih aja, yang penting ikhlas, apa susahnya sih?” barangkali begitu pikiran Si Ibu.

Logika tasawufnya nya sederhana saja. Urusan yatim piatu  itu bukan urusan sepele dalam agama. Dan memang, seorang Muslim harus mau repot-repot mengurusinya. Kalau nggak mau repot, mending nggak usah beramal sekalian.

Kausalitasnya, tanpa kita sadari kebaikan dan kemurahan hati kita bisa mendorong orang untuk menjadikan minta-minta sebagai mata pencarian tetap, yang pada gilirannya mendukung mentalitas malas bagi anak bangsa.

Karena itu, jangan heran jaman sekarang minta-minta kerap dijadikan modus dan bahkan isi proposalpun banyak yang fiktif.

Dan, sebagai pewacana kewirausahaan, Alec kerap mewanti-wanti muridnya untuk menghargai setiap sen yang mereka dapatkan dengan susah payah.

“Jangan pelit karena sifat pelit (bakhil) itu merusak, tapi jangan juga boros nanti kalian akan terhina,” kata Alec dalam satu kesempatan tatap muka di kelas.

Islam mengajarkan sikap yang sederhana yakni di tengah-tengah antara keduanya.

Tiap Muslim hendaklah berperilaku fathonah (cerdas) dan amanah dalam mengelola kekayaannya.

Artinya, setiap sen yang yang kita dapatkan atau kita belanjakan hendaklah dilakukan dengan cara yang bertanggungjawab, dari mana dan untuk apa, karena suatu ketika pasti akan ditanya, paling tidak di alam kubur sana.

Bersambung…

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s