Minta-minta, antara dilema & kausalitas (bagian 2)

  • Umurnya sekitar baru sekitar delapan tahun. Kepalanya dibalut kerudung atau tepatnya jilbab. Suaranya nyaring dan lantang, menunjukkan ia suka ngoceh. Raut mukanya khas Indonesia, berkulit sawo matang dan mata yang agak sipit. Gelas plastik bekas air mineral ia tenteng kemana-mana.

“Pak beri sedekah dong Pak. Beri sedekah, Pak,” katanya dengan mengiba-iba, sesaat setelah Alec keluar dari toko swalayan Indomaret yang letaknya di Jalan Pahlawan, tak jauh dari Polsek Citeureup.

Inilah ujian terberat dalam perjalanan hidup seorang Alec. Bertemu dengan anak kecil yang mengemis meminta-minta belas kasihan. Diberi salah, nggak diberipun salah.

Untuk beberapa saat Alec terdiam bisu dalam keheningan. Berbagai perasaan berkecamuk dalam pikirannya.

Alec tak serta-merta panik. Beruntung, Indomaret menyediakan kursi dan meja untuk pengunjung yang ingin bersantai di halaman luar.

Tak urung, Si Anak pun ikut duduk berhadapan langsung Alec, sembari mulutnya tak henti-henti berkata, “Pak berilah saya sedekah, Pak.”

“Kamu tahu apa yang mungkin menimpa kamu, anak perempuan berkeliaran di jalan-jalan dan di pasar? Kalau ada apa-apa sama kamu, kamu dijahili atau dijahati orang, siapa yang akan bertanggung jawab?,” tutur Alec memulai percakapan.

“Orangtua saya lah, Pak,” katanya polos.

Dengan sudut matanya, Alec melihat ada seorang pria setengah baya duduk di atas motor sambil memperhatikan ke arah toko swalayan tersebut.

Alec berharap, pria tersebut adalah orangtua Si Anak. Ternyata bukan. Ia langsung tancap gas begitu seorang Ibu menghampirinya usai berbelanja dari toko tersebut.

“Emang kamu disuruh orangtua mengemis?” lanjut Alec.

Sadar pertanyaannya agak menjebak, Si Anak buru-buru mengoreksi.

“Bukan Pak. Saya mengemis atas kemauan saya sendiri,” tutur gadis kecil yang mengaku bernama Ida itu.

“Memangnya ayah dan ibu kamu pekerjaannya apa?” lanjut Alec.

“Ayah saya pemulung, Pak. Ibu saya di rumah saja ngurusin si dede (adik bayi),” jawabnya sambil memperagakan orang yang memungut sesuatu dan menyortirnya.

Saat berikutnya ia juga memperagakan aksi seorang  ibu yang sedang memomong bayi di pangkuannya.

“Seusia kamu ini harusnya berada di sekolah, bukan di pasar,” lanjut Alec.

Ia menjawab tidak pernah duduk di bangku sekolah karena terbentur biaya.

“Hari gini masih ada anak Indonesia yang sempat tidak mengecap pendidikan dasar?” batin Alec kurang percaya.

“Coba baca ini, apa katanya di situ,” kata Alec sembari menunjuk ke sebuah stiker yang ditempel di dinding kaca toko swalayan tersebut.

“G, R, A, gra, T, I, S, tis. Gratis!” ucapnya bersemangat.

Semakin Alec yakin bahwa anak itu memang sudah dilatih sedemikian rupa untuk berdusta kepada orang-orang yang dimintai sedekah oleh dia.

Masa anak kecil yang tak pernah duduk dibangku SD bisa membaca sedemikian rupa?

Untuk lebih memastikan dugaannya bahwa Si Anak memang dilatih sebagai pengemis profesional, Alec melanjutkan pertanyaan,

“Kamu sudah berapa jam berada dekat sini. Dan sudah dapat duit berapa?” Tanya Alec.

“Saya sudah sejam-an di sini, Pak, baru dapat duit Rp12 ribu,” paparnya.

Bayangkan, dalam satu jam dia sudah mengantongi Rp12 ribu. Cukup lima jam saja sehari dia mengemis, tiap hari dia sudah membawa Rp60 ribu pulang!

“Minta sedekahnya dong, Pak,” katanya kembali berulang kali.

Sebelum beranjak pergi, Alecpun mengakhiri tanya jawab siang hari itu dengan pernyataan,

“Kalau Bapak beri kamu sedekah, Bapak bukan dapat pahala, tapi justru berdosa,” katanya.

“Lho kok gitu, sih, Pak?” balasnya tidak percaya.

“Kalau Bapak kasih kamu sedekah, kamu pasti akan terus ketagihan mengemis, iya kan? Kalau ada apa-apa sama kamu, Bapak tidak mau ikut menanggung dosanya,” papar Alec.

Sambil beranjak pergi dan iapun menyumpah-nyumpah, “Kalau tahu nggak akan dikasih, saya nggak perlu  duduk lama-lama!”

Yang ia mungkin belum mengerti ialah bahwa sekecil apapun perbuatan, pasti akan diperlihatkan sebab akibatnya di yaum’l hisab nanti.

Sebagian kita mungkin berpikir bahwa memberi sedekah kepada anak jalanan itu adalah perbuatan baik.

Tapi dibalik itu, kita justru membantu memakmurkan kefakiran di negeri ini karena membuat orang nyaman cari jalan pintas dapat duit, yaitu dengan mengemis!

Apalagi, mengeksploitasi anak di bawah umur jelas-jelas melanggar HAM yang berat.

Wallahu’alam

IMG_20170807_164824

 

Advertisements
Minta-minta, antara dilema & kausalitas (bagian 1)

Minta-minta, antara dilema & kausalitas (bagian 1)

Pakaiannya sopan, rapi & tertutup hijab seperti idealnya seorang Muslimah, berdiri tenang seperti patung di depan pintu masuk Kantor Pos Ciriung, Cibinong, Bogor. Kepada setiap pengunjung yang hendak masuk, ia tersenyum, dan disodorinya satu amplop.

Karena buru-buru ada urusan, Alec menerima amplop tersebut sembari berkata, “Nanti saya baca, ya.”

Di dalam kantor pos itu, sembari menunggu namanya dipanggil karena antrian, Alec membuka amplop yang tadi ia terima.

Ternyata di amplop itu tertera permintaan sedekah untuk yayasan panti asuhan. Alec kemudian teringat, tahun lalu di tempat yang sama ia pernah disodori amplop sedekah juga.

Hanya saja bedanya, tahun lalu yang berbeda adalah orangnya, meski sama-sama perempuan, nama dan lokasi yayasan. Tak perlu kritis-kritis amat untuk bisa membaca bahwa kantor pos tersebut telah menjadi lokasi favorit untuk minta sedekah.

Keluar dari kantor pos, sembari menyerahkan amplop yang ia selipi uang seikhlasnya, Alecpun mencoba mengajukan beberapa pertanyaan.

Ternyata benar, ibu tersebut, sebut saja namanya Ita, menunjukkan sejumlah dokumen yang menyatakan ia bekerja sebagai pencari dana untuk sebuah yayasan yatim piatu.

“Ada nih Pak proposal lengkapnya,” kata Ita sambil menyodorkan satu berkas.

Badan hukum jelas, alamat jelas, nama-nama pengurus dan pengelola pun tertera. Itu semua legalitas, yang tentu saja bisa diurus, dan belum menunjukkan fakta kegiatan sesungguhnya.

“Kami tiap malam Jumat ada pengajian. Silakan Bapak datang kalau hendak bersilaturahmi dengan anak-anak yatim piatu yang kami bina,” tuturnya.

Memang, dalam daftar yang  tertera dalam proposal, disebutkan ada sekitar 55 anak yatim dan piatu serta 20 orang dhuafa yang menurut Ita semuanya adalah janda-janda tua.

“Legalitas itu penting kalau yayasan Mbak ingin berurusan dengan bantuan pemerintah. Kalau kita yang partikelir ini, yang penting kegiatannya faktual ada, bukan fiktif,” kata Alec.

Alec menjelaskan bahwa mengasuh yatim piatu termasuk perbuatan besar dan mulia.

“Mbak nggak perlu repot-repot mesti nongkrong di depan kantor pos meminta-minta kepada setiap pengunjung. Kesannya gimana, gitu, jadi kurang sreg aja,” papar Alec.

Selidik punya selidik, ternyata Ita tidak sendirian menjalani usaha penggalangan dana tersebut. Menurut pengakuan dia, ada sekitar 9-10 orang yang disebar di beberapa tempat untuk melakukan hal yang sama.

Sebetulnya, dibekali proposal lengkap itu sudah memadai untuk disebar ke toko-toko yang bertebaran di sepanjang jalan Mayor Oking yang terbentang dari Cibinong hingga Citeureup. Ciriung masuk dalam kawasan ini.

Kenapa hal itu tidak dilakukan dan justru memilih kantor pos sebagai tempat menunggu orang yang keluar masuk sepanjang hari?

Bagi orang awam seperti Alec, harapannya sederhana saja, bagaimana bantuan yang ia berikan, sekecil atau sebesar apapun sampai kepada nawaitu awalnya, anak-anak yatim dan piatu.

“Gini aja Mbak, tolong alamatnya, begitu ada waktu luang saya main ke sana,” tutur Alec.

“Kok kayak mau repot-repot segala. Tinggal kasih aja, yang penting ikhlas, apa susahnya sih?” barangkali begitu pikiran Si Ibu.

Logika tasawufnya nya sederhana saja. Urusan yatim piatu  itu bukan urusan sepele dalam agama. Dan memang, seorang Muslim harus mau repot-repot mengurusinya. Kalau nggak mau repot, mending nggak usah beramal sekalian.

Kausalitasnya, tanpa kita sadari kebaikan dan kemurahan hati kita bisa mendorong orang untuk menjadikan minta-minta sebagai mata pencarian tetap, yang pada gilirannya mendukung mentalitas malas bagi anak bangsa.

Karena itu, jangan heran jaman sekarang minta-minta kerap dijadikan modus dan bahkan isi proposalpun banyak yang fiktif.

Dan, sebagai pewacana kewirausahaan, Alec kerap mewanti-wanti muridnya untuk menghargai setiap sen yang mereka dapatkan dengan susah payah.

“Jangan pelit karena sifat pelit (bakhil) itu merusak, tapi jangan juga boros nanti kalian akan terhina,” kata Alec dalam satu kesempatan tatap muka di kelas.

Islam mengajarkan sikap yang sederhana yakni di tengah-tengah antara keduanya.

Tiap Muslim hendaklah berperilaku fathonah (cerdas) dan amanah dalam mengelola kekayaannya.

Artinya, setiap sen yang yang kita dapatkan atau kita belanjakan hendaklah dilakukan dengan cara yang bertanggungjawab, dari mana dan untuk apa, karena suatu ketika pasti akan ditanya, paling tidak di alam kubur sana.

Bersambung…